Mengenang Ajip Rosidi

Mengenang Ajip Rosidi
Ajip Rosidi. (Foto: SP/Adi Marsiela)
Adi Marsiela / AB Jumat, 31 Juli 2020 | 10:44 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Kabar duka itu datang beberapa saat menjelang Kamis, 30 Juli 2020. Iman Soleh, dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) sekaligus inisiator komunitas Celah-Celah Langit mengabarkan penggagas Yayasan Budaya Rancage, Ajip Rosidi, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Tidar, Magelang, Rabu, 29 Juli 2020 sekitar pukul 22.30 WIB lewat akun Facebook-nya.

Saya mengenal Ajip pertama kali lewat Hadiah Sastera Rancagé, kegiatan rutin yang digelar Yayasan Kebudayaan Rancagé guna mengapresiasi para penulis sastra dalam bahasa ibu. Pertemuan awal itu terjadi selepas Ajip memberikan hadiah Sastera Rancage tahun 2006 di auditorium Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Narasumber yang galak. Begitu kesan awal yang saya dapati dari sosok almarhum. Dia sangat marah saat ada wartawan televisi yang bertanya soal penghargaan itu dengan pelafalan yang salah. Rancagé, asalnya dari bahasa Sunda yang berarti cakap. Saat dilafalkan dengan logat kebarat-baratan, Ajip meradang.

Wartawan lain pun seperti enggan melanjutkan wawancara. Namun, saat ditanya kenapa dirinya mau bersusah payah mengupayakan acara penghargaan itu bergulir setiap tahunnya, Ajip bersemangat menjelaskannya. “Kita tidak pernah minta dilahirkan di daerah Sunda, namun itu sudah merupakan ketentuan dari Tuhan. Sudah seharusnya kita menghargai yang ada di tempat kita, dalam hal budaya dan juga bahasa,” kata Ajip saat itu.

Dia gelisah karena pemerintah tidak memanfaatkan buku-buku karya sastra yang mendapat hadiah Sastera Rancagé sebagai bacaan di perpustakaan-perpustakaan sekolah, apalagi pelajaran. “Bukankah tugas utama pemerintah adalah mencerdaskan anak bangsa negeri ini dengan menyediakan buku-buku bermutu, selain sistem pendidikan yang bermutu,” tutur Ajip.

Saat itu penghargaan baru mencakup penulisan dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali. Ajip mulai memberikan penghargaan pada tahun 1989 untuk karya yang terbit pada tahun 1988. Pada tahun 2020, pembacaan pemenang dilakukan di Jebor Hall Jatiwangi Art Factory, Majalengka, tempat kelahiran Ajip. Pemberian penghargaan sudah melebar ke bahasa ibu lain, seperti Batak, Banjar, Lampung, hingga Madura.

Konsistensi Ajip lewat pemberian penghargaan itu patut diapresiasi. Selain memberikan penghargaan, Ajip juga ikut mendirikan dan mengawal penerbitan Pustaka Jaya pada awal 1970-an. Belakangan, penerbitan ini jadi tempat Ajip memproduksi buku-bukunya yang ditulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia.

Kecintaannya pada bahasa Nusantara ini terlihat juga dari koleksi di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut, Bandung. Perpustakaan dengan koleksi terkait budaya dan sastra itu jadi cita-cita Ajip sejak lama.

Ajip berpandangan, para ilmuwan yang menaruh perhatian pada kebudayaan-kebudayaan di dunia tidak menganggap penting Sunda dan budaya Sunda karena tidak ada perpustakaan yang khusus menyimpan buku dan bahan-bahan lain mengenai Sunda dan kebudayaan Sunda itu. “Bahkan, orang Sunda tidak banyak yang meneliti dan menulis karya ilmiah mengenai orang Sunda dan kebudayaannya,” ujar Ajip di sela-sela peresmian perpustakaan itu pada 2015 silam.

Ajip rela tinggal di Leiden, Belanda, selama satu bulan guna menyusun Enskilopedi Sunda. Bahan-bahan yang ada di Perpustakaan Nasional dianggap kurang lengkap untuk penulisan ensiklopedi tersebut. Pengalaman itu dia bawa ke Konferensi Internasional Budaya Sunda I yang diselenggarakan Yayasan Kebudayaan Rancagé pada Agustus 2002.

