Program Rekam Pandemi Angkat 8 Persoalan Para Seniman

Program Rekam Pandemi Angkat 8 Persoalan Para Seniman
Seniman tari menunjukkan koreografi secara daring pada peringatan Hari Tari Sedunia, di Bandung, Jawa Barat, belum lama ini. (Foto: Antara Foto)
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 25 Juni 2020 | 22:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN) dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan mengembangkan program jaring pengaman sosial bernama Rekam Pandemi untuk pekerja seni. Program ini akan terbagi dalam delapan tema yang mewakili beragam bentuk persoalan yang ada dalam masyarakat akibat Pandemi Covid-19.

Di antaranya belajar dari rumah, religi dan mitos, lebaran masa pandemi, usaha mandiri, isu lingkungan, gotong royong, kreativitas masa pandemi, dan perubahan perilaku keluarga.

“Jadi, persoalan-persoalan yang sangat lokal, spontan dan sehari hari menjadi bagian dari perubahan sosial masyarakat di masa Pandemi Covid 19 ini. Semua itu direkam oleh mereka yang berada terdekat dengan peristiwanya,” ungkap Ketua ADN Tonny Trimarsanto, dalam jumpa pers virtual di saluran YouTube Budaya Saya, Kamis (25/6/2020).

Salah satu anggota ADN yang berdomisili di Samarinda, Kalimantan Timur, Nur Afni Oktavitrianingtyas menceritakan, bagaimana situasi pandemi saat bulan Ramadan di daerahnya. Dengan pembatasan sosial yang dihimbau oleh pemerintah, masyarakat Samarinda terpaksa meninggalkan tradisi turun menurun mereka yaitu membuat bubur peca.

“Tradisi buka puasa di Samarinda sudah berlangsung 150 tahun lebih. Baru karena pandemi ini tidak ada. Perubahan itu yang kami rekam. Penduduk merasakan perbedaannya sekali. Ketika buka puasa jemaah di Masjid cagar budaya Shirathal Mustaqiem itu bisa 500 orang. Tetapi saat pandemi, momen untuk masak bareng dan bekumpul ditiadakan,” jelasnya.

Sementara Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Ditjen Kebudayaan Ahmad Mahendra menambahkan, dokumentasi akan disinergikan dengan program Kementerian Pendidikan Kebudayaan yakni Belajar dari Rumah, bekerja sama dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang telah diluncurkan 13 April 2020.

“Harapannya anak-anak di rumah bisa mendapat ilmu pengetahuan baru selain dari mata pelajaran. Dan ke depannya, rekaman ini bisa kita perlihatkan juga kepada dunia,” tukas Ahmad Mahendra.



Sumber: BeritaSatu.com