Putri Tanjung Belajar Mandiri Sejak Kecil

Putri Tanjung Belajar Mandiri Sejak Kecil
Aktivis generasi muda, Putri Tanjung. ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Minggu, 11 Agustus 2019 | 16:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berawal dari pengalaman sering diejek di bangku sekolah, Putri Indahsari atau yang lebih dikenal dengan Putri Tanjung (23), akhirnya belajar mandiri sejak kecil. Anak dari Chairul Tanjung ini, berusaha membuktikan bahwa ia bisa sukses atas usaha sendiri, bukan karena nama besar orang tuanya.

"Aku di-bully karena aku tinggi dan gendut. Itu sempat menjadi pemicu, yang membuat aku berpikir dan mencari tahu kelebihan dan kemauan diriku,” kata Putri saat ditemui Beritasatu.com, di Jakarta, Sabtu (10/8/2019).

Kemudian saat SMP, ia bangkit dan mengikuti ragam organisasi untuk tabungan ilmu sosialnya. Benar saja, dari organisasi yang ia ikuti, akhirnya Putri menemukan passion yang cocok dengan dirinya.

"Saat umur 15 tahun aku memaksa teman untuk jadi klien pertama birthday party. Senang sekali dan alhamdulillah, gara-gara itu aku mendapatkan Rp 20.000 pertama dari hasil kerjaku sendiri, dan itu rasanya beda banget. Sejak itulah aku ingin menjadi pengusaha," ujarnya.

Setelah Putri menekuni usahanya tersebut, berbagai cobaan datang satu persatu untuk menggoyahkan semangatnya. Beberapa kali ia menangis bukan hanya karena gagal, tetapi karena tidak mampu menahan emosi mendengar sindiran orang-orang di luar sana.

"Serba salah. Kalau aku sukses, orang akan menilai latar belakang keluargaku. Sementara kalau aku gagal, orang akan menilai aku sebagai anak yang tidak kompeten," cerita Putri.

Namun, dengan kondisi seperti itu, ia justru bersyukur memiliki orang tua yang sangat disiplin mendidiknya. Meski tak sepeser pun modal diberikan sang ayah, ia merasa hal inilah yang menjadi penyemangatnya.

"Aku ingat, bapak selalu bilang aku harus bangga pada diri sendiri. Dari situlah, aku jadi semangat dan ingin membuktikan,” jelasnya.

Putri lantas mencoba membangun usahanya kembali, hingga sebuah acara besar bertajuk Creativepreneu Corner untuk generasi muda, sukses digelar.

"Bukan hal mudah, tanpa modal orang tua, tanpa ada dukungan dari perusahaannya juga. Aku bahkan pernah ditolak 30 perusahaan, dibilang gila," ceritanya.

Berkat kegigihannya, saat ini Creativepreneur Corner sudah menginspirasi lebih dari 60.000 orang, di beberapa kota di Indonesia. Ia pun berharap dapat menyebarkan virus enterpreneur kepada generasi muda dengan cara yang menyenangkan.

"Aku sangat optimis, anak muda bisa lebih baik dan lebih maju lagi. Aku akan terus sebarkan semangat enterpreneurship. Untuk menjadi pengusaha sukses kuncinya hanya satu, jangan anti hidup susah. Rugi dan gagal itu biasa,” tegasnya.



Sumber: Suara Pembaruan