Pameran Lukisan "Warna-warni Duniaku", Eksistensi Anak-Anak Autis

Pameran Lukisan
Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI) Melly Budhiman (kiri) bersama Andio (16) peserta pameran lukisan bertema "Warna-warni Duniaku" yang digelar di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Asni Ovier DP )
Asni Ovier / AO Kamis, 4 Juli 2019 | 23:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ada yang berbeda pada pameran lukisan yang digelar di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (4/7/2019). Suasana hiruk pikuk berlangsung selama pameran berlangsung, tidak seperti pameran-pameran lukisan lainya, yang biasanya hening.

Bahkan, suasana sore menjelang malam hari itu ramai oleh tawa anak-anak. Bahkan, ada di antara anak-anak itu yang berlari-larian seolah tak peduli dengan sekitarnya. Meski demikian, suasan akrab tetap tercipta di ruang pamer Bentara Budaya itu.

Anak-anak yang membuat suasana ramai itu adalah para seniman, pelukis, yang menampilkan karya-karya mereka. Anak-anak itu yang memamerkan karya lukis mereka dengan tema “Warna-warni Duniaku” itu adalah para penyandang autisma. Melalui karya seni lukis, mereka seolah ingin menunjukkan eksistensi diri.

Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI) Melly Budhiman mengatakan, pameran lukisan itu memiliki arti besar bagi anak-anak autis. “Pameran ini menunjukkan bahwa mereka bisa berkarya bila diberi kesempatan,” ujar Melly saat memberikan sambutan pembukaan pameran.

Menurut Melly, dengan memamerkan karya seni, para anak autis bisa semakin percaya diri. Apalagi, kata dia, selama ini anak-anak autis masih dianggap sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. “Acara seperti ini memberi mereka kesempatan untuk bisa tampil dan menunjukkan eksistensi mereka kepada masyarakat Indonesia,” kata dia.

Politisi yang juga aktivis autisma, Muhammad Farhan mengatakan, ketika pertama kali mengenal dunia autisma sekitar 20 tahun lalu, dirinya menganggap dunia itu hanya hitam dan putih, iya atau tidak. Namun, seiring perjalanan waktu, dia akhirnya menyadari bahwa dunia autisma itu sangat penuh warna-warni.

“Ketika mereka berkumpul, penuh dengan ekspresi. Saya sadar bahwa justru autisma ini bagian dari keberagaman Indonesia. Keberagaman ternyata tidak hanya soal perbedaan suku, agama, ras, atau golongan saja,” ujar Farhan.

Manajer Bentara Budaya, Paulina Dinartisti mengatakan, dirinya memberikan apresiasi yang mendalam terhadap para orang tua penyandang autisma yang memberi ruang kepada anak-anak tersebut. Menurut dia, hal itu tidak mudah, karena dibutuhkan kesabaran yang tinggi, perjuangan, dan yang utama adalah cinta.

“Kita pun hadir di sini atas nama cinta. Saya mengapresiasi karya dan kerja keras anak-anak autis ini,” ujarnya. Dikatakan, dalam pameran “Warna-warni Duniaku” ini ditampilkan 86 karya dari 53 peserta. Selain pameran seni lukis, juga ditampilkan permainan musik organ dan saksofon dari anak-anak penyandang autisma.



Sumber: BeritaSatu.com