33,4 Juta Warga Mudik

33,4 Juta Warga Mudik
Kendaraan pemudik memadati pintu gerbang tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Kamis, 30 Mei 2019. ( Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara )
Herman / Siprianus Edi Hardum / ALD Jumat, 31 Mei 2019 | 15:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) memprediksi jumlah warga yang pulang ke kampung halaman (mudik) selama Lebaran 2019 mencapai 33,4 juta orang. Dari jumlah itu, 22,83 juta di antaranya mudik menggunakan transportasi umum. Jumlah ini naik 4,14% dibandingkan periode mudik Lebaran 2018 lalu.

Sedangkan total pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi diperkirakan sebanyak 10,61 juta orang. Perinciannya, dengan mobil sebanyak 3,76 juta orang dan motor sebanyak 6,85 juta orang. Jumlah pemudik dengan kendaraan pribadi ini naik 13,09 persen dibandingkan tahun lalu.

Data tersebut diungkapkan Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Cucu Mulyana, di Jakarta, Kamis (30/5).

Adapun untuk moda transportasi yang mengalami kenaikan paling besar selama periode mudik Lebaran tahun ini adalah bus yang naik 3,88% menjadi 4,68 juta penumpang. Selanjutnya, jumlah penumpang kereta api naik 3,41% menjadi 6,45 juta penumpang, kapal laut naik 3,68% menjadi 1,08 juta penumpang, dan pesawat naik 3,17% menjadi 5,78 juta penumpang.

"Untuk Lebaran tahun ini, peningkatan jumlah pemudik yang menggunakan bus dan mobil pribadi memang diprediksi paling besar. Yang sebelumnya naik pesawat ada yang beralih ke bus atau mobil. Salah satu pemicunya karena akses tol yang sudah semakin baik," kata Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi.

Sementara itu untuk moda trasportasi kereta api, pada periode Lebaran tahun ini yang dimulai dari tanggal 26 Mei sampai 16 Juni 2019, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyediakan 416 KA yang terdiri dari 356 KA Reguler dan 60 KA Tambahan.
Khusus untuk pemudik dari wilayah Jabodetabek, prediksinya akan mencapai 14,9 juta orang. Dari jumlah pemudik asal Jabodetabek ini, 5,6 juta merupakan pemudik tujuan Jawa Tengah, 3,7 juta pemudik tujuan Jawa Barat, dan 1,6 juta tujuan Jawa Timur.

Moda terbanyak yang digunakan pemudik dari Jabodetabek adalah bus sebanyak 4.459.690 orang, kendaraan pribadi 4.300.346 orang, kereta api 2.488.058 orang, pesawat 1.411.051 orang, dan sepeda motor 942.621 orang.

Kemhub juga telah memetakan sejumlah titik rawan kecelakaan dan kemacetan di jalan tol Trans Jawa pada saat mudik Lebaran tahun ini. Budi Setiyadi menyampaikan, titik rawan kecelakaan yang harus diwaspadai terutama di wilayah Tegal sampai ke wilayah Timur. Di lokasi inilah puncak kelelahan pemudik yang melakukan perjalanan dari Jakarta. "Kalau ada kecelakaan lalu lintas, biasanya terjadi di sekitar Semarang sampai dengan Solo dan Salatiga," kata Budi Setiyadi.

Sementara itu untuk jalan tol Sumatera, yang paling menjadi perhatian adalah menyangkut aspek keamanan. Meskipun jalan tol dari Pematang Pangang sampai Kayu Agung sudah bisa difungsikan, sifatnya masih jalan tol fungsional. Dibukanya pun hanya pagi hari dan satu lajur saja.

"Saya sudah sampaikan ke kapolda di sana, mereka bilang akan menyiapkan petugas-petugas khusus yang akan menindak dengan tegas kalau ada gangguan keamanan di jalan-jalan sekitar jalan tol baru di Sumatera," kata Budi.

Terkait titik kemacetan yang perlu diantisipasi, Budi menyampaikan titik macet pertama kemungkinan akan terjadi di tol Palimanan menuju Cirebon. Hal itu terjadi, karena pemudik yang berangkat dari Jakarta menuju Cirebon akan keluar di pintu tol Plumbon menuju arah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon sampai dengan Majalengka. Titik kemacetan kedua ada di pintu keluar Tol Ciperna, sebab di titik tersebut juga banyak pemudik dari arah Jakarta yang hendak menuju Cirebon, Kuningan, hingga ke Ciamis.

