Titian Muhibbah Sastra Malaysia-Indonesia

Penyair Malaysia dan Indonesia Merekat dalam Puisi Esai

Penyair Malaysia dan Indonesia Merekat dalam Puisi Esai
Penyair asal Malaysia, Ismaily Bongsu, saat tampil di acara Titian Muhibbah Sastra Malaysia-Indonesia di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Jakarta, Rabu (4/9/2019). ( Foto: istimewa / istimewa )
Yuliantino Situmorang / YS Rabu, 4 September 2019 | 21:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Puisi esai sebagai genre baru semakin berkembang. Tak hanya di Indonesia, namun merambah ke negeri jiran, Malaysia. Malah, lewat puisi esai, penyair Indonesia dan Malaysia kian merekat. Hal itu tampak pada acara “Titian Muhibbah Sastra Malaysia-Indonesia” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Sejumlah penyair dari Malaysia dan Indonesia hadir di sana. Mereka juga berdiskusi tentang perkembangan puisi esai. Tak hanya itu, Presiden Badan Bahasa dan Sastera Sabah (Bahasa) Malaysia Datuk Jasni Matlani turut hadir. Ia juga menyaksikan penyerahan buku puisi oleh penyair asal Malaysia, Ismaily Bongsu kepada Kepala Satuan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Diki Lukman Hakim.

Selain diskusi dan pembacaan puisi, dalam kegiatan itu juga diluncurkan buku seri puisi esai Indonesia-Malaysia bertajuk Kemilau Satu Langit oleh Denny JA, penggagas puisi esai asal Indonesia.

Pada kesempatan itu juga digelar peluncuran sayembara kritik puisi esai Denny JA oleh Asosiasi Guru Bahasa Se-Indonesia dan peluncuran buku dari Malaysia oleh Datuk Jasni Matlani, serta pembacaan puisi oleh Monica JR tentang Papua.

“Puisi esai bukan saja satu genre, tetapi juga satu gagasan dan gerakan persuratan yang lebih besar,” ujar Ramzah Dambul, akademisi dari Universiti Malaysia Sabah, dalam kata pengantarnya.

Ia secara mendalam menuliskan hubungan dua negara, Malaysia dan Indonesia dalam puisi esai.

“Denny JA ketika mewartakan kelahiran puisi esai, tidak hanya mendefinisikan bentuk awal dan fungsi puisi sebagai karya kreatif. Ia juga turut memberi makna dan arah tujuan yang baru kepada segenap pelaku sastra dalam meneruskan platform puisi,” tutur dia.

Menurut Ramzah, secara sederhana, puisi esai adalah satu inovasi segar yang penting dalam perkembangan seni kesusasteraan serantau.

“Sekalipun aliran ini telah mendapat polemik yang hebat di Indonesia, namun tidak menghalangi puisi esai untuk menjalar dan mengakar di negara-negara jiran,” tambahnya.

Ia menambahkan, mau tidak mau, gagasan puisi esai Denny JA telah mencapai status sastra advokasi dan diplomasi.

“Ini menjadi satu batas tertinggi dalam ukuran dampak sastra. Ia bukan sekadar memberi gratifikasi mental atau hanya mencetuskan katarsis spiritual sebagaimana sastra konvensional yang tipikal,” tulisnya.

Ramzah mengaku heran mengapa banyak yang menentang kehadiran puisi esai, hanya karena adanya motivasi kecemburuan sosial.

“Kalau semua aktivis sastra hanya terobsesi berkarya, tetapi tidak mau berinovasi dan menciptakan pendekatan baru, lalu bagaimana ranah sastara mau berkembang?” kata dia.

Menurut Ramzah, genre dan pembaruan dalam sastra tidak akan berlaku sendiri begitu saja. Seseorang perlu memacunya dengan gerakan yang bersifat gadang, tersusun, dan terancang.

“Denny JA berhasil menyuntik gerakan puisi esai ke seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan meretas hingga ke Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand. Ini satu gagasan diplomasi yang sungguh mengagumkan,” tambahnya.

Ramzah juga memberikan ulasan mendalam tentang para penyair Malaysia dan Indonesia yang memberikan karya puisi esainya dalam buku Kemilau Satu Langit.



Sumber: PR/Suara Pembaruan