Selendang Arimbi Mengajarkan Persahabatan dalam Keberagaman

Selendang Arimbi Mengajarkan Persahabatan dalam Keberagaman
Teater musikal bertajuk “Selendang Arimbi” dipentaskan pada Sabtu 16 November 2019, di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. ( Foto: SP/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 18 November 2019 | 11:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Melanjutkan kesuksesan penampilan tahun 2017 lalu, Operet Aku Anak Rusun yang ke dua kembali tampil berkelas dengan lakon Selendang Arimbi. Drama musikal anak ini dipentaskan pada Sabtu (16/11/2019) sebanyak dua kali pertunjukan pada 14.00 dan 17.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan.

Menampilkan panggung yang megah, pertunjukan ini diramaikan lebih dari 200 pemain yang terdiri dari anak-anak rusun Rawa Bebek, Daan Mogot, dan Pulo Gebang. Operet yang diprakarsai oleh Veronica Tan ini juga melibatkan puluhan penari profesional untuk menyempurnakan penampilan. Bahkan tim pemain yang berada di bawah naungan Soundkestra dan Yayasan Waroeng Imaji ini sudah berlatih selama 3 bulan demi tampil maksimal.

Selendang Arimbi menceritakan tentang perjuangan gadis berusia 15 tahun yang ingin menjadi seorang penari. Keterbatasan ekonomi membuat Arimbi harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan pelatihan di sebuah sanggar tari secara gratis. Namun sayang, rintangan seolah menjadi sahabat Arimbi untuk menggapai mimpinya.

Cerita si Arimbi memang memberikan bekas yang mendalam kepada para penonton. Tidak hanya menularkan rasa cinta terhadap kesenian, tetapi juga nilai solidaritas dan toleransi yang menjadi pesan utama dalam pementasan ini.

Salah satu contohnya, dalam pagelaran ini Arimbi digambarkan sebagai perantauan orang Jawa yang memiliki sahabat dari berbagai suku bangsa. Mulai dari Batak, Betawi, dan juga Tionghoa. Logat bahasa setiap daerah bahkan tidak dihilangkan.

Setelahnya, keberagaman juga dapat penonton lihat dengan keindahan musik dan tari dari berbagai daerah di Indonesia yang menghidupkan suasana di atas panggung. Lagu-lagu yang dibawakan antara lain Janger, Marilah Kemari, dan Padang Bulan. Sedangkan untuk lagu anak-anak seperti Anak Kambing Saya, Naik-naik ke Puncak Gunung, dan Semut-semut Kecil.

Tidak hanya dekat dengan anak-anak, para orang tua yang turut menemani anak menonton Selendang Arimbi juga akan diajak bernostalgia dengan lagu-lagu lawas yang hit dari, Chrisye ataupun Koes Plus. Lagu-lagu tersebut diaransemen ulang oleh Soundkestra dan dikemas dengan berbagai genre yang lebih modern, agar bisa diterima generasi saat ini.

 

Kejutan
Ada satu kejutan yang dihadirkan Veronica Tan di panggung Aku Anak Rusun 2. Jika di pertunjukan pertama pada 2017 tampil bersama selo ketika di atas panggung, kini perempuan yang akrab disapa Vero tak sendirian. Ia tampil bersama anak kedua Nathania Purnama dan si bungsu Daud Albeenner Purnama. Keduanya bermain alat musik biola dan Veronica Tan dengan alat musik kesayangannya, selo. Dengan lihai dan penuh semangat, mereka memainkan lagu Dancing Queen ciptaan ABBA.

Selanjutnya di akhir pentas, Vero pun kembali menggesek selo mengiringi lagu Indonesia Pusaka yang dinyanyikan oleh seluruh pemain. Rasa khidmat ke-Indonesiaan yang ditularkan semakin hangat terasa.

Sementara untuk mencapai kesuksesan ini, perjuangan Operet Anak Rusun tidak lengkap rasanya tanpa jasa dari sang sutradara, Rita Dewi Saleh. Kerja kerasnya untuk membuat sebuah pertunjukan berkelas ini telah usai. Perempuan yang akrab disapa Bunda Rita ini menghembuskan napas terakhir pada 31 Oktober 2019, karena penyakit kanker yang dideritanya selama ini. Sebelum meninggal, meski dalam keadaan sakit dan terbaring lemas, Bunda Rita dengan semangat tetap memperhatikan setiap detail perkembangan Operet Anak Rusun.

"Kami akan buat tribute untuk Bunda Rita saat 16 November 2019. Karena perjuangan Bunda Rita memiliki andil besar atas penampilan operet Aku Anak Rusun. Dengan semangat yang masih sama, kami ingin memberikan persembahan terbaik untuk Bunda Rita,” kata Lawrence Tandra perawakilan dari Inke Maris & Associates Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan