Penggalan Puisi Dirajut dalam Pentas Musikal "Cinta Tak Pernah Sederhana"

Penggalan Puisi Dirajut dalam Pentas Musikal
Reza Rahadian (tengah) sedang menjelaskan keterlibatannya dalam konser musikal ?Cinta Tak Pernah Sederhana? kepada wartawan dalam jumpa pers yang digelar di Jakarta, Jumat (8/3/2019). ( Foto: istimewa / istimewa )
Dina Fitri Anisa / IDS Sabtu, 9 Maret 2019 | 12:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - 100 judul puisi dari pujangga kebanggan Indonesia telah dirajut menjadi sebuah naskah konser musikal bertajuk Cinta Tak Pernah Sederhana. Diproduksi oleh Titimangsa Foundation dan Balai Pustaka, pertunjukan tersebut siap digelar pada 16 dan 17 Maret 2019 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Founder Titimangsa Foundation sekaligus produser pertunjukan, Happy Salma mengatakan, konser musikal ini diselenggarakan sebagai upaya untuk selalu menghidupkan karya sastra Indonesia sehingga pembentukan karakter dan kecintaan pada Tanah Air semakin nyata.

“Indonesia banyak memiliki penyair yang puisi-puisinya menjadi sebuah penanda perkembangan intelektual bangsa. Puisi-puisi cinta yang indah yang ditulis oleh para penyair Indonesia akan menjadi ‘angin keindahan yang menyejukkan'. Pementasan ini akan membuat kita kembali saling mencintai dengan indah, meski tak sederhana,” jelas Happy, saat jumpa pers di Aula Istana Peradaban Balai Pustaka, Jakarta Timur, Jumat (8/3).

Dalam penggarapannya, Happy mempercayakan Agus Noor untuk menjadi sutradara dan penulis skenario. Dia lah orang yang berhasil merajut ratusan penggalan puisi dari 26 penyair yang kemudian dijadikan dialog dalam pementasan ini.

“Prosesnya sebenarnya tidak begitu sulit, karena saya hobi membaca puisi. Namun, saya harus menemukan puisi-puisi yang memiliki makna dan ungkapan yang pas, untuk disatukan percakapan atau dialog, nyanyian dan diwujudkan ke dalam tata visual yang indah dan megah, dalam bentuk konser musikal. Jadi nanti lebih meriah, bisa dibilang seperti broadway,” jelasnya.

Kepada Beritasatu, Agus pun menuturkan, pertunjukan nanti akan dibagi menjadi empat babak. Awalnya, dari pertemuan tokoh Adam (Reza Rahadian), dan Hawa (Marsha Timothy) yang kemudian turun ke bumi, menjelma menjadi seorang penyair (Teuku Rifnu Wikana).

Di bumi, kehidupan sang penyair rupanya diliputi berbagai persoalan. Salah satunya saat sang penyair dipertemukan dengan perempuan malam (Atiqah Hasiholan), perempuan berhati malaikat (Chelsea Islan), sekaligus pemuja rahasia (Sita Nursanti) yang ternyata sangat mencintainya.

“Ide cerita dari pementasan ini menggambarkan bagaimana manusia menjadi terasing, jauh dari bumi, dan merindukan puisi. Yang sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini adalah ketika manusianya makin terasing karena terjadi bermacam perubahan nilai, goncangan sosial bahkan disrupsi nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Ketika politik menguasai ruang publik, ketika politik sudah begitu membuat masyarakat tegang, maka puisi bisa menjadi angin penyejuk yang menyegarkan,” ungkapnya.

Agus mengatakan, penggarapan konser musikal yang berakar dari penggalan puisi-puisi pujangga ini ternyata lebih sulit daripada menggarap teater yang diangkat dari novel sastra. Agus harus lebih hati-hati dalam mendirikan sebuah dialog, bahkan sampai mengecek satu per satu kata puisi yang ia rajut.

“Ini juga menjadi tantangan terberat para pemain. Mereka di sini bukan hanya berakting, tapi juga mereka diuji untuk dapat mengucapkan puisi menjadi terlihat wajar dan seperti dialog pada umumnya. Sesuatu yang bila tidak hati-hati, seperti pengucapan ‘tak’ dan ‘tidak’ saja sudah salah dan berbeda dari puisi yang telah tercipta. Kemudian, jika mereka juga tidak teliti, dialog dari penggalan puisi akan terdengar seperti sekadar deklamasi puisi. Pertunjukan seperti ini nyaris tak pernah ada sebelumnya,” jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan