Monita Tahalea Mencintai Sastra Sejak Kecil

Monita Tahalea Mencintai Sastra Sejak Kecil
Monita Tahalea membacakan puisi dalam pertunjukan "Tiga Menguak Takdir dalam Melodi", di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu 11 Mei 2019. ( Foto: istimewa )
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 13 Mei 2019 | 14:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mencintai sastra telah dilakukan Monita Tahalea (31) sejak duduk di bangku sekolah. Setelah ia tumbuh menjadi seorang penulis lagu dan penyanyi, tidak ada yang menyangka bahwa inspirasi terbesarnya dalam membuat lirik ternyata berasal dari karya puisi-puisi pujangga Indonesia.

Salah satu buku puisi yang meninggalkan banyak kisah di balik pembuatan album Dandelion (2015) adalah Tiga Menguak Takdir.

Monita menjelaskan, buku tersebut berisikan kumpulan puisi karya para maestro sastra Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani.

"Buku ini mengajak kita untuk menyelami pemikiran perasaan ketiga sastrawan yang datang dari latar belakang berbeda, tetapi menyatu demi mencapai suatu cita-cita yang mereka sebut sebagai suatu tujuan takdir. Lirik dalam lagu yang saya buat adalah bentuk dari interpretasi saya terhadap puisi yang telah saya baca berulang-ulang,” jelasnya.

Tidak ingin menjadi rahasia diri, ia pun mencoba membacakan puisi-puisi terpilih dan menyanyikan beberapa lagu hasil inspirasi itu dalam pertunjukan, Tiga Menguak Takdir dalam Melodi, di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu (11/5/2019).

Monita membacakan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil diiringi dengan melodi akustik lagu Perahu. Kemudian Monita membacakan puisi karya Rivai Apin berjudul Elegi, yang menginspirasinya dalam menciptakan lagu yang berjudul Bisu.

"Saat membaca paragraf pertama puisi Elegi saya langsung jatuh hati. Ada banyak kata dan rasa yang tidak bisa saya sampaikan, tetapi telah lebih dulu disampaikan oleh Rivai. Ternyata apa yang saya pikir, juga beliau pikirkan juga,” sampainya.

Selanjutnya Monita membacakan puisi Melalui Siang Menembus Malam dan menyanyikan lagu terbarunya yang berjudul Jauh Nan Teduh. Selain itu beberapa puisi dan lagu dibacakan dan dinyanyikan secara bergiliran seperti Sajak Buat Adik yang dilanjutkan dengan lagu Sesaat Abadi, puisi Surat dari Ibu dan lagu Hope, Tjerita Buat Dien Tamaela dan lagu Indonesia Pusaka.

Melatih Emosi
Tidak lupa, Monita juga menyanyikan lagu andalannya yang berjudul Memulai Kembali ke hadapan para penikmat seni.

"Pertama kali tampil di depan umum untuk membawakan puisi para maestro sastra Indonesia. Lebih dari sekadar pertunjukan biasa, aku harus melatih emosional di setiap membaca puisi tersebut,” ungkap perempuan berdarah Ambon, Austria, dan Manado ini.

Dirinya pun berharap, pertunjukan sastra dalam melodi yang ia bawakan ini bisa diterima oleh masyarakat luas, terutama para generasi muda. Ia pun menginginkan, agar generasi muda semakin antusias dan tertarik untuk mengenal lebih jauh karya sastra Indonesia.

"Sebagai generasi muda penerus bangsa, kita harus terus mengasah kemampuan dan menggali pengetahuan kita sehingga mampu menghasilkan karya yang tak lekang dimakan usia,” ujar perempuan kelahiran 21 Juli 1987 ini.



Sumber: BeritaSatu.com