Sapardi Djoko Damono Meninggal, tetapi Puisinya Abadi

Sapardi Djoko Damono Meninggal, tetapi Puisinya Abadi
Sapardi Djoko Damono. (Foto: Antara)
Faisal Maliki Baskoro / Dina Fitri Anisa / FMB Minggu, 19 Juli 2020 | 11:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sastrawan Sapardi Djoko Damono, Minggu (19/7/2020), meninggal dunia. Berdasarkan informasi yang diterima redaksi, Sapardi mengembuskan napas terakhir di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, pukul 09.17 WIB.

Sapardi bisa dibilang adalah salah satu penulis puisi paling terkenal dan berpengaruh di Indonesia. Karya-karyanya menyentuh begitu dalam. Inspirasinya berasal dari alam dan bercerita tentang cinta hingga perjuangan kemerdekaan.

Sebelum wafat, pria kelahiran Solo, 23 Maret 1940 ini sempat mendapat perawatan di RS Eka BSD karena kinerja organ tubuhnya telah menurun. Kabar tersebut pertama kali disampaikan oleh sutradara dari Komunitas Teater Keliling, Rudolf Puspa.

Sapardi Djoko Damono, atau yang sering disebut SDD, telah menulis sejak usianya 17 tahun. Mulanya ia menulis puisi karena tertarik pada sosok-sosok pujangga legendaris, WS Rendra dan TS Elliot.

Bermodalkan 'suka', Sapardi terus menggeluti sastra secara bertahap dengan memberikan tulisannya pada media. Mulai dari sini, ia terus menekuninya. Beberapa puisi romatisnya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin yang hingga kini sering dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan.

Kemudian juga kumpulan puisi, Hujan Bulan Juni yang kemudian dialihwahanakan menjadi sebuah film. Serta beberapa lainnya yang tak kalah populer adalah, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari.

Sederet apresiasi diterimanya dan dari sanalah dia mendapatkan emosi yang positif yang terus memotivasinya. Pada tahun 1986, SDD mendapatkan anugerah SEA Writer's Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003.

Berikut adalah beberapa puisi karya Sapardi untuk dikenang:

Judul: Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Judul: Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Judul: Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

Judul: Kuhentikan Hujan
Kuhentikan hujan
Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan

Ada yang berdenyut dalam diriku
Menembus tanah basah
Dendam yang dihamilkan hujan
Dan cahaya matahari
Tak bisa kutolak

Judul: Atas Kemerdekaan
Kita berkata: jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya: langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk

mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu:
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah



Sumber: BeritaSatu.com