Kebangkitan Film Nasional

Suara Pembaruan Sabtu, 24 November 2018 | 13:00 WIB

Film nasional mengalami masa kebangkitan. Penilaian tersebut didasarkan pada meningkatnya jumlah produksi film dan jumlah penonton film nasional di bioskop.

Statistik menunjukkan, pada 2010 ada 75 film nasional yang diproduksi dengan jumlah penonton di bioskop sebanyak 16,8 juta orang. Pada 2016, terjadi lonjakan menjadi 118 judul film yang diproduksi dengan penonton lebih dua kali lipat, yakni 37 juta orang. Tahun 2017, sedikitnya 120 judul film nasional ditayangkan di bioskop dengan 42 juta penonton. Tahun ini, jumlah penonton bioskop per November diperkirakan menembus 47 juta orang. Dengan data, tidak berlebihan jika dikatakan kondisi perfilman nasional lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Indikator lainnya, secara rata-rata jumlah penonton per film juga meningkat. Jika pada 2015 rata-rata film ditonton 133.000 penonton, pada 2016 bertambah menjadi rata-rata 274.000 orang. Hingga Pada 2017, diperkirakan kembali meningkat menjadi rata-rata 282.000 tiket terjual untuk setiap film nasional yang ditayangkan di layar bioskop.

Melihat data kuantitatif tersebut, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak sepakat dengan penilaian bahwa industri perfilman nasional mulai menggeliat. Kenyataannya memang film nasional dibanjiri penonton. Artinya, film itu diminati lantaran berkualitas dan sesuai selera pasar penonton nasional.

Kondisi itu tentu juga berdampak pada pemasukan yang besar. Sepuluh film nasional terlaris sepanjang 2017, misalnya, meraup pendapatan total Rp 704 miliar, dengan asumsi harga tiket rata-rata Rp 37.000 per penonton. Ini tentu angin segar bagi industri film dalam negeri. Kepercayaan penonton terhadap kreasi insan perfilman nasional tumbuh kembali.

Namun, secara keseluruhan harus diakui film-film Indonesia pangsa pasar masih relatif kecil. Tahun lalu, diperkirakan pangsa pasar film nasional di bioskop hanya 35%. Tahun ini dipekirakan meningkat menjadi 37%. Bandingkan dengan film luar negeri, terutama produksi Hollywood, yang merajai layar lebar.

Tentu kita tidak boleh berkecil hati. Membandingkan produksi film nasional dengan karya-karya Hollywood tidaklah fair. Industri film di Hollywood sudah sangat luar biasa maju. Didukung dengan modal besar dan teknologi perfilman canggih, mereka mampu memikat pemirsa dari seluruh dunia. Apalagi, sejak lama Hollywood sudah menjadi kiblat perfilman global.

Dukungan modal yang besar itu pula yang memungkinkan Hollywood mendistribusikan secara masif film-filmnya ke seluruh dunia. Bahkan, konon mereka rela “membeli” jadwal tayang agar bisa segera disaksikan penonton di seluruh dunia. Hal itu yang membuat film nasional tergusur dan harus antre untuk dapat memperoleh jadwal tayang di layar-layar bioskop di negeri sendiri. Realita inilah yang membuat film nasional sulit membuat penonton berpaling dari film-film asing.

Mencermati perkembangan perfilman nasional, tentu tak bisa hanya dengan melihat angka kuantitatif jumlah film yang diproduksi dan jumlah penonton. Ada banyak faktor agar kita bisa memotretnya secara lebih objektif.

Salah satu faktor adalah menilai kualitas film yang dihasilkan. Boleh dikata saat ini sineas nasional mampu melahirkan karya bermutu. Film-film yang mengumbar atau mengeksploitasi nafsu seksual sebagaimana yang marak diputar di awal tahun 1990-an untuk menarik minat penonton, kini tak lagi kita jumpai. Tema yang diangkat sekarang lebih bervariatif, seperti film yang bertema perjalanan hidup tokoh nasional yang inspiratif, realita kehidupan sehari-hari, tema horor, atau film berlatar keanekaragaman budaya Nusantara. Dengan kata lain, tema-tema yang diangkat banyak mengandung unsur edukasi.

Terkait kualitas, kita juga tidak menutup mata terhadap film nasional yang mampu menyabet penghargaan di luar negeri. Tidak sedikit karya sineas dalam negeri yang mendapat apresiasi di festival film internasional. Meskipun harus diakui film-film yang sukses dalam festival kerap gagal secara komersial, namun hal ini jangan sampai mengendurkan semangat sineas untuk terus mengkreasi karya-karya bermutu. Justru ini menjadi tantangan pihak produser agar film-film tersebut bisa menarik minat penonton untuk menikmatinya.

Faktor lain untuk memotret film nasional adalah tingkat serapan penonton. Hal ini menyangkut seberapa besar film nasional ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia. Ada catatan kritis yang perlu disampaikan, bahwa pada kenyataannya tingkat serapan film nasional masih rendah.

Di balik fakta meningkatnya rata-rata penonton per film yang meningkat, ternyata jika dibedah lebih dalam terjadi ketimpangan yang sangat besar. Data menunjukkan, pada 2016, dengan jumlah penonton 37 juta orang, sekitar 22 juta penonton atau 60% tersedot hanya ke delapan judul film. Artinya, sekitar 12 juta penonton sisanya tersebar di sekitar 110 film lain yang ditayangkan sepanjang tahun itu.

Ketimpangan lain, selama ini statistik penonton film diukur dari penjualan tiket bioskop. Faktanya, dari sekitar 1.600 layar bioskop berdasarkan data Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), mayoritas masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Jawa. Dengan demikian, kesempatan untuk menikmati film nasional belumlah merata.

Persoalan lainnya adalah pada kenyataannya tidak semua film yang diproduksi memperoleh kesempatan tayang di layar bioskop. Kondisi ini melanda film-film yang dihasilkan bukan oleh rumah produksi film. Padahal tidak sedikit yang sebenarnya adalah film bermutu.

Menyikapi persoalan tersebut, semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sineas, produser, dan juga pengusaha bioskop memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan perfilman nasional, baik secara ekonomi maupun secara sosial dan budaya. Harus diciptakan ekosistem, seperti regulasi, pendidikan perfilman, dan juga iklim usaha yang memungkinkan terciptanya industri perfilman nasional yang sehat dan kompetitif, serta membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menikmati film karya anak bangsa. Dengan banyak ditonton, semakin banyak apresiasi yang muncul. Dan dari apresiasi yang ada, memacu insan perfilman nasional untuk melahirkan lebih banyak film berkualitas.

Upaya lain adalah mendorong lahirnya komunitas-komunitas perfilman dan memfasilitasi prakarsa penyelenggaraan festival-festival film. Sebab melalui komunitas perfilman yang ada di banyak daerah, serta festival film, menjadi wahana untuk membantu perkembangan mutu dan juga selera penonton di Tanah Air.