Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Menyerang Tak Bisa, Bertahan Tak Bisa, Kenapa Quartararo?

Minggu, 2 Oktober 2022 | 23:26 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA
Pembalap Yamaha Fabio Quartararo, kedua kiri, berlaga di Grand Prix Thailand, 2 Oktober 2022.

Beritasatu.com – Dalam tujuh balapan terakhir, pemimpin klasemen MotoGP Fabio Quartararo telah kehilangan 89 poin atas rival utamanya Fransesco Bagnaia.

Usai Grand Prix Jerman pada 19 Juni lalu, dia unggul jauh atas si pembalap Ducati sebanyak 91 poin, tetapi setelah Grand Prix Thailand, Minggu (2/10/2022), jarak mereka berdua tinggal dua poin

Dari tujuh balapan mulai Belanda sampai Thailand, hanya sekali motor Yamaha Quartararo bisa unggul atas Bagnaia, itu pun karena lawannya jatuh saat di Sirkuit Motegi pekan lalu.

Gagal menaklukkan Bagnaia adalah satu hal, tetapi kehilangan begitu banyak poin adalah indikasi berikutnya bahwa dia juga lebih sering gagal menaklukkan para pembalap lain termasuk mereka yang di atas kertas lebih rendah levelnya.

Lalu, Quartararo jatuh dua kali saat berusaha menyerang lawan di depannya di Sirkuit Assen dan Sirkuit Aragon, dan hanya finis ke-17 saat balapan basah di Sirkuit Buriram.

Dalam tujuh seri terakhir, hasil terbaiknya adalah finis kedua di Austria. Total antara Belanda dan Thailand dia mendapat 47 poin.

Dalam kurun waktu yang sama, Bagnaia mendapat 136 poin

Juga dalam periode tersebut, kita lebih sering melihat sang juara dunia bertarung di papan tengah melawan Luca Marini, Pol Espargaro, Maverick Vinales, atau Brad Binder, sementara rombongan terdepan dikuasai para penunggang Ducati.

Banyak faktor yang menjadi kendala dan masing-masing berbeda di setiap balapan.

Misalnya saat di Thailand.

“Hujan turun di saat yang paling tidak tepat bagi kami. Kami tidak punya banyak waktu untuk menyesuaikan dengan trek basah sebelum balapan dimulai – hanya ada beberapa menit,” dalihnya dalam pernyataan yang diterima redaksi.

Oke, tetapi bukankah kondisi yang sama dihadapi semua pembalap? Dan bukankah panitia menunda start hingga 55 menit dari jadwal semula?

“Putaran-putaran pertama di balapan sangat menyulitkan. Saya dipepet oleh Jack [Miller] di tikungan pertama dan dari situ semuanya bertambah buruk,” imbuhnya.

Selain itu dia juga mengeluhkan jarak pandang yang buruk karena hujan, kondisi yang umum dialami para pembalap di belakang akibat cipratan air dari yang di depan.

Di seri-seri sebelumnya, Quartararo juga kerap mengeluhkan tekanan ban yang mendadak naik tanpa diketahui penyebabnya, juga hilangnya akselerasi saat keluar dari tikungan.

Ini masalah serius, karena akselerasi di tikungan adalah kelebihan utama Yamaha untuk bisa menyaingi motor Ducati yang tidak tertandingi di trek lurus. Tanpa itu, Yamaha adalah mesin medioker di kelas MotoGP saat ini.

Problem yang sama dihadapi Honda, tetapi faktanya dalam dua balapan terakhir Quartararo selalu dikalahkan oleh Marc Marquez, yang sudah absen hampir empat bulan karena menjalani operasi lengan.

Mungkinkah kinerjanya yang turun drastis ini diakibatkan oleh dirinya sendiri?

Sejak jatuh saat berusaha menyalip Aleix Espagaro di Belanda, Quatararo seperti kehilangan kepercayaan dirinya. Dia memang dikenal sebagai pembalap yang berpikir jangka panjang dan mengutamakan posisi di klasemen daripada mengambil risiko berlebihan untuk memenangi balapan.

Pendekatan itu diadopsi oleh dia setelah musim 2020 di mana dia dikalahkan oleh Joan Mir karena sering melakukan kesalahan sendiri.

Namun, kehati-hatian dia terlihat makin berlebihan sejak peristiwa di Belanda dan mematikan kreativitas serta inisiatif untuk memulai serangan.

Di Thailand misalnya, ketika sudah tertutup peluang untuk finis di zona poin, kenapa dia tidak berjudi dengan mengganti motor ban slick saat trek mulai kering? Toh kalau gagal sama juga tidak dapat poin, tetapi kalau berhasil dia bisa melonjak posisinya dari urutan ke-17.

Sisi menariknya adalah, dengan selisih hanya dua poin dan tiga balapan tersisa, mungkin dia akan mengubah total pendekatannya mulai dari Grand Prix Australia mendatang.

“Kami akan berusaha tampil lebih tangguh di Australia,” janjinya.

Namun, Sirkuit Phillip Island mungkin bukan tempat yang tepat karena treknya lebih bersahabat untuk motor Ducati, dan ada delapan Desmosedici yang mengepungnya.

Kalau dia tampil biasa saja seperti dalam tujuh balapan terakhir, gelar juara dunia mungkin memang tidak layak baginya musim ini.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI