Bangkitkan Emosi Sambil Menelusuri Kenangan Lama Sang Gandari

Bangkitkan Emosi Sambil Menelusuri Kenangan Lama Sang Gandari
Pementasan kisah klasik Mahabharata ditampilkan oleh opera Gandari di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki, Sabtu 14 Desember 2019. ( Foto: SP/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Minggu, 15 Desember 2019 | 16:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gandari, sebuah kisah klasik Mahabharata, tersaji dalam bentuk opera kontemporer dengan penampilan yang memukau. Kisah klasik yang memadukan unsur narasi, suara, visual, dan tata gerak ini digelar selama dua hari sejak Sabtu (14/12/2019) dan Minggu (15/12/2019), di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Pertunjukan opera Gandari yang terinspirasi pada puisi karya Goenawan Mohamad (GM) ini seakan lahir kembali di masa urban. Opera kontemporer ini mengangkat kisah Gandari, ibu para Kurawa dalam cerita Mahabharata.

Dikisahkan, Dewi Gandari memutuskan menutup matanya dengan sehelai kain hitam sebagai bentuk empati pada sang suami, Destarastra yang terlahir buta dan gagal menjadi raja. Pada kisah ini, GM melihat sisi lain seorang ibu yang setiap hari mendengar berita kekalahan anak-anaknya, Kurawa, dalam peperangan melawan saudara-saudara mereka yaitu Pandawa.

Sementara dari sisi visual opera Gandari terlihat sangat sederhana, sekaligus megah karena rancangan artistik dan juga sentuhan semburat cahaya yang telah ditata apik oleh Jay Subyakto, Joonas Tikkanen, dan Taba Sanchabakhtiar.

Pada tata hias di atas panggung, didominasi oleh warna monokrom, hitam dan putih. Selebihnya warna-warna yang hadir adalah warna bumi, seperti biru, cokelat, dan merah yang digunakan para penari, penyanyi, dan juga para paduan suara. Terdapat juga dua buah tangga menuju singgasana yang sangat sederhana. Satu singgasana berisi satu kursi yang diduduki oleh narator Opera Gandari, Christine Hakim.

Mencari Jawaban
Christine Hakim yang sedang mengisahkan perjalanan hidup Gandari ini duduk termenung dengan wajahnya yang pucat, rambut terurai panjang tak tersisir rapi. Sedangkan tangannya sibuk meraba-raba selembar kain putih panjang secara berulang.

"Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan sehelai kain hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak, beberapa detik sebelum ajal,” itulah sepenggal puisi yang dibaca dengan nada sayup-sayup.

Puisi-puisi yang terlontar dari bibir narator seolah menginterpretasikan hidup seorang Gandari yang penuh dengan pertanyaan. Apakah ia harus pasrah menerima takdir yang dituliskan Tuhan untuk dirinya, ataukah ia harus terus bertanya dan mencari jawaban atas segala yang ia perbuat sebelum ajal menjemputnya?

Tidak cukup hanya melihat tata panggung dan mendengar narasi puisi Gandari. Penonton akan terlena dengan suara musik kontemporer gubahan Tony Prabowo yang memiliki ekpresi musikal. Alunan musik menyiratkan kritik terhadap konvensi estetika yang lama, dengan gagasan baru yang menantang kaidah arus utama atau mainstream.

Saat mendengar musik, penonton sesekali diajak menikmati, tetapi sekaligus terkesan mengganggu rasa tenang. Tujuannya, emosi penonton dibawa dalam kegelisahan tiada henti.

Menyaksikan opera Gandari selama 60 menit ini, bisa dibilang mengajak penonton memasuki suasana-suasana yang menyentuh mulai dari kesatuan artistik, suara, musik, dan juga tari. Penonton akan menemukan atmosfer yang berbeda, bahwa di dalam alam semesta ini ada lapisan-lapisan yang tidak dapat dijangkau oleh tangan kosong manusia



Sumber: Suara Pembaruan