Konferensi itu menyepakati dibentuknya Yayasan Pusat Studi Sunda yang didukung oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé bersama para budayawan Sunda. Keputusan lainnya adalah mendirikan perpustakaan sebagai salah satu program Yayasan Pusat Studi Sunda.

Tawaran untuk menggunakan Gedung Merdeka sebagai perpustakaan sempat mencuat, tetapi Ajip menolaknya. Ketua Dewan Kesenian Jakarta 1972-1981 ini belajar dari penarikan izin bagi Perpustakaan Yayasan Idayu di Gedung Kebangkitan Nasional oleh Gubernur DKI Jakarta Suprapto. Alasannya, bangunan itu akan digunakan untuk kepentingan Pemerintah DKI Jakarta. Padahal, awalnya penggunaan gedung perpustakaan itu awalnya didukung Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta sebelumnya.

“Saya merasa khawatir kalau misalnya Yayasan Pusat Studi Sunda mendapat izin tapi mendadak dibatalkan. Bagaimana? Ke mana akan pindah? Sampai sekarang Yayasan Idayu belum dibuka lagi, sebab tidak mempunyai tempat. Buku-bukunya entah di mana sekarang,” tutur Ajip yang melelang beberapa koleksi lukisannya untuk merealisasikan bangunan perpustakaan senilai Rp 7 miliar.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan Rp 1,4 miliar untuk pembangunan perpustakaan yang sekarang punya koleksi sedikitnya 40.000 judul buku itu. Bantuan itu dia terima karena memang diberikan. Ajip yang saya kenal, selain konsisten dengan sikapnya, juga urung meminta bantuan pada pemerintah.

Salah satu ketegasan itu terlihat saat Ajip mengembalikan penghargaan dan hadiah Habibie Award 2009. Ajip mengembalikan piagam medali emas dan mencicil uang tunai sebesar 25.000 dolar Amerika karena tidak sepakat dengan keputusan penyelenggara Habibie Award yang menganugerahkan penghargaan serupa bagi guru besar sejarah Universitas Padjadjaran, Nina Herlina Lubis pada 2015 lalu.

Ajip mencantumkan alasannya secara tertulis dalam buku Mengapa Saya Mengembalikan Hadiah Habibie yang diterbitkan saat ulang tahunnya ke-81 di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI. Pada saat itu, Ajip mengaku baru selesai mencicil pengembalian hadiah uang Habibie Award.

Sejak pertama kali membukukan tulisannya pada 1952, Ajip yang kerap mengkritisi sikap orang Sunda ini sudah menerbitkan setidaknya 140-an judul buku. Baik itu kumpulan cerita pendek, sajak, roman, drama, esai, kritik, terjemahan, hingga surat-surat kepada koleganya.

Meski tidak pernah mengantongi ijazah selama hidupnya, Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia menganugerahkan gelar doktor kehormatan bagi Ajip pada 2008. Ganjar mengakui penghargaan itu sempat terhambat karena ada syarat penerimanya minimal memiliki ijazah SMA. “Saya tidak mau meminta,” kata Ajip.

Kepergian Kang Ajip untuk selama-lamanya ini meninggalkan kekosongan, setidaknya buat saya. Semasa hidupnya, almarhum berani menyampaikan kritik secara terbuka, khususnya kepada pemikir atau penulis Sunda.

“Orang Sunda masih takut mengembangkan kebudayaannya sendiri. Ini terkait mentalitas manut ka dunungan (menurut pada majikan). Ini karena kebiasaan dijajah sehingga orang Sunda sangat tergantung pada penilaian orang lain,” tegas Ajip saat Konferensi Internasional Budaya Sunda II tahun 2012.

Kritik itu dia maksudkan agar generasi muda Sunda makin banyak berkiprah di kancah nasional dan internasional. Memperkuat budaya Sunda, berarti memperkuat ke-Indonesia-an. Sama halnya dengan budaya-budaya lainnya. Selamat jalan Kang Ajip. Karya dan tulisanmu akan tetap abadi. 



Sumber: BeritaSatu.com