Saham Infrastruktur dan Konstruksi

Investor Daily Rabu, 21 November 2018 | 09:00 WIB

Dibandingkan sektor lainnya, sejumlah saham BUMN dan anak usaha di sektor infrastruktur, konstruksi, properti, dan semen layak dikoleksi karena harganya sudah murah (undervalued). Secara year to date (ytd), sejumlah saham badan usaha milik negara (BUMN) infrastruktur dan konstruksi telah terkoreksi cukup besar, namun secara umum kinerja emitennya sebenarnya bagus.

Harga saham-saham BUMN infrastruktur dan konstruksi berpotensi meningkat setelah terkoreksi di kisaran 11,04% hingga 44,97% sejak awal tahun ini (ytd). Di antara saham-saham BUMN konstruksi bangunan adalah Waskita Karya (WSKT) yang harganya sudah turun 26,24% (ytd) dengan price to earnings ratio (PER) sebanyak 3,64 kali dan Wijaya Karya (WIKA) yang harganya -17,74% (ytd) dengan PER 16,78 kali.

Kemudian, harga saham Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE) -19,85% (ytd) dengan PER 6,81 kali, PT Adhi Karya (ADHI) -25,46 (ytd) dengan PER 17,13 kali, dan PT PP (PTPP) -40,72% dengan PER 15,50 kali. Harga saham emiten properti PP Properti (PPRO) -44,97% (ytd) dengan PER 17,33 kali, dan emiten infrastruktur jalan tol Jasa Marga -37,19% (ytd) dengan PER 13,63 kali.

Selain itu, harga saham emiten infrastruktur telekomunikasi Telekomunikasi Indonesia (TLKM) -11,04% (ytd) dengan PER 17,32 kali, emiten konstruksi nonbangunan PT PP Presisi (PPRE) -14,90% (ytd) dengan PER 19,67 kali, serta emiten semen Waskita Beton Precast (WSBP) -18,14% dengan PER 4,28 kali, dan harga saham Wijaya Karya Beton (WTON) -29,60% (ytd) dan PER 13,54 kali.

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengoleksi saham-saham BUMN infrastruktur dan konstruksi yang sudah undervalued tersebut, tapi prospek kinerja emitennya bagus. Kinerja emiten konstruksi berpeluang kembali menguat pada sisa kuartal keempat ini. Pasalnya, perusahaan konstruksi pasti mengejar penyelesaian kontrak, dan berupaya meraih tambahan kontrak baru sebelum akhir tahun.

Secara umum, berdasarkan data BEI, dari total 519 emiten (87%) yang sudah melaporkan laporan keuangan kuartal III-2018, sebanyak 405 emiten (78%) mencetak laba dibandingkan 301 emiten (58%) pada periode sama 2017. Laba bersih emiten pada kuartal III-2018 mencapai Rp 244 triliun atau naik 12% dari posisi Rp 218 triliun pada kuartal III-2017. Sementara pendapatan emiten mencapai Rp 2.061 triliun, naik 10% dari Rp 1.876 triliun.

Saham-saham sektor infrastruktur dan konstruksi memiliki prospek positif seiring anggaran belanja negara 2019 yang lebih baik dari perkiraan. Anggaran infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2019 mencapai Rp 420,5 triliun atau naik 2,5% dibandingkan 2018 yang sebesar Rp 410,4 triliun. Angka itu juga lebih tinggi dari yang disebutkan pemerintah pada awal 2018 sebesar Rp 300 triliun.

Dengan alokasi anggaran Rp 420,5 triliun, pemerintah berencana membangun 667 kilometer (km) ruas jalan nasional baru, 905 km jalan tol, 48 unit bendungan, dan 162 ribu hektare jaringan irigasi. Hal tersebut akan memberi peluang bagi emiten infrastruktur dan konstruksi untuk menggarap proyek-proyek yang dicanangkan pemerintah. Seiring banyaknya proyek yang digarap, kinerja emiten pun akan terdongkrak.

Di sisi lain, penyertaan modal negara (PMN) yang disuntikkan ke sejumlah BUMN terkait infrastruktur, terutama PT PLN dan PT Hutama Karya, juga akan meningkatkan prospek emiten BUMN konstruksi. PMN yang digelontorkan untuk BUMN pada 2019 mencapai Rp 17,8 triliun atau naik 192% dibandingkan tahun ini.

Dari jumlah itu, pemerintah mengalokasikan dana Rp 10 triliun untuk PLN dan Rp 7 triliun untuk Hutama Karya. Sisanya Rp 800 miliar dialokasikan untuk PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). PMN untuk PLN dan Hutama Karya dapat membantu meningkatkan profil risiko kontraktor BUMN yang menerima kontrak konstruksi dari kedua perusahaan tersebut.

Sementara itu, proses pembentukan holding BUMN perumahan dan pengembangan kawasan serta holding BUMN infrastruktur yang sudah memasuki tahap finalisasi dapat menjadi sentimen positif bagi emiten BUMN infrastruktur dan konstruksi yang menjadi anggota holding. Pembentukan dua holding tersebut dapat meningkatkan kapasitas BUMN dalam mendukung pembangunan nasional. Hal itu dikarenakan akan ada kenaikan nilai aset, yang kemudian akan mendongkrak kemampuan leverage sehingga kemampuan BUMN pun meningkat.

Kementerian BUMN telah menetapkan Perusahaan Umum (Perum) Pembangunan Perumahan Nasional/Perumnas (Persero) sebagai induk Holding BUMN Perumahan, dan PT Hutama Karya (Persero) sebagai induk Holding BUMN Infrastruktur. Perum Perumnas akan memiliki anggota holding terdiri atas PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Tbk (PTPP), PT Virama Karya, PT Amarta Karya, PT Indah Karya, dan PT Bina Karya. Sementara Hutama Karya akan memimpin holding yang beranggotakan PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Yodya Karya, dan PT Indra Karya.

Peraturan pemerintah (PP) yang menjadi payung hukum pembentukan dua holding tersebut diharapkan sudah bisa ditandatangani Presiden Joko Widodo pada minggu ketiga Desember 2018, dan penandatanganan akte pembentukan holding pada minggu yang sama. Saat ini, proses pembentukan kedua holding BUMN itu dalam tahap valuasi dan akan diatur melalui Peraturan Kementerian Keuangan (PMK). Selanjutnya, para anggota holding akan menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dengan agenda pengesahan untuk melepas status persero.