Adaptasi Kebiasaan Baru Melalui Budaya dan Gaya Hidup

Adaptasi Kebiasaan Baru Melalui Budaya dan Gaya Hidup
Para penari kecak di Uluwatu, Bali, selalu mengenakan alat pelindung diri saat menari di era normal baru pascapandemi Covid-19. (Foto: Humas Kemparekraf / isimewa)
Dina Manafe / EAS Jumat, 24 Juli 2020 | 22:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Situasi pandemi Covid-19 telah membawa banyak perubahan kepada masyarakat hampir di seluruh dunia. Perubahan yang terjadi salah satunya masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan dan juga kebersihan diri dan lingkungan.

Kebiasaan seperti menggunakan masker jika keluar rumah, mencuci tangan dan menjaga jarak dengan orang lain kini sudah  melekat di setiap aktivitas kehidupan. Hal tersebut seakan menjadi norma atau budaya baru masyarakat Indonesia.

Berkaitan dengan hal ini Sosiolog Universitas Airlangga Prof Dr Bagong Suyanto mengatakan bahwa kebiasaan baru yang muncul saat situasi pandemi ini harus atas kesadaran masyarakat sendiri, dan tidak bisa diterapkan secara paksa.

"Pemerintah mengharapkan kebiasaan baru, bukan dilakukan karena terpaksa. Tetapi, dilakukan karena kesadaran, rasa tanggung jawab masyarakat sendiri,” ujar Prof Bagong saat dialog di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Jakarta, Jumat (24/7/2020).

Menurut Prof Bagong, pemerintah telah melakukan upaya untuk membantu masyarakat dalam beradaptasi dengan kebiasaan baru melalui aturan-aturan hukum yang telah berlaku dan yang terpenting adalah dengan cara persuasi.

"Jadi yang kita pahami mereka juga korban itu, korban Covid-19, tidak mungkin kita meminta mereka mengembangkan budaya baru, cara hidup baru, perilaku yang baru, hanya dengan ancaman sanksi,” kata Bagong.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, pemerintah turut melakukan kolaborasi dengan para selebriti mulai dari micro celebrity dan celebrity influencer diminta untuk membantu melakukan edukasi kepada masyarakat tentang adaptasi kebiasaan baru selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, pendekatan yang dilakukan untuk melakukan edukasi kepada masyarakat juga harus disesuaikan dengan latar belakang mereka masing-masing agar tersampaikan lebih efektif.

“Subjek itu tidak mungkin bisa meratakan. Jadi, harus dipahami. Subjek itu partikular. Jadi, dia punya masing-masing komunitas itu punya subkultur yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, idiom-idiom percakapan yang berbeda,” kata Bagong.

Sementara budayawan Teater Koma Sari Madjid mengungkapkan, sekarang dunia pertunjukan seni juga sudah mulai menerapkan kebiasan baru tersebut di dalam kegiatannya.

“Memang ada beberapa versi. Maksudnya gini, misalnya di tari, mereka juga sudah mulai membuat kostum dengan face shield, itu menjadi bagian dari kostum. Ada juga yang masker menjadi bagian dari kostum,” kata Sari.

Sari mengatakan, pembuatan aturan-aturan tentang penggunaan properti saat pertunjukan di masa pandemi juga sudah dikoordinasikan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Aturan tersebut di antaranya adalah tentang penggunaan alat rias dan kostum bagi para aktor.

Meski masih dalam tahap adaptasi, para seniman kini sudah berusaha untuk membuat kebiasaan baru tersebut menjadi gaya hidup mereka, sehingga bisa tetap produktif berkarya di masa pandemi Covid-19.

Baik Bagong maupun Sari sepakat bahwa untuk mengubah kebiasaan baru ini menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia diperlukan pendekatan yang berbasis gaya hidup. Pemberian penghargaan dan sanksi juga akan efektif untuk membudayakan kebiasaan baru pada masyarakat.



Sumber: BeritaSatu.com