Mengenang Enam Kisah Rakyat dengan Balutan Modern

Mengenang Enam Kisah Rakyat dengan Balutan Modern
Dea Panendra memerankan tokoh Ribayah dalam Malin Kundang. (Foto: SP/Dina Fitri Anisa / isimewa)
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 16 Juli 2020 | 22:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mengisi kekosongan di masa pandemi, 200 pekerja seni berpadu dalam sebuah proyek #MusikalDiRumahAja. Dalam proyek tersebut, mereka mengemas enam kisah rakyat dengan format daring yang dapat disaksikan melalui akun YouTube IndonesiaKaya.

Program Director Indonesiakaya.com, Renitasari Adrian mengatakan, proyek ini dibuat untuk mendukung seni pertunjukan Indonesia dan memberikan hiburan informatif bagi para penikmat seni yang berada di rumah.

Menurutnya, pandemi Covid-19 ini telah mengubah ruang pentas yang identik dengan bangunan fisik ke dalam ruang virtual, dan mendorong para pekerja seni untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru.

"Keterbatasan pertemuan fisik tidak membuat kreativitas juga terbatas. Hal ini dibuktikan oleh para pekerja seni yang tergabung dalam program #MusikalDiRumahAja. Meski melakukan seluruh proses produksi di rumah masing-masing, mereka berhasil menghasilkan suatu karya musikal online yang luar biasa. Ini sekaligus menjadi bukti cinta pada seni pertunjukan Indonesia,” tuturnya dalam jumpa pers daring, Kamis (16/7/2020).

Produser eksekutif #MusikalDiRumahAja, Bayu Pontiagust menjelaskan, kisah rakyat ini adalah bentuk kolaborasi yang akan mencetak sejarah di tengah pandemi. Mengingat, proyek ini akan menghidupkan kembali enam cerita rakyat seperti Malin Kundang, Sangkuriang, Timun Mas, Lutung Kasarung, Rara J, serta Bawang Merah dan Bawang Putih.

Untuk mendapat persembahan yang spesial, #MusikalDiRumahAja memutuskan melibatkan enam sutradara teater, enam sutradara film, enam sinematografer, tujuh penata musik, serta 44 aktor, aktris dan penari Indonesia yang akan menampilkan karya dengan tampilan yang berbeda.

"Pandemi ini memberikan banyak perubahan dalam hidup kita. Tanpa kita sadari banyak hal yang kita takutkan menjadi kenyataan, namun kita pun belajar untuk beradaptasi dengan situasi baru ini dengan menerima segala kekurangan kita sehingga kita bisa mengasah kembali kelebihan kita,” ujar Bayu.

Enam cerita rakyat Indonesia, yang dibuat dalam dalam kemasan baru ini mengangkat cerita dengan adaptasi dari segi cerita dan penggunaan teknologi secara online. Pembuatan dari segi cerita mengikuti karakter dari sutradara teater dan film beserta genre musik berdasarkan interpretasi masing-masing sutradara.

Elemen dari seni teater, seni tari, seni suara dan teknologi film menjadi satu untuk menciptakan karya baru bagi dunia kreatif Indonesia. Semua cerita hampir sebagian besar persiapannya dilakukan online dan pengambilan gambar mengikuti aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlaku.



Sumber: BeritaSatu.com