Sonia Wibisono dan Chelsea Islan Ajak Perempuan Waspadai Kanker Payudara

Sonia Wibisono dan Chelsea Islan Ajak Perempuan Waspadai  Kanker Payudara
dr.Sonia Wibisono dan Chelasea Islan mendukung kampanye kanker payudara ( Foto: ist / ist )
Mardiana Makmun / MAR Senin, 2 September 2019 | 18:11 WIB

JAKARTA, Beritasatu.com- -- Kanker payudara adalah salah satu jenis kanker tertinggi yang ditakuti setiap perempuan. Data Globocan yang dirilis tahun 2012 menyebut insiden kanker payudara telah dialami oleh 38 dari 100.000 perempuan Indonesia.

Menurut laporan World Health Organization (WHO) yang dipublikasikan pada 2018, dari populasi dunia, 6,6% mencatat pasien meninggal akibat kanker payudara dan 11,6% terdeteksi sebagai kasus baru.

Berdasarkan data tersebut, dr Sonia Wibisono menyatakan kekhawatirannya melihat meningkatnya pasien penderita kanker payudara tahap lanjut di Indonesia. Hal ini terkait bulan kepedulian kanker payudara Internasional yang diperingati setiap Oktober.

Menurut dr Sonia Wibisono, kanker payudara sebetulnya masih bisa diobati jika dapat dideteksi saat stadium awal. Bersama koleganya, artis Chelsea Islan, dr. Sonia mendukung upaya mengkampanyekan cara cegah kanker payudara sejak dini dan menyerukan pentingnya edukasi dan sosialisasi deteksi dini kanker payudara kepada masyarakat secara masif.

“Sangat baik apabila kita bisa meningkatkan pemahaman pentingnya mencegah dan melakukan deteksi dini secara regular,” ujar Sonia Wibisono dalam keterangan tertulisnya.

dr Sonia mewanti-wanti agar para perempuan Indonesia waspada terhadap kesehatan payudaranya lantaran pengalaman pahit menimpa mendiang Ibundanya yang meninggal karena terpapar kanker payudara di usia 53 tahun pada 1998.

"Padahal itu pun sudah dilakukan pemeriksaan payudaranya setahun sekali. Namun bisa jadi karena faktor genetik harus mengalami jenis kanker yang ganas sehingga beliau meninggal dunia karena rusaknya otot jantung karena kemoterapi," ungkap Sonia yang juga dikenal sebagai selebriti dan youtuber ini.

Sonia mengakui, mungkin karena gaya hidup ibunya tidak sehat dan banyak terpapar merokok pasif serta suka mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet. Faktor inilah yang memicu kanker payudara ibunya.

"Belajar dari pengalaman ini, saya mengimbau kepada perempuan-perempuan Indonesia untuk selalu rajin dan rutin meriksa payudaranya dengan cara SADARI atau memeriksa payudaranya sendiri,” saran Sonia.

“Dan diusahakan setahun sekali harus melakukan USG untuk perempuan yang secara genetik sudah ada potensi terserang kanker payudara. Sedangkan untuk usia diatas 40 tahun sebaiknya juga melakukan Momogram setahun sekali, termasuk untuk usia di bawah 40 tahun yang tidak ada genetik kanker sebaiknya tetap saja melakukan USG setiap 2 tahun sekali. Jadi jangan cuma Pap Smear tapi juga USG dan Momogram penting dilakoni. Ini karena deteksi sejak dini sangat penting dilakukan agar pengobatannya bisa lebih tuntas dan diharapkan dapat membantu memperpanjang umur," lanjut dr Sonia.

Sementara itu, Chelsea Islan menegaskan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker payudara adalah dengan rutin berolahraga. Sedikitnya selama tiga jam per minggu.

Untuk itu dirinya bersama dr Sonia Wibisono dan Airyn Tanu ingin membantu dengan cara berkolaborasi dengan Lovepink Indonesia yang di bulan Oktober nanti akan dihelat kampanye pencegahan dini kanker payudara.

"Saya dan Sonia akan membuat p dari batu safir berwarna pink dan nanti hasilnya diberikan untuk edukasi bahaya kanker payudara dan juga memberikan fasilitas pengecekan Momogram. Kita jual pendant itu untuk amal edukasi kanker payudara," jelas aktris film ini.

Virtual marathon

Sonia dan Chelsea telah berkomitmen akan ikut mendukung acara Lovepink, bentuknya bisa dalam bentuk talk show maupun sebagai narasumber.

Lovepink yang dikenal sebagai organisasi nirlaba yang ingin membantu menyelamatkan lebih banyak masyarakat Indonesia dari kanker payudara, pada Oktober yang akan datang akan menggelar fun walk dan pink virtual marathon bertajuk Indonesia Goes Pink 2019.

Menurut dr Sonia Wibisono sebagai olahraga ringan, fun walk ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kanker payudara bersama kerabat dan sahabat. Juga olahraga penting untuk anti stress. Stress dan kepikiran menjadi faktor penting juga sebagai pencetus kanker payudara.

Pink Virtual Marathon, kata dia juga dapat mendorong sosialisasi sekaligus memberikan dukungan moral bagi pasien penderita kanker payudara.

Tahun ini, ada tiga kegiatan yang menjadi rangkaian acara 'Indonesia Goes Pink'. Pertama, acara funwalk dan karnaval bertajuk Passion Pink Walk & Carnival yang akan diadakan pada 6 Oktober 2019.

Dalam kegiatan ini, peserta akan diajak untuk bersama-sama berlari dari Plaza Indonesia menuju Sarinah, kemudian kembali lagi ke Plaza Indonesia. Kedua, acara Pink Pop Up Market yang diselenggarakan pada 19-20 Oktober 2019 di Warehouse Plaza Indonesia.

Acara ini akan diisi dengan bincang-bincang dengan para dokter, pemeriksaan deteksi dini dengan USG, sesi hiburan bagi para penyintas, dan berbagai kegiatan lainnya. Kemudian, tahun ini, Lovepink juga membuat terobosan baru. Sebelumnya, mereka mengadakan maraton Indonesia Goes Pink Run untuk menunjukkan dukungan; payudara di tahun 2018. Dalam kegiatan ini, para partisipan akan diajak untuk berlari maraton sejauh 42,2 km.

Partisipan boleh 'mencicil' dengan cara berlari setiap hari. Tak cuma itu, mereka juga bisa berlari secara beregu, dengan jumlah anggota dua atau empat orang. Sehingga, jarak total maraton yang berjumlah 42,2 km bisa dibagi dengan anggota lain yang ada dalam regu tersebut.

Bila satu regu berisi dua orang, maka partisipan dapat membagi beban dengan berlari masing-masing sekitar 21,1 Km. Sementara, grup beranggotakan empat orang bisa membagi jarak 42,2 Km menjadi sekitar 10 Km per orang.

Uniknya, maraton virtual ini tidak hanya dapat diikuti oleh mereka yang tinggal di Indonesia saja. Orang-orang yang tinggal di Australia, Brunei, Malaysia, Arab Saudi, Singapura, Turki, Amerika Serikat, serta Vietnam, juga bisa mengikuti kegiatan tersebut.