Susahnya Menjadi Orang Jujur di Tengah Keserakahan

Susahnya Menjadi Orang Jujur di Tengah Keserakahan
Pementasan Teater Koma dengan lakon “J.J Sampah-Sampah Kota” yang digelar sejak 8-17 November 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. ( Foto: Istimewa )
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 11 November 2019 | 12:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bicara soal sampah dan penguasa korup seolah tak ada habisnya. Di setiap era, pasti ada orang yang menjadi penguasa sekaligus pencuri uang rakyat. Lalu apa kabar dengan kejujuran? Seperti apa rasanya mempertahankan nilai kejujuran di tengah sikap tidak adil dan tidak jujur yang semakin menggila?

Jawabannya, tentu tidak sederhana. Sama halnya dengan betapa tidak sederhananya menampilkan kembali lakon yang sudah dipentaskan 40 tahun lalu ke era sekarang. Sebuah lakon yang pernah digarap Nano Riantiarno kembali hadir untuk menyentil hati masyarakat dengan judul J.J Sampah-Sampah Kota. Pentas tersebut digelar sejak 8-17 November 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dalam menulis naskah yang awalnya berjudul J.J Jian Juhro, Nano membagi tiga bagian atau tiga ruang cerita. Pertama, penguasa yang memerintah. Dia adalah tokoh yang tidak terlihat keberadaannya, tetapi justru memiliki kekuatan paling besar dalam memainkan nasib rakyat. Posisi kedua adalah para tokoh di tengah, dan berinteraksi langsung dengan rakyat. Kemudian ketiga adalah rakyat biasa atau rakyat kecil.

Dalam naskah, tokoh ketiga disimbolkan dengan kalangan pemulung sampah, pelacur, dan gelandangan. Golongan ini adalah kalangan yang secara realis hidup di sekitar kita. Kini di era milenial, tiga ruang beda kasta ini dipertemukan kembali dalam panggung yang ditangani oleh Rangga Riantiarno.

Cerita J.J Sampah-Sampah Kota bermuara pada kisah sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah. Ia digaji harian dan tidak punya jaminan masa depan. Meski begitu dia tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat dan gembira.

Bersama Juhro, yang tengah hamil tua, dan teman-teman pemulungnya, mereka bisa hidup bahagia dan tenang walau hanya dalam bunga tidur. Semua ini tak lepas dari pengawasan mandor kepala dan tiga mandor bawahannya, Tiga Pemutus. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana kejujuran Jian bisa dipertahankan.

 

Suatu hari, para Pemutus menjatuhkan tas berisi uang yang amat banyak di sekitar tempat Jian bekerja. Jian panik, dan berusaha mencari pemilik di tengah keadaan yang sulit. Perbuatan jujur pun nyatanya selalu tertutupi oleh intrik politik yang terus mencekik kaum miskin. Nestapa Jian, seorang yang selalu dianggap sampah ini pada akhirnya terjebak dalam perangkap. Ia dianggap sebagai pencuri dari uang tas yang ia kembalikan.

Carut-marut persoalan tidak berujung ini menjadi cermin dan penyadar diri, bahwa pentingnya mempertahankan kejujuran walau bisa berujung sakit. Karena jika kejujuran lenyap, maka barbar seluruhnya.

"Ada pesan di mana kita seharusnya berusaha keluar dari kekacauan, jangan jadi bagian dari kekacauan. Kita dengarkan suara Juhro. Kita cari lagi kejujuran apa masih ada di diri kita. Kita ternyata cuma jadi mainan penguasa aja,” jelas Rangga, saat dijumpai awak media pekan lalu.

Rangga pun merasa bahwa kisah lama ini memang tidak lekang oleh waktu. Meski, kondisi saat ini tidak sama dengan 40 tahun lalu, tetapi tetap ada hal-hal yang tidak berubah. Bagaikan mata uang yang tak terpisahkan, akan selalu ada orang-orang jujur dan orang-orang korup. Dengan demikian, kekuasaan dan kejujuran tidak akan pernah bisa sejalan.



Sumber: Suara Pembaruan