Lakon "Sang Sukrasana" Siap Rayakan Hari Wayang

Lakon
Para pemeran lakon Sang Sukrasana berpose bersama dalam jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Kamis (31/10/2019). Rencananya pentas ini akan digelar pada 17 November mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. ( Foto: istimewa / istimewa )
Dina Fitri Anisa / IDS Jumat, 1 November 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Laskar Indonesia Pusaka akan menyelenggarakan pergelaran wayang orang dengan tajuk Sang Sukrasana untuk merayakan Hari Wayang Nasional yang jatuh setiap November. Pementasan ini akan berlangsung pada 17 November mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Penggagas lakon Sang Sukrasana, Jaya Suprana mengatakan, wayang merupakan sarana sosialisasi komunikasi yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan-pesan sejak zaman pergerakan perjuangan, kemerdekaan, sampai masa pembangunan bangsa dan negara. Pergelaran Sang Sukrasana nantinya akan menggambarkan karut-marut kehidupan politik di Indonesia.

Gambaran ini direkam oleh Jaya dari situasi negara yang sedang dirundung kemelut perebutan kekuasaan, tetapi melalaikan kepentingan rakyat kecil yang justru sewajibnya disejahterakan. Rakyat kecil memiliki kesaktian yang luar biasa dapat memicu perubahan di dalam bangsa ini jika tidak dikhianati oleh ambisi semata.

"Pergelaran Sang Sukrasana berasal dari kesedihan saya. Rakyat dalam Pemilu dipuja dan dirayu, seolah menimbulkan keresahan bangsa ini. Namun setelah pemilu usai, rakyat dilupakan begitu saja. Rakyat adalah sukma. Tanpa ada rakyat, tidak ada negara dan bangsa. Tanpa ada penguasa, pasti ada rakyat. Tanpa rakyat, penguasa tidak ada," ujarnya dalam jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Kamis (31/10/2019).

Tokoh Sukrasana adalah tokoh wayang asli dari Indonesia, bukan dari Mahabharata. Cerita klasik Sukrasana dan sang kakak, Sumantri, terjadi jauh sebelum adanya Mahabharata yang konon terjadi saat para dewa-dewi masih hidup berdampingan dengan manusia.

Sukrasana adalah ksatria sakti mandraguna yang dilatih oleh salah satu dewa terkuat di kayangan, yakni Batara Indra. Sukrasana yang memiliki kekuatan yang luar biasa memiliki wajah yang menyerupai buto kecil, menyeramkan dan buruk rupa.

Sedangkan kakaknya, Sumantri adalah ksatria yang ambisius dan tampan rupawan. Dalam banyak hal, Sukrasana sangat menyayangi kakaknya dan selalu ada untuk membantu kakaknya dalam peperangan atau dalam kesulitan dengan kekuatannya tanpa pamrih. Kisah Sumantri dan Sukrasana memiliki akhir yang tragis ketika kesetiaan dikhianati oleh ambisi.

“Rakyat diibaratkan sebagai Sukrasana yang kuat, padahal dia tidak punya jabatan, hanya semangat pengabdian dan pengorbanan. Ini kisah yang mengharukan. Keinginan saya agar pergelaran ini akan mengangkat harkat dan martabat rakyat sebagai sukma bangsa. Kalau tidak ada rakyat, maka penguasa tidak ada, negara juga tidak ada,” tambahnya.

Sedangkan aktor Lukman Sardi pun mengaku bahagia mendapat peran sentral sebagai Sukrasana dalam pentas ini. Bukan hanya itu, pentas yang mengusung tema budaya Indonesia ini menjadi alasan utama Lukman tak menolak tawaran untuk terlibat di dalamnya.

"Ini jadi momen yang tepat. Buat saya enggak ada alasan saya menolak bisa tampil di sini. Karakter Sukrasana sangat menarik. Memang menggambarkan kondisi saat ini, bukan dalam pemerintahan saja tetapi dalam kehidupan juga. Orang punya kemampuan dimanfaatkan tapi diacuhkan begitu saja atau bahkan didiamkan begitu saja," paparnya.

Selain itu, menurutnya, sebagai seorang seniman, terjun dalam pergelaran yang membanggakan menjadi salah satu jalan untuk berterimakasih terhadap Indonesia.

"Sebagai seniman, inilah bagian saya untuk memberikan feedback kepada Indonesia. Keluarga saya seniman, saya generasi ke-5 dan keluarga saya dapat semua dari Indonesia. Saya diajarkan oleh keluarga untuk memberikan balik ke Indonesia. Budaya adalah warisan yang harus dijaga bersama," pungkas Lukman.

Sang Sukrasana melibatkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia lintas generasi dari berbagai kalangan. Mulai dari Wayang Orang Bharata, para perwira dan prajurit TNI dan Polri, para purnawirawan, hingga para tokoh pecinta wayang orang. Selain Lukman Sardi, pentas ini juga dibintangi Maudy Koesnaedi, Asmara Abigail, Ruth Marini, Inayah Wahid, dan Tina Toon.



Sumber: Suara Pembaruan