Dilukis Tiga Seniman, Kulkas Modena Retrofridge Laku Ratusan Juta

Dilukis Tiga Seniman, Kulkas Modena Retrofridge Laku Ratusan Juta
Director PT Modena Indonesia Robert Widjaja (kiri) berpose dengan tiga seniman yakni Decki Leos, Erica Hestu Wahyuni, dan Abenk Alter yang melukis pada kulkas Modena RF 2330 saat jelang acara pelelangan di Modena Experience Center, Jakarta, Kamis (21/11/2019). (Foto: Suara Pembaruan / Unggul Wirawan)
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 21 November 2019 | 22:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Tiga kulkas Modena RF 2330 atau lebih dikenal dengan nama Retrofridge, dilukis oleh tiga orang seniman. Hasil karya mereka lantas dilelang oleh Modena Indonesia. Uang senilai ratusan juta rupiah hasil lelang lantas disumbangkan untuk Rumah Budaya Sumba.

“Modena ingin berkontribusi kepada kesenian Indonesia dan memberikan kepada siapapun untuk dapat memiliki mahakarya seni. Hasil penjualan Retrofridge akan didonasikan kepada rumah budaya Sumba. Kombinasi itulah yang melatarbelakangi kehadiran proyek Masterpiece Retrofridge yakni seni di atas kulkas bergaya retro,” kata Director PT Modena Indonesia Robert Widjaja di Jakarta, Kamis (21/11).

Menurut Robert, Retrofridge merupakan kanvas yang sempurna bagi para seniman untuk menuangkan imajinasi dalam bentuk satu lukisan. Tiga seniman pilihan Modena yakni Erica Hestu Wahyuni, Decki Leos, dan Abenk Alter. Mereka
memiliki talenta unik yang menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai inspirasi dalam lukisannya. Nilai yang tercipta pun tidak hanya sebatas visual saja, namun juga menunjukkan nilai personal yang mendalam.

“Tiap tahun, ada tiga seniman yang kami ajak kolaborasi. Ini kolaborasi yang menarik karena kulkasnya juga tanpa sudut yang kaku. Kami ingin terus menggabungkan produk kami dengan karya-karya seni,” tambahnya.

Malam pelelangan Modena Masterpiece Retrofridge berlangsung di Modena Experience Center – Suryo, pada 21 November 2019. Tidak hanya dihadiri pada donatur, kegiatan ini juga akan dimeriahkan oleh seniman-seniman lokal Sumba yang memamerkan budaya Sumba melalui musik dan kain tenun tradisional.

Dalam program Modena Masterpiece Retrofridge, Decki memberi judul karyanya sebagai “Preman Dapur”. Sosok bernama Furryball ini digambarkan gemar mengambil makanan dari kulkas.

“Tokoh-tokoh ini digambarkan seperti anak-anak yang tukang makan. Semua yang saya gambar ini benda-benda yang biasa ada di dalam kulkas. Ada sawi, semangka, dan apel. Secara fiilosofi, peran kulkas sangat penting di dapur,” tuturnya.

Sementara Erica Hestu Wahyuni memberi judul “The Coolest” dengan warna hijau muda. Dia mengaku tidak ingin ada batasan dalam penilaian Retrofridge sebagai kulkas atau sculpture.

“Saya ingin kata-kata itu bersayap. Kulkas merek ini paling dingin dan ada istilah coolest itu artinya keren. Saya ingin gabungkan kedua menjadi sculpture. Modena memberikan kulkas ini seperti memberikan kanvas. Saya berharap ini akan abadi dan punya nilai,” paparnya.

Sementara Abenk Alter menamakan karyanya berjudul “All Days Services”. Dalam proses pengerjaan Modena Masterpiece Retrofridge, dia menekankan bagaimana lemari es memberikan kontribusi dalam kehidupannya. Dialog yang tercipta antara Abenk dan lemari es kemudian diekspresikan dalam bentuk komposisi visual.

Modena menggandeng Komunitas Ambiente, salah satu komunitas yang aktif terhadap isu sosial untuk melakukan lelang Modena Masterpiece Retrofridge. Hasil lelang tersebut akan di donasikan untuk Rumah Budaya Sumba, yang merupakan salah satu proyek untuk kesejahteraan masyarakat yang kurang beruntung di Sumba.

“Kami sekumpulkan ibu-ibu yang peduli dengan kehidupan, sosial dan budaya. Sebetulnya kami tidak ada hubungan langsung dengan Rumah Sumba. Tapi komunitas Ambiente dan Rumah Sumba memiliki visi yang hampir sama yakni kepedulian terhadap seni dan budaya, serta kemanusiaan,” tambah Imelda dari Komunitas Ambiente.



Sumber: Suara Pembaruan