Pagelaran Wayang di Istana Usung Nilai Kebinekaan

Pagelaran Wayang di Istana Usung Nilai Kebinekaan
Suasana Pagelaran Wayang Kulit di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 2 Agustus 2019 malam. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Dina Fitri Anisa / FMB Sabtu, 3 Agustus 2019 | 11:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk pertama kalinya, lapangan Istana Merdeka menggelar pagelaran wayang kulit yang berlangsung pada, Jumat (2/8/2019) malam. Pagelaran yang dihadiri sekitar 1.500 orang ini menjadi saksi kebinekaan Indonesia.

Meski kesenian wayang kental akan budaya Jawa, tetapi acara ini dibuka dengan beberapa hiburan lintas budaya. Mulai dari tarian lilin dari Sumatera Selatan, lagu Sajojo yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit, dan juga lagu campursari khas Didi Kempot.

“Hal semacam ini sangat baik, dan semoga ke depannya ada daerah-daerah lain yang dilibatkan. Dengan keberagaman seperti ini, Indonesia menjadi semakin indah di mata dunia,” terang Didi Kempot kepada SP, usai turun dari panggung pertunjukkan di lapangan Istana Merdeka, Jumat (2/8/2019) malam.

Setelah pembukaan berlangsung, dalang Ki Manteb Sudarsono naik ke atas panggung, menandakan bahwa pagelaran wayang dengan lakon Kresno Jumeneng Ratu, dimulai. Sebuah lakon yang mengisahkan tentang keberhasilan Kresna menjadi seorang raja yang mengayomi masyarakat serta juru damai terhadap pihak-pihak yang bersengketa.

Dalam pagelaran tersebut, Ki Manteb tidak hanya berusaha menghibur masyarakat umum yang datang, tetapi sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Salah satunya dengan menyosialisasikan Empat Pilar MPR, yaitu berisikan prinsip-prinsip Pancasila, UUD NRI Tahun1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Selanjutnya deretan penampil lainnya, seperti Soimah, Butet Kertaradjasa, Cak Lontong, Akbar, Endah Laras, Den Baguse Ngarso, dan juga Kirun yang mengisi limbuk'an dan goro-goro. Merespon Lakon Kresna, mereka memberikan penampilan segar dan mengocok perut.

Uniknya, dalam adegan singkat tersebut, para pemain menonjolkan karakteristik budaya yang berbeda. Mulai dari Jawa, Madura, dan juga Batak. Beberapa lagu daerah asal tersebut juga diperdengarkan. Menurut penulis cerita limbuk'an dan goro-goro, Agus Noor drama singkat tentang keberagaman ini adalah titipan dari Presiden Joko Widodo.

“Titipan dari presiden adalah, meskipun wayang berasal dari Jawa, tetapi yang ditampilkan jangan budaya dari Jawa saja. Buatlah pagelaran wayang untuk Indonesia. Itu konteks yang ingin ditekankan,” jelas Agus.

Dalam kesempatan tersebut, Cak Lontong juga menilai, keunikan pementasan wayang kali ini mampu memunculkan narasi yang kuat tentang kebinekaan. Dengan demikian, disadari atau tidak, Presiden tengah menanamkan kepada masyarakat akan rasa cinta pada kebudayaan Indonesia yang adi luhung.

“Ini adalah pembuktian kebudayaan sangat dihargai, bagaimana menempatkan budaya wayang yang dapat mencerminkan tradisi bangsa kita. Semoga Istana memiliki pagelaran lain, sekarang wayang kulit, nanti bisa ketoprak , dan dari luar jawa lagi,” terangnya.

Dengan mengundang ribuan orang berkumpul menonton wayang semalam suntuk di lapangan Istana Merdeka, merupakan sebuah keputusan yang langka bagi seorang Presiden. Hal tersebut diungkap oleh Akbar, yang merasa sangat bahagia pagelaran wayang kulit dan masyarakat biasa akhirnya bisa menginjak halaman istana.

“Ini pertama kali wayang di istana, menurut saya ini bentuk dari pelestarian budaya wayang. Lebih dari itu, saat ini pemerintah memberiman kesan bahwa, istana ini milik siapa saja. Rakyat di sini bisa menonton wayang. Bukan tempat esklusif yang tertutup, terbukti banyak sekali yang datang,” jelasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan