Roar Gama, Membahasakan Gamelan di Era 4.0

Roar Gama, Membahasakan Gamelan di Era 4.0
Acara kolosal Rhapsody of the Archipelago: Gamelan 4.0 untuk pertama kalinya di gelar di Lapangan Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu 30 November 2019. ( Foto: SP/Fuska Sari Evani )
Fuska Sani Evani / EAS Minggu, 1 Desember 2019 | 15:34 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Rhapsody of the Archipelago: Gamelan 4.0 (Roar Gama 4.0) untuk pertama kalinya digelar di Lapangan Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Acara ini diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), untuk memperingati Dies Fisipol UGM ke-64 sekaligus Lustrum ke-14 UGM, Sabtu (30/11/2019) malam.

Acara dibuka dengan Tari Kangen dari Pulung Dance Studio. Dalam tarian tersebut gamelan menjadi benang merah yang menghubungkan satu penampil dengan penampil lainnya, yang memiiki latar belakang dan jenis musik yang beragam.

Sebelum masuk ke repertoar gamelan selama sekitar dua setengah jam, Menteri Sekretaris Negara Pratikno juga hadir dalam perhelatan ini mewakili Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) menyampaikan amanat. Belia mengharapkan apa yang diselenggarakan Fisipol dan FIB UGM dalam rangka memperingati Lustrum ke-14 UGM dan Dies Fisipol UGM ke-64 ini dapat disambut di daerah-daerah lain.

"Karena ini di Yogyakarta, maka gamelan dijadikan yang anchor budaya, sehingga bernama Archipelago: Gamelan 4.0. Kalau misalnya di Bandung, bisa jadi Archipelago: Angklung Roar Unpad atau Roar ITB," kata Pratikno. 

Menurut Pratikno, setiap daerah bisa menyambut perhelatan ini dengan acara serupa sehingga setiap daerah bisa menjadi pemimpin seni di Indonesia.

Sementara Dekan Fisipol UGM Erwan Agus Purwanto menilai Roar Gama sebagai pernyataan politik kebudayaan nusantara.

"Potensi kreatif berbasis lokal ternyata bisa memberikan sumbangan berharga bagi peradaban musik dan kreatif global,” ucap Erwan Agus.

Program Director Roar Gama 4.0 Ari Wulu menjelaskan, penekanan acara adalah lebih tentang bagaimana anak-anak muda mengelola kebudayaannya. Hal tersebut diwujudkan dengan mengusung lima kelompok musik yang lagu-lagunya digemari anak-anak muda hari ini, yaitu Mantra Vutura, Tashoora, Letto, FSTVLST, dan OM New Pallapa bersama Brodin sebagai pamungkas acara, kemudian pada karya-karya mereka diperkaya dengan orkestrasi gamelan.

Pada acara juga ditonjolkan kolaborasi band dengan orkestra biasa di dunia barat. Band yang tampil juga menjadi bagian dari filosofi yang ingin disampaikan lewat Gamelan 4.0. Setiap band melambangkan fase kehidupan manusia.

Hadir juga Mantra Vutura, band asal Jakarta misalnya, mengusung musik elektronik berkolaborasi dengan musik nusantara. Keberadaan band ini menyimbolkan anak-anak yang penuh dengan mimpi dan harapan besar tentang masa depan.

Sementara Tashoora sebagai simbol masa remaja yang penuh kecemasan. Terlihat dari lirik-lirik lagunya yang sarat kritik dan berapi-api.

Masa Muda

Tak ketinggalan FSTVLST menyimbolkan masa muda yang meledak-ledak dan penuh pemberontakan. Letto sebagai representasi manusia yang lebih dewasa, kalem, dan tenang.

"Kehadiran OM New Palapa di akhir konser Gamelan 4.0 sebagai bentuk perayaan, bahwa kehidupan dalam kondisi apa pun harus selalu dirayakan," ucapnya.

Di sela-sela penampilan band-band tesebut, diselipkan karya-karya komposisi gamelan dari para komposer muda yaitu Sudaryanto, Welly Hendratmoko, dan Anon Suneko, yang dibuat hanya khusus untuk Roar Gama 4.0 ini. Mereka adalah komposer muda gamelan yang potensial di Yogyakarta.

Sementara untuk semua para penampil diiringi tiga pangkon (tiga set) gamelan, yang terdiri dari dua set gamelan pentatonis, dan satu set gamelan diatonis. Gagasannya ini seperti susunan ansamble orkestra barat, berdasarkan perkusi, alat musik gesek, tiup, dan sebagainya.

"Gamelan itu bukan hal yang dulu ada, kemudian sekarang dilestarikan. Gamelan ada di setiap zaman, karena gamelan itu membuat zamannya sendiri. Roar Gama 4.0 adalah salah satu peristiwa dan bukti bagaimana gamelan sedang membuat zamannya sendiri.” pungkas Ari Wulu.



Sumber: Suara Pembaruan