Mewaspadai Bom Waktu Pengangguran Terdidik

Suara Pembaruan Jumat, 23 November 2018 | 16:00 WIB

Mewaspadai ledakan pengangguran terdidik telah disuarakan oleh Prabowo Subianto. Capres 2019 ini menyinggung lulusan sekolah yang akhirnya menjadi sopir ojek. Dalam sebuah kesempatan pekan ini, Prabowo mengemukakan jalur karier pemuda yang sedang tren, banyak pemuda yang setelah lulus SMA memilih berkarier menjadi sopir ojek.

Sedih, tetapi ini kenyataan. Bahkan di dunia nyata, bukan hanya lulusan SMA yang memilih menjadi pengemudi ojek online yang tengah booming saat ini.

Pernyataan Prabowo tidak perlu disikapi sinis apalagi dengan amarah karena ketersinggungan. Tanpa harus mengaitkan pada sentimen politik terkait persaingan dalam pilpres, masalah pengangguran terdidik adalah kenyataan sehari-hari. Pernyataan Prabowo justru sebaiknya menjadi keprihatinan bersama agar kita waspada terhadap potensi ledakan tenaga kerja di masa mendatang yang tidak diimbangi ketersediaan lapangan kerja.

Kewaspadaan dini mengantisipasi pengangguran terdidik bakal menjadi awal yang baik menuju bonus demografi pada 15-20 tahun ke depan. Tanpa persiapan matang sejak sekarang bonus demografi pada 2035-2040, bukan menjadi berkah bangsa melainkan bencana. Ledakan jumlah penduduk usia produktif tanpa disertai lapangan pekerjaan yang memadai bakal menjadi malapetaka. Potensi tenaga produktif tidak terwadahi dalam usaha mendorong perekonomian. Sebaliknya, mereka yang seharusnya menjadi penopang usia anak dan lansia justru menjadi beban.

Untuk jangka menengah yakni pada 2020, terdapat tantangan pasar bebas tenaga kerja ASEAN dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN. Angkatan kerja kita akan bersaing dengan tenaga kerja asing. Siapkah Indonesia? Semua tantangan itu menjadi beban bersama bangsa.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), ada tren penurunan pengangguran terdidik. Dibanding sepuluh tahun lalu (2008), tingkat pengangguran lulusan SMA, SMK, diploma, dan sarjana menurun drastis. Tren tersebut berlanjut pada masa pemerintahan Jokowi-JK saat ini meski tidak terlalu signifikan.

Data perbandingan Agustus 2014-Agustus 2018 menunjukkan, tingkat pengangguran lulusan SMK turun dari 9,15% menjadi 7,95%. Lulusan diploma (D1-D3) turun dari 6,14% menjadi 6,02%, sedangkan lulusan SMK, tetap, yakni 11.24%. Kenaikan tingkat pengangguran justru terjadi pada lulusan sarjana yakni dari 5,65% menjadi 5,89%.

Angka-angka tersebut menunjukkan korelasi positif dengan pernyataan Prabowo. Ketersediaan lapangan pekerjaan bagi lulusan SMK dan sarjana, atau mereka yang memiliki keterampilan spesifik, masih belum bertambah.

Dalam kondisi seperti ini, keberadaan start up seperti ojek online bisa dilihat sebagai pelampung penyelemat. Tenaga kerja terdidik tidak benar-benar menganggur karena masih ada peluang kerja yang mampu menampung mereka. Karena itu, upaya pemerintah untuk terus menumbuhkan wirausahawan dan munculnya strat up perlu terus digenjot.

Pemerintah kini tengah berupaya keras terus memperbaiki iklim investasi yang menjadi ujung tombak penciptaan lapangan kerja. Sayang, masih banyak kendala yang harus diperbaiki di lapangan. Proses penyederhanaan perizinan dan mempermudah pelayanan masih belum berjalan baik. Pelaksanaan online single submission (OSS) ternyata belum bisa seratus persen terlaksana di seluruh Indonesia.

Upaya pemerintah seperti dalam paket kebijakan ekonomi ke-16 yang memperlebar kesempatan investor asing masuk ke usaha kecil dan menengah merupakan terobosan untuk menumbuhkan bidang usaha di dalam negeri. Di tengah kritik terhadap kebijakan tersebut, pemerintah yakni investasi asing bakal menambah lapangan pekerjaan dan transfer teknologi.

Selain menciptakan lapangan pekerjaan, link and match antara pendidikan dan industri atau dunia kerja perlu terus dipertajam. Lulusan perguruan tinggi dan SMK yang menganggur memperlihatkan mutu pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Fenomena yang berkembang saat ini, akses pendidikan, seperti pembukaan tempat kuliah baru memang meningkat tetapi lulusannya hanya sebatas dibekali teori tanpa kemampuan yang sesuai.