"Kemacetan juga diprediksi akan terjadi di Tol Pejagan karena banyak pemudik yang akan ke arah Bumi Ayu, Brebes, Cilacap, sampai Purwokerto. Berikutnya di Tegal sampai dengan Purbalingga. Terakhir di Kalikampung Semarang," papar Budi.

Antrean kendaraan juga diprediksi akan terjadi di pintu keluar Tol Singosari, Malang. Pasalnya setelah pemudik keluar dari exit tol tersebut akan langsung bertemu dengan jalan utama menuju Kota Wisata Batu, sehingga berpotensi terjadi banyak antrean kendaraan.

Penumpang Pesawat
Pada periode mudik Lebaran 2019, salah satu moda transportasi yang mengalami pertumbuhan penumpang paling sedikit adalah pesawat. Dirjen Perhubungan Udara, Polana B Pramesti menyampaikan, pada masa angkutan Lebaran yang dimulai 29 Mei hingga 13 Juni 2019 atau H-7 hingga H+7, diprediksi akan terjadi penurunan pertumbuhan jumlah penumpang pesawat untuk rute domestik dari 4,49% di 2018 menjadi 2,38% di 2019. Begitu juga dengan rute internasional yang turun dari 11% di 2018 menjadi 7,8% di 2019.

"Tahun ini prediksinya akan ada penurunan pertumbuhan jumlah penumpang. Kalau di rata-ratakan untuk rute domestik dan internasional, pertumbuhannya dalam 16 hari periode mudik Lebaran tahun ini sekitar 3,17%," kata Polana.

Penurunan pertumbuhan jumlah penumpang ini juga terlihat dari permintaan penambahan penerbangan (extra flight) yang tidak sebanyak tahun lalu. Dari data Kemenhub, realisasi extra flight periode Lebaran 2018 lalu mencapai 2.403. Extra flight itu terbagi dua, yakni 2.253 penerbangan domestik dan 150 penerbangan internasional. Sedangkan di periode Lebaran 2019, dari data yang disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono pada 29 Mei 2019 lalu, pihaknya baru mengeluarkan 357 Flight Approval (FA ) untuk rute domestik, sedangkan 47 Flight Approval untuk rute internasional.

Hal senada diungkapkan Vice President Corporate Secretary PT Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan. Dibandingkan hari biasa, menurut Ikhsan, penjualan tiket di periode mudik Lebaran tahun ini sebetulnya meningkat sekitar 15%. Tetapi jika dibandingkan dengan periode mudik Lebaran tahun lalu, peningkatannya di tahun ini sedikit lebih rendah dan masih dapat diakomodasi oleh penerbangan reguler.

"Peningkatan permintaan masih dapat diakomodasi dalam penerbangan reguler yang ada. Namun, kita dalam posisi standby bila diperlukan extra flight, dan bila peningkatan permintaan memerlukan extra flight," kata Ikhsan.

Terkait harga tiket pesawat yang dirasa mahal oleh masyarakat, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Sugihardjo menyampaikan, harga tiket pesawat di periode Lebaran tahun ini sebetulnya lebih murah dibandingkan Lebaran tahun lalu. Pasalnya pemerintah telah mengeluarkan aturan penurunan tarif batas atas (TBA) di kisaran 12% sampai 16%. Sejauh ini juga belum ada maskapai yang melanggar tarif batas atas penerbangan yang sudah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 tersebut.

"Memang ada isu terkait kenaikan tarif angkutan udara. Tetapi sebetulnya khusus untuk tarif angkutan Lebaran, tiket pesawat ini bukannya naik, tetapi turun dibandingkan Lebaran tahun lalu. Yang dirasakan masyarakat naik itu pada periode sebelum Lebaran saat tarif batas atasnya belum diturunkan," kata Sugihardjo.

Kemhub memprediksi puncak arus mudik Lebaran menggunakan pesawat udara akan terjadi pada 31 Mei 2019, sementara puncak arus balik pada 9 Juni 2019.