Garin Nugroho Rayakan Indahnya Kebudayaan Melanesia

Garin Nugroho Rayakan Indahnya Kebudayaan Melanesia
Maestro seni Indonesia Garin Nugroho didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation kembali dengan karya terbarunya yang berjudul "Planet Sebuah Lament". Pementasan yang mengangkat keindahan budaya Indonesia Timur (Melanesia) dan akan ditampilkan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 17-18 Januari 2020. ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / JAS Jumat, 17 Januari 2020 | 15:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Setelah sukses dengan film Kucumbu Tubuh Indahku dan karya sineorkestra Setan Jawa yang telah dipentaskan di berbagai ajang seni bergengsi dunia, maestro seni Indonesia Garin Nugroho kembali dengan karya terbarunya. Pertunjukan berjudul Planet Sebuah Lament ini mengangkat keindahan budaya Indonesia Timur (Melanesia) dan akan ditampilkan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 17-18 Januari 2020.

Pementasan di Jakarta ini merupakan pertunjukan perdana (world premiere) sebelum dipentaskan di berbagai negara. Karya ini akan menjadi karya pembuka dalam ASIA TOPA (Asia-Pacific Triennial of Performing Arts) pada Februari 2020 mendatang di Melbourne, Australia. Karya terbaru yang merupakan hasil tim kerja dari berbagai negara yang disusun oleh Arts Centre Melbourne untuk Asia TOPA 2020 ini juga dijadwalkan akan dipentaskan di Dusseldorf, Jerman dan Amsterdam, Belanda.

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, mengatakan pihaknya mendukung pementasan ini karena Garin Nugroho selalu menyajikan pemikiran dan sudut pandang yang unik dalam kreativitas karyanya. Tak jarang ia juga menyisipkan pesan-pesan kemanusiaan untuk menjadi bahan renungan. Dalam pementasan Planet Sebuah Lament ini, Garin Nugroho menyuarakan pesan perdamaian dan mengajak melihat alam yang semakin rentan oleh perusakan.

“Perpaduan budaya Indonesia Timur (Melanesia) yang ditampilkan dalam gerak tubuh, musik, dan vokal juga menjadi sebuah diplomasi kebudayaan untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia ke panggung-panggung internasional,” ujar Renitasari dalam keterangan pers.

Planet Sebuah Lament merupakan sebuah ratapan alam karena keserakahan manusia. Naskah yang dituliskan oleh Michael Kantor, sutradara teater dan opera kenamaan Melbourne ini mengangkat isu lingkungan hidup. Perubahan iklim menjadikan banyaknya bencana alam di dunia dan Indonesia, dan membuat manusia mencari keselamatan untuk menemukan pangan dan energi yang diperebutkan terus-menerus.

Planet Sebuah Lament merupakan sebuah renungan lewat lagu, ekpresi dan tari yang berkisah pascatsunami, ketika manusia hanya disisakan sebuah telur sebagi simbol pangan dan energi. Sementara, plastik dan benda rongsokan tak terurai menjelma menjadi monster yang memburu energi.

Sebuah pertarungan upaya keselamatan dan kebinatangan di tengah berbagai bencana alam di bumi.

Garin mengatakan ketertarikannya dengan lament (lagu ratapan) ini sejak 7 tahun yang lalu karena sesungguhnya lament menjadi ratapan sejarah purba dunia, baik ratapan hilangnya kota-kota dan rusaknya peradaban karena perang atau bencana alam. Perjalanan Planet Sebuah Lament terasa dipenuhi oleh peristiwa yang tidak terduga, antara lain tsunami Aceh, konflik berdarah di beberapa sudut negeri, kebakaran hutan di Riau, hingga peristiwa Paskah di Pulau Procida, Italia hingga Larantuka.

“Bagi saya, semua itu adalah jalan lament, sebuah kisah mengalami kepedihan kemanusiaan untuk menemukan jalan cinta dan kebangkitan yang harus dihidupkan ketika dunia begitu keras dan vulgar,” kata Garin.

Pertunjukan yang menggabungkan teater, film, terian-tarian, dan lagu ini mengusung perpaduan budaya dari Indonesia Timur (Melanesia) yang begitu kaya dengan kekayaan tari dan lagu serta tema lingkungan. Garin mengambil referensi tablo jalan salib yang ada di Larantuka, Flores Timur. Tiap babak dinarasikan melalui paduan suara dan lagu-lagu ratapan pada transisinya.

“Sebagai konsep visual, saya memasukkan unsur empat film pendek, masing-masing 3-5 menit. Empat film pendek ini juga berfungsi sebagai ruang dan waktu, simbolisasi jalan salib dan representasi bumi atau planet. Ini merupakan sebuah lament menemukan planet keselamatan,” tambahnya.



Sumber: Investor Daily