Mengenang Cerita Rakyat di Teater Musikal Bunga untuk Mira

Mengenang Cerita Rakyat di Teater Musikal Bunga untuk Mira
Para pendukung teater musikal "Bunga untuk Mira", berfoto bersama usai jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Senin 26 November 2018. ( Foto: Dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 27 November 2018 | 12:43 WIB

Jakarta - Sebuah pergelaran pop musikal berjudul Bunga untuk Mira segera digelar pada 22 dan 23 Desember, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Disutradarai oleh Mia Johannes, pertunjukan ini rupanya terinspirasi dari cerita rakyat, Bawang Merah & Bawang Putih.

Mia menjelaskan, Bunga untuk Mira berbeda dengan teater musikal pada umumnya. Tidak hanya sekadar mengadaptasi cerita, Mia juga menyajikan teater musikal dengan berbagai konflik, mulai dari cinta, ambisi sampai kematian yang akan dibalut dalam kemasan kekinian.

"Adaptasi legenda dari Bawang Merah dan Bawang Putih ini adalah adaptasi bebas yang saya balut dalam imajinasi fiksi ilmiah. Saya pun mengganti nama dua tokoh utama menjadi Mira dan Puti. Meskipun diadaptasi secara bebas, agar bisa diterima banyak orang, saya juga akan mengaitkan benang merah kisah yang sama dengan cerita aslinya,” jelas Mia saat jumpa pers Bunga untuk Mira, di kawasan Jakarta Pusat, Senin (26/11).

Demi merealisasikan ide cemerlangnya itu, Mia menggandeng beberapa seniman, yang telah terbiasa wara-wiri di berbagai konser dan seni pertunjukan. Sebut saja musisi muda Mondo Gascaro, yang akan menangani musik.

Menurut Mia, Mondo adalah salah satu musisi yang memiliki ide dan mampu membuat karya-karya yang cerdas. Bahkan, untuk menggarap proyek ini, Mondo berusaha membuat lagu-lagu dan aransemen musik baru, dengan rekannya Indra Prakarsa. Diketahui, pembuatan musik dimulai dari bulan April, dan masih terus berkembang sampai akhir November ini.

"Nantinya pertunjukan akan berlangsung live orkestra, begitu pula dengan nyanyian dari pemain. Untuk menggarap pertunjukan ini, saya ingin menghadirkan tradisi musikal broadway. Saya dibebaskan memberikan sentuhan apapun, mulai dari modern, pop dan sampai dark. Saya pun menyebutnya, jaz fantasi,” terangnya.

Nada Jaz
Menurut Mondo, karya tersebut nantinya akan sangat kental dengan nada-nada jaz. Lebih dari itu, ia yakin dapat membuat komposisi yang akan menggelitik hearing sense dari para penonton, karena berbau nada-nada minor yang ia tuangkan di setiap karyanya.

Sedangkan untuk koreografer, Mia juga memilih orang tepat untuk menangani pertunjukan ini. Ia adalah koreografer muda bernama, Ufa Sofura.

"Setelah pulang dari New York saya memiliki lebih banyak imajinasi. Di sana saya belajar, bagaimana belajar banyak, salah satunya membuat teknik tari yang simpel dan mudah, tetapi terlihat menawan dan bisa dinikmati oleh penonton. Nanti, teknik itu juga yang akan saya terapkan di pertunjukan ini,” ungkap Ufa.

Selanjutnya, hal yang tidak kalah penting adalah pemilihan pemain. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi Mia, Mondo, dan juga Ufa. Pasalnya, pemain yang terpilih haruslah orang-orang yang memiliki paket lengkap. Tidak hanya pintar berakting, tetapi juga harus memiliki suara yang bagus dan mahir menari.

Untuk itu, terpilih setidaknya delapan pemain yang terdiri dari beragam profesi. Mereka adalah Shae (penyanyi) Daniel Adnan, Dea Panendra, dan Johan Yanuar.

Aktor sekaligus presenter, Johan Yanuar mengatakan Bunga untuk Mira adalah panggung pertamanya. Menurutnya, teater musikal adalah salah satu pekerjaan yang paling ia nanti-nantikan.

"Saat mendapat tawaran, saya membaca naskah, kemudian tertarik karena karakter yang saya mainkan unik dan menantang. Saya pun sadar, sebagai seorang aktor, kita tidak bisa hidup terus dalam satu karakter, dan tidak boleh berhenti untuk berkarya,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE