30 Tahun Melukis, Sasya Merangkumnya dalam Buku

30 Tahun Melukis, Sasya Merangkumnya dalam Buku
Pelukis Sasya Tranggono dengan buku karyanya berjudul "Faith The Art of Sasya Tranggono". ( Foto: Beritasatu / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / HA Kamis, 13 Desember 2018 | 13:12 WIB

Jakarta - Setelah tiga dekade Sasya Tranggono menumpahkan segala ide dan kisahnya dalam kanvas dihiasi cat warna, kini saatnya tinta dan kertas menjadi wadahnya. Sebuah buku perdana bertajuk "Faith The Art of Sasya Tranggono" di Menara Mandiri, Jakarta Selatan, Rabu (12/12).

Buku ini bagi Sasya merupakan rangkuman perjalanan 30 tahun melukis dan juga sebagai warisan kisah kepada generasi mendatang. Karena dalam buku ini, terdapat kisah perjuangan seorang perempuan dengan senjata cat air yang mampu berdiri sendiri dan menjadi duta bangsanya.

“Saya ingin, buku ini bisa menjadi jendela generasi muda untuk melihat usaha jerih payah perempuan Indonesia bisa berkeliling dunia melalui seni rupa. Karena, saat ini saya melihat banyak seniman perempuan yang stuck, dan sejarah hanya mencatat jerih payah kisah seniman laki-laki dari dulu hingga kini, sehingga mereka bisa maju,” jelasnya kepada para pewarta sebelum peluncuran buku dimulai.

Dia juga bercerita buku yang didesain dan dipublikasikan oleh Afterhours itu disusun dalam waktu dua tahun, dan terinspirasi oleh keluarga. Bagi Sasya, keluarga merupakan inspirasi yang tidak kelihatan, tetapi selalu tertuang dalam setiap karyanya yang bertema keluarga.

"Perjalanan buku ini juga melewati peristiwa-peristiwa yang menyedihkan, tetapi kesedihan itu juga menjadi titik balik untuk mendapatkan dan memperjuangan kekuatan dalam hidup saya. Itulah mengapa kemudian judulnya Faith," kata anak pertama pasangan Dokter Suharto Tranggono dan Dokter Retno IS Tranggono, pendiri Ristra itu.

Sasya adalah lulusan jurusan teknik industri Syracuse University di New York, AS dan penyandang gelar master of business administration (MBA) dari Rotterdam School of Management di Erasmus Universiteit, Belanda. Setelah menjajal beberapa pekerjaan, hatinya ternyata berlabuh pada seni.

Hidup ini sudah sulit, jadi saya ingin menggambar kehidupan yang indah-indah saja.

Sejak saat itu, dirinya mendedikasikan waktu dan kapasitasnya sebagai pelukis profesional. “Saya tidak akan pernah pensiun dari pekerjaan ini. Masih lama waktu untuk itu,” terangnya dengan yakin. Dia pertama kali menggelar pameran tunggal berjudul Focus 99 pada 1999 di Cipta Merkurius Gallery, Jakarta.

Terkait lukisan yang sudah dikoleksi pesohor baik dalam dan luar negeri, Sasya membagi karyanya dalam tiga fase. Yang pertama secara sederhana adalah fase wayang karena pada tahap itu obyek lukisannya sosok wayang golek.

Kemudian yang kedua dan yang ketiga adalah fase bunga karena ia mengeksplorasi berbagai jenis bunga dan fase kupu-kupu. Kupu-kupu baginya merupakan pembaruan budi yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Dalam setiap lukisannya, Sasya tidak hanya menumpahkan ragam cat air berwarna pastel dalam lukisannya. Dirinya pun mencampurkan berbagai pernak-pernik seperti manik-manik, hiasan batu koral, kerang, turquis, dan juga gliter warna-warni yang membuat karyanya terlihat mewah dan elegan. Terbukti, beberapa karyanya telah menjadi koleksi orang-orang penting dunia, salah satunya adalah mantan Presiden Filipina Corazon Aquino.

“Saya adalah seorang pemberontak. Saya tidak mau seperti seniman lain, melukis tentang kehidupan yang runyam dan berliku. Saya tidak mau seperti itu, toh hidup ini sudah sulit, jadi saya ingin menggambar kehidupan yang indah-indah saja. Bahkan saya tidak peduli, saat saya dijuluki sebagai seniman sosialita karena karya-karya saya yang selalu terlihat indah,” jelasnya.

Ibu satu anak itu juga memberikan padangannya terkait dengan perkembangan perkembangan seni rupa di Indonesia dan peluang perupa perempuan untuk berkarya. Dia berpendapat, perkembangan seni di Indonesia sudah cukup baik terbukti dengan berdirinya museum pribadi seperti Museum MACAN, Akili dan masih banyak lagi.

Kemudian juga banyaknya event seperi Venice Bienalle, Art Bazaar dan lain-lain. Peluang perupa Indonesia sebenarnya juga cukup besar tetapi banyak yang masih terkendala dengan domestic affairs, tugas perempuan sebagai istri, ibu, serta urusan dan pekerjaan rumah tangga.

“Semua bisa dilakukan perempuan. Saya bisa membesarkan anak sambil berkarya. Usai menjadi ibu dan menemani anak belajar sampai terlelap, barulah saya kembali mulai berkarya di atas jam 10 malam. Hal ini rutin saya lakukan, dan saya bisa,” tukasnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE