Pahlawan di Medan Perang Wabah "Corona"
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Pahlawan di Medan Perang Wabah "Corona"

Tajuk: Suara Pembaruan

Jumat, 17 April 2020 | 08:00 WIB

Para dokter dan pekerja medis yang berjibaku merawat dan berusaha menyembuhkan pasien penderita corona adalah pahlawan. Meski sudah menjadi tugas dan kewajiban dalam keseharian, menangani pasien corona saat ini sama dengan terjun ke medan laga. Risiko ada di depan mata, yakni ikut terpapar dan bahkan meninggal.

Data Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyebutkan, hingga Kamis (16/4), sekurangnya ada 23 dokter yang meninggal dunia karena terkonfirmasi positif corona atau berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Sebagian dari mereka adalah dokter yang langsung menangani pasien corona. Sebagian lain meninggal karena diduga tertular pasiennya saat menangani pasien non-corona. Profesi dokter gigi, misalnya.

Data terakhir dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyebutkan, ada 12 perawat yang meninggal dunia terkait Covid-19. Data tersebut dicatat dari 12 Maret sampai 11 April 2020. Semua perawat yang meninggal tersebut dalam kategori PDP Covid-19.

Jumlah tenaga medis yang terpapar Covid-19 gamblang diwartakan hanya oleh Pemprov DKI Jakarta. Sekurangnya terdapat 174 tenaga medis yang dinyatakan terinfeksi virus corona atau Covid-19. Angka ini hanya di Jakarta. Mereka tersebar di 41 rumah sakit, empat puskesmas, dan satu klinik.

Sedangkan jumlah keseluruhan tenaga medis yang terpapar seantero Indonesia seharusnya diwartakan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Entah berapa dan jumlah itu kemungkinan besar akan terus bertambah.

Terdapat 368.822 tenaga medis yang terjun langsung menangani wabah corona. Mereka ini terdiri dari 1.976 dokter spesialis paru, 6.656 dokter spesialis penyakit dalam, dan 30.678 dokter umum. Sedangkan, 329.512 orang lainnya adalah perawat. Merekalah yang paling berisiko terpapar karena profesi yang digeluti, meski dokter lain pun tak tertutup kemungkinan juga dapat tertular dari pasien. Menyayat hati membayangkan dari jajaran angka-angka tersebut satu per satu tumbang oleh corona.

Karena itu sebutan pahlawan bagi para pekerja medis sebagai apresiasi positif sekaligus sikap hormat saja tidak cukup. Upaya melindungi para dokter, perawat dan pekerja rumah sakit lebih penting ketimbang sekadar pemberian predikat pahlawan atau kata-kata sanjungan.

Di seluruh dunia, para pekerja medis yang tengah berjibaku menyelamatkan nyawa pasien mengalami hal yang sama. Persoalan yang paling mengemuka kebanyakan mereka kekurangan alat pelindung diri (APD). Sebagian lainnya kelelahan karena menangani pasien. Beban psikologis para pekerja medis di Indonesia ditambah lagi oleh stigma negatif sebagian masyarakat. Mereka yang seharusya disebut pahlawan itu ditolak warga sehingga harus ditampung di hotel. Bahkan jenazah seorang perawat pun ditolak sehingga harus dimakamkan di lahan milik rumah sakit.

Sejauh ini, bentuk apresiasi oleh pemerintah adalah dengan menganggarkan alokasi tambahan belanja APBN sebesar Rp 300 miliar untuk santunan kepada para dokter, perawat, dan tenaga medis yang meninggal karena corona.

Yang menjadi persoalan sampai sekarang adalah pemenuhan kebutuhan APD bagi dokter dan pekerja medis. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian harus cermat menyiapkan perlengkapan ini sehingga para dokter dan pekerja medis terlindungi.

Tak bisa dimungkiri, saat ini APD sangat dibutuhkan oleh banyak negara di dunia. Stok terbatas semntara permintaan meningkat tajam karena pandemi. Pantas bila harga melambung dan di sinilah kesempatan para pemburu rente memanfaatkan kesempatan.

Karena itu perlu cermat, dalam arti pemerintah benar-benar lihai untuk tidak terjerembab memenuhi kepentingan mafia APD baik di dalam negeri maupun di pasar dunia. Cermat juga berarti tidak cukup melihat angka produksi hanya apa yang tampak di atas kertas, melainkan benar-benar dicek kesiapan industri di lapangan dalam memproduksi APD. Jangan sampai para pejabat berkoar-koar kebutuhan APD tercukupi, sementara di lapangan justru kondisinya bertolak belakang. Cermat juga berarti teliti menakar kualitas APD yang dihasilkan.

Hal lain yang tak kalah penting adalah menganalisis kasus per kasus mengapa para dokter dan perawat terpapar. Jangan-jangan ada kesamaan sebab-musabab sehingga prosedur atau tata laksana penanganan pasien dan juga fasilitas rumah sakit perlu diperaiki. Dengan begitu para dokter dan tenaga medis penjaga benteng terakhir, yakni nyawa pasien, benar-benar kita tempatkan pada posisi sebagai sosok-sosok yang terhormat.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS