Perkuat Investor Domestik

Investor Daily Jumat, 23 November 2018 | 11:00 WIB

Suka atau tidak suka, pasar modal domestik masih dikendalikan investor asing. Gerak-gerik investor asing sangat menentukan rapor pasar modal domestik. Lantai bursa bisa serta-merta memerah tatkala asing mengambil posisi jual. Sebaliknya, bursa bisa langsung ijo royo-royo manakala investor asing mengambil posisi beli.

Dominasi investor asing di pasar modal domestik bisa dimaklumi. Dari total nilai saham sebesar Rp 3.347 triliun per Oktober 2018 di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sekitar Rp 1.743 triliun atau 52%-nya milik investor asing. Saham milik investor lokal hanya 48%-nya atau sekitar Rp 1.604 triliun.

Hegemoni asing juga berlangsung di pasar surat berharga negara (SBN). Per 21 November 2018, kepemilikan asing mencapai Rp 889,21 triliun atau 37,56% dari total outstanding SBN senilai Rp 2.367,50 triliun. Kepemilikan asing mengalahkan kepemilikan bank (27,38%), reksa dana (4,86%), asuransi (8,51%), dana pensiun (8,96%), investor individu (3,25%), dan investor lainnya (5,75%).

Akibat kepemilikan asing yang dominan, bisa dipahami jika pasar modal domestik sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Indikator-indikator ekonomi dalam negeri yang mentereng, kerap tidak menghasilkan sentimen positif di lantai bursa, tenggelam oleh ingar-bingar isu global. Tak mengherankan jika harga saham atau obligasi sering kali tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaannya.

Celakanya, karena menjadi follower, investor lokal sering "ketinggalan kereta". Mereka kerap terlambat merealisasikan keuntungan investasi (capital gain)-nya. Alih-alih meraup untung seperti investor asing, investor domestik malah buntung karena telat mengambil keputusan jual atau beli.

Hegemoni investor asing di pasar modal domestik lambat-laun melahirkan mental gerombolan (herd mentality) di kalangan investor lokal. Keputusan yang diambil mereka bukan benar-benar berdasarkan perhitungan investasi, melainkan atas dasar ikut-ikutan atau semata mengikuti gerak-gerik investor asing.

Kebergantungan pasar modal pada investor asing sungguh tidak sehat bagi perekonomian nasional. Ketika investor asing keluar dari pasar saham, pasar obligasi, atau reksa dana untuk merealisasikan keuntungan (profit taking), pasar modal domestik bisa guncang. Begitu pula saat investor asing angkat kaki dalam rangka mengalihkan portofolionya ke negara lain yang lebih menguntungkan.

Tak hanya membuat limbung pasar saham atau pasar obligasi di dalam negeri, hengkangnya investor asing dari pasar modal domestik dapat memicu krisis nilai tukar. Rupiah bisa terjun bebas karena pasokan dolar di dalam negeri berkurang. Kondisi ini bahkan dapat memicu efek domino. Bila rupiah terdepresiasi terlalu dalam terhadap dolar AS, asing semakin masif menarik dananya dari Indonesia.

Maka sungguh beralasan bila otoritas pasar modal dan otoritas bursa terus mendorong penguatan basis investor domestik, baik dari sisi jumlah maupun nilai asetnya. Bila dominan, investor lokal tak lagi canggung untuk mengambil posisi jual maupun beli. Mereka tak perlu mengekor atau menjadi follower investor asing. Alhasil, pasar modal domestik akan lebih kuat menghadapi guncangan dari sisi eksternal.

Tentu saja program penguatan basis investor domestik yang dilakukan otoritas pasar modal dan otoritas bursa harus didukung. Memperkuat investor domestik pada dasarnya adalah memperkuat pasar modal domestik. Memperkuat pasar modal domestik setali tiga uang dengan memperkuat sendi-sendi perekonomian nasional.

Penguatan basis investor domestik sebaiknya dimulai dari kuantitas investor ritel. Hingga Oktober 2018, jumlah investor ritel baru mencapai 1,53 juta. Angkanya memang naik 37% dibanding posisi akhir tahun silam, tapi jumlah itu masih terlampau kecil, hanya 0,56% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta. Persentase investor ritel domestik di pasar modal juga masih sangat sedikit, tak sampai 15%-nya.

Menambah basis investor ritel domestik sangat penting. Dengan struktur dan komposisi investor ritel lokal yang seimbang, pasar modal dalam negeri akan lebih stabil, tak mudah limbung. Struktur investor yang terlalu timpang –didominasi asing dan investor institusi-- rentan memicu guncangan di lantai bursa.

Untuk melipatgandakan jumlah investor ritel domestik, otoritas perlu melakukan sosialisasi dan edukasi yang lebih jitu. Sosialisasi dan edukasi yang selama ini dilakukan otoritas boleh jadi tidak tepat sasaran. Buktinya, tingkat literasi pasar modal baru mencapai 4,40%, jauh di bawah tingkat literasi nasional sebesar 29,66%, dan merupakan tingkat literasi sektoral yang paling rendah.

Minimnya jumlah investor di pasar modal, terutama pasar saham, juga mencerminkan rendahnya persepsi masyarakat terhadap prospek investasi di pasar modal. Itu sebabnya, otoritas harus lebih gigih meyakinkan masyarakat bahwa pasar modal adalah lahan investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi, asalkan mereka mampu mengelola risiko-risikonya.

Kita juga tidak bisa mengabaikan kuatnya persepsi sebagian masyarakat bahwa pasar saham adalah ajang spekulasi, tempat mengundi nasib, atau bentuk lain dari praktik perjudian. Stigma negatif itu masih tertanam kuat dalam benak sebagian masyarakat. Maka perlu langkah terobosan dari otoritas pasar modal dan otoritas bursa bersama pemangku kepentingan lainnya untuk terus memberikan pemahaman tentang jati diri pasar modal.

Sambil menambah jumlah investor ritel, otoritas perlu memperbanyak produk pasar modal. Karena sasarannya adalah investor ritel lokal, produk pasar modal harus disesuaikan dengan karakteristik investornya. Ada baiknya pula otoritas memperjuangkan insentif fiskal bagi produk-produk investasi yang ditransaksikan di pasar modal. Selain dapat menarik minat investor ritel, insentif fiskal bisa menjadi magnit bagi investor institusi.

Penambahan jumlah investor ritel dan produk pasar modal harus diikuti peningkatan kualitasnya. Pasar modal domestik hanya akan kuat bila dihuni investor-investor berkualitas. Di sinilah pentingnya otoritas memastikan bahwa yang melantai di bursa adalah emiten-emiten berkualitas, bahwa yang dijual di pasar modal adalah produk-produk bermutu. Dengan begitu, tak akan ada lagi anggapan bahwa membeli saham, obligasi, dan reksa dana sama dengan membeli kucing di dalam karung.