Five Passages to the Future, Upaya Seniman Menjawab Tantangan Masa Depan

Five Passages to the Future, Upaya Seniman Menjawab Tantangan Masa Depan
Pengunjung pameran tengah mempraktikkan kekuatan kecerdasan buatan melalui karya bertajuk, Robot Cyborg & Human milik, seniman asal Korea, Jeong Ok Jeong dan Cho Eun Woo di pameran bertajuk “Five Passages to the Future” yang berlangsung di Galeri Nasional, Jakarta mulai dari 21 Oktober – 7 November 2019 ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / IDS Selasa, 22 Oktober 2019 | 16:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Seniman hari ini kerap berada di garis depan dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat. Sedangkan karya mereka berfungsi sebagai sebuah cara meningkatkan kesadaran bersama tentang permasalahan yang ada serta mendukung upaya kolaboratif untuk mencari solusi di masa depan.

Tantangan-tantangan yang paling menonjol barangkali termasuk, tetapi tidak terbatas pada, krisis energi, ancaman ekologis, perubahan iklim, dan revolusi teknologi sains bernama industri 4.0. Untuk menjawab tantangan tersebut, lima seniman lokal dan internasional pun berkolaborasi melalui karya seni media baru dalam pameran bertajuk Five Passages to the Future.

Uniknya, pameran yang berlangsung di Galeri Nasional, Jakarta mulai dari 21 Oktober – 7 November 2019 ini dikuratori oleh lima kurator perempuan. Mereka masing-masing memiliki keahlian dan spesialisasinya sendiri, seperti manajer seni, seniman, edukator, penulis, dan peneliti.

Salah satu kurator pameran Five Passages to the Future, Irene Agrivine mengatakan, pameran ini menyuguhkan bagaimana upaya kreatif dari seni media baru mampu berkontribusi dalam kehidupan manusia. Setiap kurator mengajukan lima pendekatan mutakhir di isu-isu ekopolitik, keberlangsungan, kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), naratif digital, dan teknologi pakai.

“Lewat karya-karya seni media, seniman juga diajak untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang tantangan dan permasalahan ekologis, teknologi, dan sains yang kita hadapi bersama serta mendukung upaya kolaboratif untuk mencari solusi di masa depan,” ungkapnya dalam media tur Five Passages to the Future, di Galeri Nasional, Senin (21/10/2019).

Memulai dari pertanyaan, “Jika manusia dan alam adalah komponen yang setara dalam masyarakat, bagaimana mereka bisa hidup berdampingan?” kurator Evelyn Huang berkolaborasi dengan seniman Digital Native, Sarah Jane dan Miebi Sikoki dalam karya bertajuk The Commons: Monoculture.

Karya ini mencoba membayangkan, bagaimana di masa depan nanti industri agrikultur terus mengabaikan kesehatan ekosistem guna memenuhi tuntutan populasi yang berkembang. Manusia saat ini sudah merasakan dampaknya pada asap yang dihirup dan iklim yang tidak lagi bisa diprediksi.

Melalui pameran “hidup” yang terinspirasi dari Katingan Mentaya Project ini, seniman mengundang pengunjung untuk berinteraksi dengan alam. Caranya, dengan mendengar fluktuasi musik, merevitalisasi tumbuhan dengan sensor yang mempengaruhi tingkatan cahaya dan jatuhnya embun, serta mengajak penikmat seni untuk lebih peka terhadap respons mereka.

“Selama ini kita melihat pohon atau tumbuhan hanya diam dan bergerak kalau ada angin. Namun, melalui karya ini manusia diajak berkomunikasi dengan tumbuhan. Mereka itu bisa merespons dan juga berbicara melalui aliran listrik yang mereka punya. Karya ini tidak berupaya menantang paradigma yang ada, tetapi menjadi pengingat untuk hidup berdampingan dan memperhatikan tindakan kita pada alam,” terang Sarah.

