Nyanyi Sunyi Revolusi, Belajar Memaafkan dari Amir Hamzah

Nyanyi Sunyi Revolusi, Belajar Memaafkan dari Amir Hamzah
Sebuah adegan pementasan teater bertajuk Nyanyi Sunyi Revolusi di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Jumat (1/2/2019) malam. ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Mardiana Makmun / MAR Sabtu, 2 Februari 2019 | 23:37 WIB

Jakarta - “Siapa yang akan diselamatkan? Aku atau mereka?” tanya Amir Hamzah bergetar.

Pertanyaan penyair Amir Hamzah, Raja Pujangga baru, dalam lakon teater berjudul 'Nyanyi Sunyi Revolusi' di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta, Jumat (½) itu begitu menohok. Amir kah yang diselamatkan atau justru kepentingan politik Belanda yang ber-cincai dengan Kesultanan Langkat?

Menonton pentas teater Nyanyi Sunyi Revolusi produksi Titimangsa Foudation ke-39 yang didukung Bakti Budaya Foundation itu, penonton diselipi banyak nilai-nilai, termasuk cinta Indonesia, ikhlas, sabar, memaafkan, kesetiakawanan, dan balas budi. Nilai-nilai tersebut dibungkus dalam pentas kisah hidup penyair Amir Hamzah (diperankan aktor Lukma Sardi). Termasuk kisah cintanya dengan teman sekolahnya di AMS Solo, Ilik Sundari (diperankan pemain teater Sri Qadariatin) dan kematiannya yang tragis.

Sutradara Iswadi Pratama dari Teater Satu Lampung, yang mengarahkan cerita ini, menggunakan pola flashback. Lalu melompat ke depan, mundur lagi, lalu melompat lagi ke akhir cerita. Meski demikian, Iswadi cukup piawai mengolah adegan per adegan menjadi cerita yang bisa dinikmati.

Kisah dimulai dari Amir Hamzah kecil. Bocah bangsawan Langkat itu bernama asli Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera. Amir kecil rajin berlatih silat dan mengaji di surau. Filosofi silat:menangkis/bertahan bila diserang, tidak menyerang lawan lebih dulu, sabar, dan memaafkan, meresap ke dalam pribadi Amir Hamzah.

“Amir Hamzah tidak menyisakan bagi kita sebuah pernyataan atau tulisan yang membakar dan mampu menggerakkan massa dalam jumlah besar untuk melawan atau menentang. Amir menyisakan dua kata bersahaja yang berguna bagi kita yang hidup saat ini, yakni memaafkan dan mencintai. Di antara gelombang revolusi sosial yang berkecamuk, Amir tetap tampil sebagai seorang penyair, seorang suami, dan seorang ayah yang lembut dan semata-mata ingin melindungi keluarganya dengan cinta dan rasa percaya yang begitu teguh pada kebajikan,” kata Iswadi Pratama yang karya terbarunya banyak dipentaskan bersama Teater Satu di Jepang dan Australia.

Meski cerita tragis, karena kisah cinta Amir Hamzah pada kekasihnya, Ilik Sundari tak sampai. Lalu Amir dipaksa kawin dengan Tengku Kamaliah (diperankan pemain teater Dessy Susanti), puteri Sultan Mahmud demi melanggengkan kekuasaan kesultanan dan Belanda. Hingga Amir pun mati disiksa dan dipenggal akibat revolusi rakyat yang dikompori PKI. Namun, sejumlah adegan dan dialog berhasil membangkitkan tawa penonton. Membuat Nyanyi Sunyi menjadi tidak sunyi.

Amir Hamzah merupakan salah satu keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat, sebuah kerajaan yang pada masa Hindia Belanda terletak di Sumatera Timur. Lewat kumpulan puisinya Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941) memposisikan nama Amir Hamzah sedemikian penting dalam kesusasteraan Indonesia. H. B. Jassin menyebutnya “Raja Penyair Pujangga Baru”. Selain sebagai penyair, Amir Hamzah juga dikenal sebagai salah seorang yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

“Amir Hamzah merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan bahasa Indonesia dan kecintaannya akan bahasa Indonesia dapat dilihat dari dukungannya kepada Sumpah Pemuda yang baru berumur dua tahun dan komitmennya untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai pertemuan dan kehidupan sehari-hari. Kiprah Amir Hamzah inilah yang harus disebarluaskan kepada generasi saat ini. Melalui pementasan ini, harapan kami masyarakat Indonesia menjadi lebih bangga pada bahasanya dan khazanah sastra Indonesia agar bisa menjadi sumber untuk menggali identitas dan peradaban suatu bangsa,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Foundation.

Selain alasan di atas, ternyata sajak-sajak sang penyair yang syahdu, juga menjadi alasan Happy Salma memproduksi pentas ini. “Sudah lama saya jatuh hati pada sajak-sajak Amir Hamzah yang syahdu, penuh dengan kesenduan, tetapi juga dengan kuat mengungkapkan banyak lapisan baru dalam karya puisi pada jaman itu. Selain sebagai penyair, Amir Hamzah juga punya peran besar dalam lahirnya Republik Indonesia. Saat masih sekolah di AMS Solo, Amir sudah aktif bersama teman-teman sekolahnya dalam berbagai perkumpulan pemuda seperti Jong Sumatera, dan Amir tergabung juga dalam perkumpulan ‘Indonesia Moeda’ yang menyuarakan kesadaran nasionalisme melawan kolonialisme Belanda,” ujar Happy Salma, produser pementasan dari Titimangsa Foundation.

Naskah pementasan ini ditulis oleh Ahda Imran, penyair yang juga dikenal menulis sejumlah naskah panggung. “Kekuatan karya Amir Hamzah terletak pada estetika bahasa yang merdu, menggali kata dari berbagai khazanah bahasa lama, terutama Melayu, tapi dengan makna yang lebih segar, baru dan sesuai dengan semangat jaman saat itu, ketika modernisme kian tumbuh jadi kesadaran dalam sastra dan budaya. Sajak-sajak Amir memberi darah baru pada yang lama,” ujar Ahda Imran.(nan)



CLOSE