Anugerah Kebudayaan 2019

Apresiasi untuk Para Pejuang Kebudayaan

Apresiasi untuk Para Pejuang Kebudayaan
Penyanyi seriosa, Rose Pandanwangi menerima Anugerah Kebudayaan dalam kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, Kamis 10 Oktober 2019. ( Foto: SP/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Sabtu, 12 Oktober 2019 | 09:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberikan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi kepada 58 tokoh, komunitas, dan juga daerah pejuang kebudayaan di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019, di Istora Senayan, Kamis (10/10/2019).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan, Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi ini merupakan program yang telah rutin dilaksanakan sejak 2012. Program apresiasi ini adalah salah satu cara menginternalisasikan nilai budaya yang diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat sekaligus meningkatkan motivasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengembangan kebudayaan Indonesia.

"Kita memiliki komitmen yang kuat untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan bangsa Indonesia agar tetap mengakar dengan cara menghargai tokoh/insan Indonesia yang secara konsisten terus berkarya dan berkontribusi secara aktif dan intens,” jelas Muhadjir Effendy saat memberikan kata sambutan.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menambahkan, sekecil apa pun karya budaya yang dihasilkan oleh seseorang atau pun komunitas kebudayaan, itu tidak terlepas dari nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Semua nilai mengandung makna yang dapat menimbulkan inspirasi baru, dan ini bersifat positif.

"Di balik sebuah karya, tersirat sosok atau pun tokoh yang memiliki komitmen kuat terhadap pewarisan nilai-nilai kebudayaan, baik yang tak benda maupun benda. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang telah berjuang mencurahkan waktu dan tenaga untuk memajukan kebudayaan Indonesia," ungkapnya.

Proses penjurian telah dilakukan sejak Januari hingga Agustus 2019 oleh Kemdikbud. Terdapat 58 nama usulan nomine untuk delapan kategori. Di antaranya adalah pencipta dan pelopor, pelestari, anak dan remaja, maestro seni tradisi, pemerintah daerah, komunitas, dan perorangan asing.

Selain itu, Kemdikbud telah mengusulkan nama-nama untuk dicalonkan sebagai penerima Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan untuk kelas Bintang, yaitu Bintang Mahaputera, Bintang Budaya Parama Dharma, dan kelas Satyalancana Kebudayaan, yang diteruskan ke Sekretariat Negara untuk dinilai oleh Dewan Tanda Kehormatan.

Menolak
Berdasarkan informasi yang diterima, dari 59 penerima Anugerah Kebudayaan, terdapat satu sastrawan yang menolak pemberian penghargaan tersebut yakni Eka Kurniawan. Penulis novel Cantik itu Luka ini menuliskan sikapnya dengan judul Apakah Negara Sungguh-Sungguh Memiliki Komitmen dalam Memberi Apresiasi Kepada Kerja-Kerja Kebudayaan?, di laman Facebook-nya, pada Rabu (9/10/2019).

Unggahan tersebut dibenarkan oleh Eka saat dikonfirmasi media di malam penganugerahan melalui sambungan telepon. Eka mengatakan, berbagai alasan yang memicu penolakan anugerah bukan untuk kementerian maupun pihak-pihak tertentu. Namun, pernyataan sikap tersebut adalah bentuk dari kritiknya untuk negara.

"Soalnya ada beberapa orang yang bilang saya nyerang Hilmar Farid dan lain-lain. Saya kira itu misleading juga ya. Yang diprotes kan negara. Saya tidak bicara negara sebagai sebuah badan administratif, bahkan tidak bicara presiden sebagai pribadi atau personal dia, tapi kolektif sebagai negara," ungkapnya.

Eka menuturkan, alasan mendasar yang menggerakkan dirinya untuk menolak pengakuan dari negara itu adalah tidak ada bukti nyata negara dan pemerintah melindungi seniman dan kerja-kerja kebudayaan. Mulai dari permasalahan pembajakan buku, pajak buku yang tinggi, perampasan buku di toko-toko kecil, sampai kasus HAM hilangnya penyair Wiji Thukul, turut menjadi pertimbangannya. Persoalan itu belum selesai hingga kini dan Eka tak melihat ada komitmen yang jelas dari pemerintah untuk menyelesaikannya.

Selain itu, penghargaan yang diterima oleh budayawan dan seniman juga dirasa sangat kontras dengan apa yang diberikan negara untuk para pejuang di bidang olahraga. Sebagai informasi, peraih medali emas memperoleh Rp 1,5 miliar. Sedangkan Anugerah Kebudayaan memberikan pin, plakat dan juga uang senilai Rp 50 juta, dipotong pajak.

"Suara saya mungkin sayup-sayup, tapi semoga jernih didengar. Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," begitu tulis Eka dalam unggahannya di laman Facebook.



Sumber: Suara Pembaruan