Menguak Benang Merah Sejarah Indonesia-Korea Dalam Seni

Menguak Benang Merah Sejarah Indonesia-Korea Dalam Seni
Seorang pengunjung wanita tengah memotret karya milik Sunah Choi bertajuk Menulis Kembali Jejak Naratif dalam pameran "Kisah Dua Kota: Arsip Naratif dari Ingatan", yang diselenggarakan di Galeri Nasional, 13-29 September 2018. ( Foto: dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 14 September 2018 | 15:48 WIB

Jakarta - Sejarah panjang hubungan antara Indonesia-Korea tertuang indah dalam pameran karya bertajuk "Kisah Dua Kota: Arsip Naratif dari Ingatan", yang diselenggarakan di Galeri Nasional, sejak 13-29 September 2018.

Dalam pameran, tertuang benang merah sejarah dan pengalaman pararel Indonesia-Korea. Dikatakan sang kurator, Sunyong Oh, dalam pameran menyandingkan berbagai arsip sejarah Indonesia dan Korea. Bahkan lebih dalam lagi, pameran berusaha menyingkap dan mengeksplorasi perbedaan antara realitas dan ilusi, komunitas dan individu, serta catatan objektif dan terjemahan artistik.

“Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda pada 17 Agustus 1945, sedangkan Korea merdeka dari penjajahan Jepang pada 15 Agustus 1945. Setelah merdeka, kami merasa Indonesia dan Korea memiliki persamaan pola pikir. Gambaran sejarah modern Korea dan Indonesia juga kebetulan berjalan bersamaan,” ungkap Sunyong Oh saat media tur, Kamis (13/9).

Melalui pameran, masyarakat dipacu untuk menggali ingatan mengenai kisah sejarah dan fakta yang terlupakan lewat karya seni instalasi yang tercipta dari tangan para seniman Korea dan Indonesia. Di antaranya Forum Lenteng (Jakarta), Irwan Ahmett & Tita Salina (Jakarta), Jatiwangi art Factory (JaF) + Badan Kajian Pertahanan (Jatiwangi), Mixrice (Seoul), Sulki & Min (Seoul), dan Sunah Choi (Busan, Berlin).

Karya yang dipamerkan pun beragam berdasarkan hasil riset para seniman di Korea. Contohnya adalah karya The Flower Diplomacy atau Diplomasi Bunga dan juga The Flower Currency atau Bunga Mata Uang, oleh Irwan Ahmett dan Tita Salina.

Diketahui, pasangan seniman Indonesia ini sebelumnya telah melakukan riset mendalam di daerah seperti Ansan dan Cheolwon di Korea dari awal Juli tahun lalu.

Tita menjelaskan karya The Flower Diplomacy merupakan sebuah instalasi bunga Anggrek ungu yang disimpan dalam wadah botol kaca bening berisikan air. Karya tersebut sebagai pengingat bapak bangsa Indonesia, Soekarno, yang sempat berusaha memikat hati pimpinan Korea Utara, Kamilsung untuk mendukung Indonesia melawan hegemoni ideologi barat di kawasan Asia.

"Karya ini bukan sekadar memenuhi hasrat kesenian saja. Namun, kami ingin memberi harapan dan jalan lebih luas dengan cara menawarkan sebuah imajinasi akan hubungan dari masa lalu, masa kini, dan masa depan yang tidak pasti, dengan simbol sekuntum bunga,” ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan