21 Perempuan Merajut Masa Depan

21 Perempuan Merajut Masa Depan
Sebanyak 21 perupa perempuan hadir untuk mensinergikan seni, teknologi, dan ilmu pengetahuan. 21 karya instalasi dipamerkan dalam Indonesian Women Artists: Into the Future pada 26 Februari-16 Maret 2019, di Gedung A Galeri Nasional Indonesia ( Foto: dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Rabu, 27 Februari 2019 | 16:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebanyak 21 karya instalasi karya para perupa perempuan dipamerkan dalam Indonesian Women Artists: Into the Future. Pameran yang berlangsung pada 26 Februari-16 Maret 2019, di Gedung A Galeri Nasional Indonesia ini dikuratori oleh Carla Bianpoen dan Citra Smara Dewi.

Menurut Carla, pameran ini menandakan arah kekaryaan seni rupa ke depan, di mana roh perempuan menjadi primadona dalam menentukan seni rupa baru, atau seni rupa kekinian atau bisa juga disebut now art.

"Diliputi roh perempuan, dan diperkuat dengan teknologi baru serta penemuan ilmu yang mutakhir, karya-karya dalam pameran ini menandakan semangat hari ini menjelang hari esok,” terangnya pada press tour pameran Indonesian Women Artists: Into the Future, Selasa (26/2/2019).

Beberapa isu dan tema yang digarap mungkin sama dengan yang terdapat sebelumnya, yaitu konstelasi dunia. Karya karya mereka berbicara mengenai identitas, frustrasi, kegetiran, kedukaan, kritik dan keprihatinan intens mengenai keadaan sosial dan lingkungan.

"Biasanya kegetiran digambarkan dengan sesuatu yang gelap. Namun, karya-karya yang telah diliputi oleh roh perempuan menekankan pada rasa dan sensitivitas yang khas perempuan. Terinspirasi dari titik baik, roh perempuan, akan memberikan optimisme dengan pemberian warna-warna cerah,” terangnya.

Dirinya pun menjelaskan, 21 perupa perempuan dipilih berdasarkan pertimbangan konsep berkarya out of the box dengan semangat berkarya yang sangat kuat. Seperti yang dilakukan oleh Cecilia Patricia Untario yang membuat instalasi sunyi bertajuk Silent 2.

Tabu
Cecilia, perupa kelahiran 1984 ini menyentuh secara mendalam pada kehidupan perempuan hari ini, di mana pendidikan seks masih sangat tabu di Indonesia. Ide karyanya diadaptasi dari bentuk kondom modern yang terbuat dari bahan kaca yang berbentuk unik dan berbeda satu sama lain yang diharapkan bisa terkesan fun. Namun, di baliknya material kaca justru menampakan kesan fragile dan tajam, sehingga bisa menyakitkan.

"Dua hal ini saya bawa untuk menghadirkan pesan bahwa membicarakan seks bukanlah diskusi terlarang, melainkan dapat membantu masyarakat untuk semakin lebih memahami arti sesungguhnya dari seks. Pendidikan seks dapat membuat manusia lebih menghargai arti reproduksi, bukan hanya sekadar fokus pada sisi ekploitasi saja,” terang Cecilia.

Masih terus berfokus pada rasa kekhawatiran dari masa lampau untuk masa depan, Theresia Agustina Sitompul perupa kelahiran 1981 juga sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi antara manusia dan alam. Rasa prihatinnya ditunjukkan melalui karya instalasi Menabur Benih, sebagai ungkapan mendesaknya proses menyembuhkan luka tersebut.

Karya didahului dengan menyelesaikan masa lalu. Sebuah instalasi berupa sederet instalasi ini menggunakan media kain kasa hidrofil dengan proses teknik linocut. Kain kasa dipilih karena selalu digunakan sebagai salah satu alat penyembuhan ketika tubuh terkena luka.

Kemudian, perupa bernama Octora juga turut percaya bahwa melanjutkan ke masa depan perlu penyelesaian masa lalu. Instalasi berupa ubin keramik bertuliskan kata-kata kunci yang merujuk pada aksi 1965 terhadap komunisme dan terikat dalam judul Kuburan Kata.

Karya ini menandakan waktu yang panjang telah berlalu tanpa penyelesaian yang jelas mengenai ketidakadilan yang mengerikan. Tetapi dalam menanggapi kesuraman, Octora menciptakan karya lain sebagai respons



Sumber: BeritaSatu.com