Pilpres Emosional

Suara Pembaruan Kamis, 22 November 2018 | 11:00 WIB

Proses pemilihan presiden (pilpres) seharusnya menjadi peluang bagi rakyat untuk melihat rekam jejak, visi, misi, dan program kerja calon pemimpin yang akan dipilih. Pilpres menjadi momentum yang tepat untuk memilih pemimpin yang benar-benar berkeinginan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Untuk itu, pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan bertarung pada Pemilu 2019 harus bisa menunjukkan program-program yang tepat untuk membangun bangsa dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Faktanya, sudah sekitar dua bulan masa kampanye bergulir, capres, cawapres, dan tim suksesnya belum juga menunjukkan program kerja unggulan mereka.

Materi kampanye yang digulirkan dua pasangan capres-cawapres masih belum menyentuh persoalan-persoalan substansial, yang tengah dihadapi rakyat saat ini. Isu-isu yang diangkap cenderung bersifat “recehan” dan sekadar membangkitkan emosi publik tanpa ada pendalaman visi, misi, dan program kerja.

Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya menyebutkan, Pilpres 2019 akan menjadi pertarungan politik yang sarat emosi. Dua kubu, terutama kubu penantang, akan mengangkat isu-isu yang mampu membangkitkan emosi pemilih untuk kepentingan elektoral. Hal ini lantaran tidak ada diferensiasi dari visi, misi, dan program kerja yang ditawarkan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno.

Menurut Yunarto, melihat kepuasan publik dan hasil survei sejumlah lembaga independen, Jokowi saat ini lebih unggul. Oleh karena itu, kubu penantang, tidak akan mengangkat isu-isu rasional dalam kampanye. Kampanye emosional akan lebih banyak disuguhkan pasangan capres-cawapres dalam lima bulan ke depan. Ada beberapa isu yang berpotensi membangkitkan emosi pemilih, antara lain beban utang, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga politik identitas.

Kubu penantang seperti kesulitan untuk garis pemisah yang tepat antara kebijakan pemerintahan sekarang dan program-program kerja yang akan mereka jalankan jika terpilih nanti. Sementara, kubu petahana cenderung berusaha mempertahankan berbagai program-program dan berbagai kebijakan yang telah dijalankan saat ini.

Gaya kampanye seperti ini memang sulit dihindari. Selain karena dua kubu memiliki visi, misi, program kerja, dan platform politik yang sama, juga karena rivalitas yang terjadi mirip dengan pemilu sebelumnya. Yang terjadi saat ini merupakan pengulangan dari perebutan kekuasaan Pilpres 2014, sehingga ada emosi yang tersisa dan dibawa kembali pada pilpres nanti.

Kita tentu menyayangkan bila kedua kubu capres-cawapres lebih banyak memainkan emosi publik dibandingkan mengangkat isu-isu rasional dan substansial selama kampanye. Cara seperti itu akan membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk melihat program apa saja yang akan dijalankan capres-cawapres jika terpilih nanti.

Cara-cara kampanye seperti itu juga tidak baik bagi pendidikan politik dan demokrasi masyarakat. Indonesia akan sulit menjadi negara maju jika rakyatnya memilih pemimpin berdasarkan emosi semata, tidak berdasarkan kompetensi, kapabilitas, dan integritas.

Kita tentu berharap agar materi kampanye yang disampaikan kedua kubu lebih substansial. Kalau pun harus membangkitkan emosi publik, tentu diharapkan agar tetap dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat sehari-hari dan solusi tepat yang ditawarkan capres-cawapres.

Kita tentu tidak ingin bila emosi publik yang dibangkitkan dua kubu terkait dengan politik identitas atau isu-isu yang terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sebab, ketika identitas pendukung capres-cawapres ditautkan dengan identitas yang sama sekali tak relevan, yaitu identitas terkait SARA, maka friksi di antara masing-masing pendukung capres semakin tajam. Rakyat Indonesia akan semakin terpecah-pecah dan jika emosi publik terkait isu SARA dibiarkan berlarut, tentu akan sulit untuk dipulihkan.

Kita ingin agar dua kubu capres segera menghentikan cara-cara kampanye yang sekadar bersifat emosional itu. Kita ingin kedua kubu mulai memperkenalkan solusi-solusi atas berbagai persoalan rakyat yang akan mereka terapkan jika terpilih nanti. Penjabaran visi, misi, dan program kerja harus mulai mengisi ruang-ruang publik dalam lima bulan ke depan, sebelum hari pencoblosan.

Para elite politik seharusnya benar-benar memanfaatkan Pilpres 2019 sebagai momentum pendewasaan berdemokrasi. Pilpres 2019 harus dijadikan ajang untuk adu ide dan program kerja capres. Sudah saatnya capres, cawapres, dan tim kampanye mereka melakukan sosialisasi atas visi, misi, dan program kerja itu. Untuk itu, diperlukan terobosan dari masing-masing kubu untuk mengembangkan kampanye dialogis bagi pemilih rasional serta kampanye kreatif bagi pemilih milenial, yang merupakan kelompok pemilih terbesar.