Garin Nughroho Panjatkan Doa Khusus untuk Kebangkitan Alam

Garin Nughroho Panjatkan Doa Khusus untuk Kebangkitan Alam
Penari Douglas D’Krumpers, Pricillia EM Rumbiak dan Bekham Dwaa ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 17 Desember 2019 | 12:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Setelah banjir penghargaan dalam karya Kucumbu Tubuh Indahku, Garin Nugroho kembali menyuarakan kegelisahannya melalui sebuah karya. Kali ini ia akan memberikan doa dan jalan keselamatan hidup untuk mencintai alam yang mulai rusak melalui pertunjukan berjudul Planet–Sebuah Lament, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 17 dan 18 Januari 2020.

Garin Nugroho mengatakan, dirinya resah melewati tahun yang penuh dengan bencana alam di dunia. Untuk itu, ia menawarkan resolusi kepada masyarakat di awal 2020 untuk membangkitkan kembali kondisi alam yang lestari dan mencari pangan, serta energi baru.

"Beberapa budaya di dunia, ketika ada bencana atau kematian, biasanya lament akan berkumandang. Jadi lament itu adalah sebuah ratapan atau ekspresi kesedihan, tetapi dengan tujuan akhir membangkitkan berbagai nilai positif. Ini adalah bentuk dari upaya bersama kita sebagai bangsa, untuk bangkit melahirkan sesuatu yang indah dan berbudaya,” terangnya saat jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Senin (16/12/2019).

Terinspirasi dari berbagai bencana alam yang terjadi di dunia akhir-akhir ini, pentas ini memulai kisah setelah tsunami yang meluluhlantakkan peradaban dan menyisakan seorang manusia yang mencari harapan yang direpresentasikan dengan simbol telur.

Sisa satu orang manusia itu berupaya mencari cara untuk menetaskan telur sekaligus menyelamatkan diri dari limbah plastik yang telah berubah menjadi monster ganas. Pada akhir perjalanan, lahir sebuah planet baru lewat jalan panjang penebusan seusai tsunami. Sebuah perjalanan penebusan untuk mendapatkan kembali keseimbangan alam.

“Pertunjukan ini mengisahkan ratapan alam karena keserakahan manusia yang menghancurkan alam, era ketika bumi dipenuhi benda-benda perusak lingkungan dan menjadi monster yang tidak pernah mati. Isu keterbatasan pangan dan energi pasti menjadi pembahasan utama di 2020. Jadi, telur dalam karya ini adalah representasi dari pangan dan energi yang kini sedang banyak dicari," ujar Garin Nugroho.

Sebagai konsep visual, pertunjukan ini akan berkolaborasi dengan perupa dari Yogyakarta, Samuel Indratma, dan dinarasikan lewat paduan suara serta nyanyian ratapan yang menjadi kekuatan utama.

Langka

Mengusung perpaduan budaya dari Indonesia Timur (Melanesia), Garin Nugroho mengkombinasikan elemen pergerakan tubuh dari tradisi Nusa Tenggara Timur hingga Papua dengan gerak tablo dan tubuh kontemporer yang dikoreografi Otniel Tasman dan Boogie Papeda.

Pertunjukan ini juga menampilkan para penari dari berbagai daerah, antara lain Boogie Papeda, Douglas D’Krumpers, Pricillia EM Rumbiak dan Bekham Dwaa dari Papua, dan Rianto (Solo).

Menurut Garin, kolaborasi yang ia bangun untuk karya ini adalah sebuah kinerja yang langka terjadi. Bagaimana ia memusatkan budaya Melanesia dalam sebuah pertunjukan yang kompleks ini.

Pasalnya, tidak hanya penari saja yang koreografernya digarap oleh 3 komposer muda, yaitu Septina Layan, Taufik Adam, dan Nursalim Yadi Anugerah saja. Namun, pertunjukan ini juga dilengkapi dengan lantunan suara indah dari Mazmur Chorale Choir asal Kupang yang dipilih melalui proses seleksi sejak akhir tahun 2018 yang lalu.

Garin mengaku, untuk mendapatkan paduan suara yang bisa menyanyikan Lament dengan tangga nada pentatonis itu hal yang sangat sulit. Hingga akhirnya Garin bertemu dengan juara World Choir Games 2014 di Latvia yang berhasil mengelola musik dari Flores, sehingga menambah kekayaan musikal yang ada.

Sedangkan kostum para pemain ini digarap oleh Anna Tregloan dari Australia yang sekaligus berperan sebagai scenography dalam pertunjukan. Pemeran utama mengeksplorasi kostum tradisional Indonesia Timur digabungkan dengan elemen kontemporer.

"Saya sengaja banyak menyertakan seniman dari timur Indonesia. Alasan saya memilih Melanesia karen ras ini terhitung langka di dunia maupun di negeri kita sendiri. Padahal melanesia memiliki garis sejarah, kesenian, dan budaya yang sangat luar biasa dari Australia, Papua, NTT, sampai ke Flores,” ungkapnya.

Sama halnya dengan karya Opera Jawa yang telah dipentaskan di berbagai ajang seni bergengsi dunia, karya ini juga siap berkeliling dunia. Setelah pentas di Teater Jakarta, pertunjukan seni kontemporer ini akan menjadi pembuka di ASIA TOPA, Australia, sebuah festival triennial paling bergengsi untuk tiga cabang seni kontemporer, yakni musik, rupa, dan pertunjukan.

Sementara untuk tiket nonton pentas Planet-Sebuah Lament sudah bisa didapatkan melalui loket.com dan Go-Tix dengan berbagai kategori harga yakni Rp 250.000 (Bronze), Rp 450.000 (Silver), Rp 700.000 (Gold), dan Rp 1 juta (Platinum).



Sumber: Suara Pembaruan