Galeri Nasional Ingin Menjadi Pusat Seni Indonesia

Galeri Nasional Ingin Menjadi Pusat Seni Indonesia
Festival Bebas Batas diselenggarakan pada 12 -29 Oktober 2018 di Gedung Galeri Nasional, Jakarta Pusat. ( Foto: Beritasatu.com/Chairul Fikri )
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 14 Desember 2018 | 13:15 WIB

Jakarta - Sebagai institusi budaya yang berdiri sejak 1998, Galeri Nasional Indonesia (GNI) memiliki cita-cita besar di 2019. Salah satunya sebagai pusat dokumentasi dan riset seni rupa di Tanah Air yang saat ini tengah dikerjakan tim GNI dan kurator.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayan, Kemendikbud, Sri Hartini mengatakan, cita ini bisa segera terwujud apabila GNI bisa merangkul semua lapisan masyarakat bergandeng tangan untuk membuat sebuah ekosistem yang kuat. Hal ini sangat penting untuk mendukung berbagai program dan kegiatan GNI, seperti melaksanakan pengkajian, pengumpulan, pelestarian, perawatan, pengamanan, kemitraan, edukasi, pembinaan dan publikasi berbagai karya seni rupa.

"Saya memberikan apresiasi tinggi, karena GNI terus berupaya menjalani fungsi dan tanggung jawab dengan baik. Namun, kembali ke soal seni, kami sebetulnya sudah lama punya mimpi besar, galeri ini dijadikan sebagai pusat. Kita tidak patah semangat untuk memperjuangkan itu. Galeri ini akan disulap menjadi pusat kebudayaan. Galeri Nasional ini bukan punya pemerintah, tetapi milik masyarakat,” ungkap Sri di acara Kaleidoskop 2018 dan Peluncuran Program 2019 GNI, di Jakarta Pusat, Kamis (13/12).

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto juga mengatakan hal serupa. Tahun depan merupakan waktu untuk GNI berproses menjadi pusat dokumentasi dan riset seni rupa di Indonesia. Dengan segala pekerjaan rumah yang diberikan untuk membangun sebuah ekosistem, sejak 2018 GNI pun berupaya membuat aneka ragam program untuk meningkatkan apresiasi masyarakat di bidang seni rupa serta mewadahi potensi seniman untuk menggelar karya-karya dengan prinsip kurasi dan manajemen pameran yang baik.

"Galeri Nasional tugasnya bukan sebagai tempat pameran tapi bagaimana masyarakat datang ke sini untuk menjadi pusat dokumentasi dan riset tentang seni rupa. Lebih dari itu, kita juga ingin Galeri Nasional menjadi rumah berkarya bagi kawan-kawan seniman,” terangnya.

Pengunjung Naik
Sepanjang 2018 GBI telah melaksanakan tugas dan fungsi yang diwujudkan dalam berbagai program, di antaranya pameran, pelayanan edukasi, publikasi, kemitraan seputar karya seni rupa dan eksistensi GNI, perawatan koleksi (konservasi dan restorasi), serta akuisisi dan hibah.

Pada pameran tetap, GNI menampilkan sekitar 115 dari 1.890 karya koleksi permanen GNI yang menjadi koleksi negara. Karya yang dipamerkan telah melalui kurasi oleh kurator GNI, yaitu Suwarno Wisetrotomo, Citra Smara Dewi, Bayu Genia Krisbie, dan Teguh Margono. Pameran ini telah dikunjungi dan diapresiasi oleh 97.025 pengunjung. Sedangkan sebanyak 27 pameran temporer (pameran tunggal ataupun bersama) telah dilaksanakan dengan baik di GNI dengan menampilkan 1.637 karya hasil olah artistik 801 seniman, baik dalam maupun luar negeri.

Salah satu program utama GNI yang paling banyak mendulang apresiasi adalah pameran seni koleksi Istana Kepresidenan Indonesia yang mengusung tema "Indonesia Semangat Dunia", yang berlangsung Agustus lalu. Bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia dan penyelenggaraan Asian Games 2018.

Pameran tersebut sukses dikunjungi publik dengan angka 36.570 pengunjung. Posisi kedua ada pameran Manifesto 6.0 yang menarik sebanyak 16.893 pengunjung. Serta posisi ketiga ada pameran pokok Di Ambang Batas dengan jumlah pengunjung 10.125.

Dengan demikian, Pustanto menjelaskan tahun ini total jumlah pengunjung di 2018 mengalami kenaikan. Secara tertulis ada 274.523 kenaikan dari sebelumnya, di tahun 2015 yang 115.000, tahun 2016 ada 231.000 (naik 100%), 2017 naik 5,89% dengan total pengunjung 245.403, dan di 2018 naik 11,87%.

"Peningkatan jumlah pengungung ini juga dikarenakan GNI telah gencar melakukan publikasi secara digital. Saat ini sudah masuk era milenial di mana sosial media menjadi sumber informasi tercepat dan sangat efektif membantu mensosialisasikan dan merespon keinginan masyarakat,” terang Pustanto.

Ditekankan Pustanto, nantinya segala program yang telah atau akan berlangsung bisa diharapkan menjadi barometer mutu perkembangan seni rupa Indonesia mutakhir, sekaligus berfungsi menjadi fasilitator bagi para perupa Indonesia dalam hubungan Internasional.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE