Memahami Ekspresi Penyandang Autis Lewat Seni Lukis

Memahami Ekspresi Penyandang Autis Lewat Seni Lukis
Sejumlah penyandang autis dari Daya Pelita Kasih Foundation bekerjasama dengan London School Centre for Autism Awareness (LSCAA) menggelar pameran seni lukis ini bertajuk "Heart for Autism' yang diselenggarakan di Sunrise Art Gallery, Fairmont Jakarta dari tanggal 1-28 Agustus 2019 mendatang ( Foto: Beritasatu.com/Chairul Fikri )
Chairul Fikri / CAH Jumat, 2 Agustus 2019 | 20:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah penyandang autis dari Daya Pelita Kasih Foundation bekerjasama dengan London School Centre for Autism Awareness (LSCAA) menggelar pameran seni lukis ini bertajuk "Heart for Autism' yang diselenggarakan di Sunrise Art Gallery, Fairmont Jakarta dari tanggal 1-28 Agustus 2019 mendatang. Lewat hasil goresan tangan anak berkebutuhan khusus yang berjumlah 33 lukisan, mereka berupaya untuk menunjukan ekspresi isi hati mereka, sebagai cara berkomunikasi.

"Melalui lukisan, kita dapat menyelami daya pikiran mereka. Untuk membuat karya lukis ini mereka hanya butuh waktu 15 hingga 40 menit. Imajinasi anak autis lebih tinggi dari anak regional. Sudut pandang yang diciptakan juga berbeda, hal itu terlihat dari semua lukisannya terlihat ceria dan menggambarkan kebahagian. Mereka merasa nyaman," ungkap Harry dalam pembukaan pameran lukisan karya penyandang autis yang dilakukan di Hotel Faimont Jakarta, Jumat (2/8/2019).

Senada dengan Harry, Prita Kemal Gani selaku Founder & Director of LSPR sekaligus Inisiator LSCAA juga menyatakan bahwa penyelenggaraan pameran dan penggalangan dana dalam acara A Group Charity Art Exhibition “Heart for Autism” ini dilakukan secara berkesinambungan.

Acara ini digelar untuk membantu anak-anak autis dan anak berkebutuhan khusus yang kurang beruntung.

"Mendidik, merawat, memiliki anak berkebutuhan khusus tidaklah mudah. Anak berkebutuhan khusus membutuhkan edukasi dan perhatian khusus dari orangtua, orang-orang sekitar, masyarakat, dan juga Pemerintah. Banyak anak penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) di Indonesia yang tidak mendapatkan terapi yang dibutuhkan, karena mahalnya proses terapi dan fasilitas yang kurang memadai," ujar Prita Kemal.

Tokoh Nasional Penggerak Aksi Sosial sekaligus Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Gumelar yang turut hadir dalam pembukaan pameran tersebut juga berharap, masyarakat Indonesia tak lagi mengucilkan keberadaan anak-anak penyandang autisme ini. Lantaran mereka juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama layaknya masyarakat yang punya tubuh maupun otak yang normal.

"Buat apa anak-anak penyandang autis harus menerima hukuman pasung seperti yang terjadi di daerah-daerah? Buat saya, mereka layak hidup, sekali lagi jangan menghakimi mereka, apalagi anak itu merupakan titipan Sang Pencipta. Jangan perlakukan anak sesuka hati. Jangan jauhkan mereka (anak autis), peluklah mereka, rangkulah mereka karena mereka punya ruang dan tempat yang sama seperti masyarakat pada umumnya," ujar Linda.

Istri dari Agum Gumelar ini berharap kegiatan ini bisa mengedukasi masyarakat untuk bisa sama-sama memahami dan menyayangi keberadaan anak'anak penyandang autisme.

"Saya yakin dengan pendampingan dan pengarahan yang benar anak-anak autisme ini bisa menghasilkan karya yang jauh lebih baik dan bagus dari orang-orang normal pada umumnya," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com