Karya ini juga sekaligus bisa menjadi bayangan skenario global di mana manusia bisa menghargai ekosistem dengan biodiversitas dan hubungan simbiosisnya. Premis dari masa depan ini adalah alam bukanlah obyek untuk dieksploitasi. Ekologi bersifat subyektif, tergantung pada posisi global, iklim, kelembaban, ketinggian, dan berbagai faktor biologis yang unik dan saling terkait.

Lanjut ke pertanyaan berikutnya, “Apa peran manusia di era kecerdasan buatan?”. Inilah salah satu pertanyaan yang kian lumrah diutarakan di zaman 4.0 ini. Untuk itulah, dengan perspektif baru yang segar, seniman dan kurator dari Korea, Jeong Ok Jeong X Cho Eun Woo berusaha menjawab melalui karya bertajuk, Brainwave & Hyper Protocol City.

Mengambil inspirasi dari lukisan Renaissance The Ideal City (1480), melalui instalasi ini ia mecoba menciptakan diorama spektrum panel dan pilar kaca-plexi reflektif yang ditempatkan pada kisi berisi ribuan bola lampu LED yang terkoneksi dengan sensor yang merespons gelombang otak manusia.

Program ini bisa langsung dicoba oleh pengunjung dengan memasangkan headset nirkabel yang telah dirancang untuk memasukkan data dan merespons sinyal EEG dari otak pengunjung. Dengan pikirannya, pengunjung bisa mengaktivasi lampu pada pilar tanpa harus menyentuhnya secara langsung.

Robot
Karya selanjutnya yang dipamerkan adalah Robot Cyborg & Human. Ini merupakan sebuah instalasi gabungan yang terdiri dari figur yang menyerupai manusia dari polimer emas. Di dalam setiap figur terdapat robot kecil yang mampu menggerakkan figur tersebut jika dikendalikan lagi dengan gelombang otak manusia.

“Banyak orang yang merasa takut bahwa AI akan menggeser peran manusia. Padahal, AI sendiri hanya bisa dikontrol oleh otak manusia. Saat ini yang menjadi penting, bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan,” terang Jeong Ok Jeong.

Kembali ke persoalan kehidupan manusia dan kondisi alam, sebuah pertanyaan “Bagaimana manusia bisa mencapai kehidupan yang berkelanjutan di bumi?” menjadi kepedulian duo seniman, Irene Agrivine dan Eva Bubla.

Dengan karya bertajuk Designated Breathing Zone, mereka mencoba mengambil isu polusi yang tidak hanya menghantui masyarakat kota, dan juga pedesaan. Mengambil inspirasi dari laporan NASA 1989, yang melakukan penelitian pada tanaman Sansevieria atau dikenal dengan nama Lidah Mertua di Indonesia, untuk berefleksi secara kritis tentang polusi udara.

“Instalasi ini mengundang audiens untuk menghirup udara yang disaring dari tanaman lidah mertua yang diinkubasi,” terang Irene.

Dua pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, “Bagaimana realitas virtual sebagai media baru mengubah persepsi manusia?”, yang dijawab oleh Nin Djani dan Shezad Dawood melalui karya, Kalimpong . Kemudian juga “Perubahan sosial seperti apa yang bisa kita antisipasi saat mode bertemu dengan teknologi?” yang direspons Ratna Djuwita dan Synflux, dengan karya instalasi Upper-Ground Stream.

Takjub dan menarik untuk ditelisik adalah ungkapan yang pas saat mendatangi pameran ini. Lima karya seni baru yang mereka buat bukan hanya sebagai objek pajangan, tetapi mampu berinteraksi dan menginspirasi dengan para pecinta seni yang hadir.
Pameran ini juga menampilkan eksplorasi yang luas dari lima praktik perintis dalam seni media baru yang berpartisipasi di program inkubasi XPLORE: New Media Art Incubation, sebuah inisiatif pendidikan yang digagas oleh Arcolabs dan HONF yang telah dilaksanakan pada 2018 dan 2019.



Sumber: Suara Pembaruan