Saatnya Borong Saham Murah

Investor Daily Kamis, 22 November 2018 | 09:00 WIB

Kondisi pasar modal di Indonesia dipastikan kondusif tahun depan. Ini ditopang ekonomi dalam negeri yang membaik, seiring guyuran bantuan sosial dan dana desa, plus proyek-proyek infrastruktur sudah banyak yang rampung. Tekanan gejolak keuangan global juga mulai mereda, sehingga aliran dana investasi dari luar negeri kembali bakal menderas masuk.

Banyaknya bantuan sosial, masifnya kampanye pemilihan presiden dan pemilu legislatif 2019, plus kucuran dana desa dipastikan menguatkan kembali konsumsi, yang masih menjadi penyumbang utama produk domestik bruto kita. Ini diindikasikan dengan proyeksi membaiknya penjualan ritel modern, yang diprediksi tumbuh 10% menjadi Rp 264 triliun tahun depan.

Stabilitas politik juga cukup kondusif. Siapa pun yang terpilih menjadi presiden relatif akan sama saja, karena baik inkamben Joko Widodo maupun penantang Prabowo Subianto memiliki visi misi yang sama, yakni ekonomi kerakyatan. Dalam sejarah republik ini juga tidak pernah ada kerusuhan secara nasional dalam jangka panjang.

Rupiah pada 2019 juga masih bisa dijaga pada level Rp 15.000 per dolar AS. Ini didukung tekanan global yang diperkirakan mereda seiring rencana bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang hanya akan menaikkan suku bunga 3 kali lagi tahun depan. Sejauh ini, setelah menaikkan Fed funds rate (FFR) 3 kali tahun ini menjadi 2,25%, The Fed kemungkinan menaikkan lagi suku bunga acuannya satu kali pada Desember nanti.

Dengan rupiah yang diperkirakan lebih stabil dan agar dapat menjaga pertumbuhan ekonomi nasional minimal di level 5,1%, Bank Indonesia kemungkinan hanya menaikkan suku bunga acuannya 2 kali lagi ke 6,5% hingga 2019, meski The Fed berpotensi menaikkan FFR lebih banyak. Kebijakan BI ini didukung kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang diproyeksikan menurun, seiring membaiknya aliran dana investasi dari luar negeri. Selain itu, inflasi masih diproyeksikan terkendali sekitar 4,5%.

Dari sisi pasar modal, asing pun masih punya kebutuhan berinvestasi di emerging markets seperti Indonesia. Dalam strategi portofolionya, fund managers dunia tetap mengalokasikan investasinya di emerging markets untuk balancing, agar struktur portofolionya terjaga. Kita biasanya akan bersaing dengan Filipina dan Thailand, sedangkan Indonesia cenderung disatukan dengan Malaysia sebagai pilihan investasi.

Alokasi dana global untuk investasi di Indonesia pun trennya meningkat. Dari proyeksi alokasi aset investor asing ke negara berkembang (emerging markets) pada 2030, tercatat bobot untuk Indonesia diproyeksikan 3,2%, naik dibanding pada 2014 yang 2%.

Selain itu, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, dan Bank Indonesia makin menyadari perlunya memperkuat sinergi dan efektivitas kebijakan untuk menarik masuk dana ke Indonesia. Otoritas pun mengerti, petarungan kita untuk memperbaiki current account deficit yang menambah tekanan terhadap rupiah tidak bisa hanya dengan menaikkan ekspor, tapi juga harus menarik investasi besar-besaran.

BEI juga berkomitmen mendorong penambahan produk baru, baik dari segi emiten ataupun instrumen pasar modal, termasuk produk derivatif baru yang dapat membantu lindung nilai (hedging) atas saham atau Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia. Sampai 21 November 2018, tercatat ada penambahan 51 emiten baru atau mencetak rekor terbanyak sepanjang sejarah. Perolehan pendanaan dari pasar modal juga cukup baik, seperti terlihat pada emisi surat utang (di luar medium term notes dan sekuritisasi) korporasi yang menembus Rp 101,17 triliun periode Januari-12 Oktober 2018.

Dari sisi korporasi, kinerja emiten kita juga masih cemerlang, meski pasar modal terempas sentimen negatif gejolak keuangan global, baik karena naiknya suku bunga AS dan dolar maupun krisis ekonomi di Argentina, Turki, dan Venuzuela. Pukulan gejolak global ini membuat asing banyak yang keluar dari pasar modal emerging markets seperti Indonesia. Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia pun sempat terkoreksi sangat dalam, dengan total net sell investor asing mencapai Rp 45,07 triliun.

BEI mencatat, dari 517 (87%) emiten yang merilis laporan keuangan hingga kuartal III-2018, sebagian besar masih membukukan laba bersih cukup bagus. Sebanyak 405 emiten (78%) tercatat mencetak laba bersih total Rp 244 triliun dan pendapatan Rp 2.061 triliun. Laba bersih emiten ini naik 12% dibandingkan periode sama 2017. Sementara itu, total asetnya meningkat 6% dari Rp 9.177 triliun menjadi Rp 9.687 triliun.

Sektor yang membukukan persentase peningkatan laba bersih terbesar tahun ini berasal dari emiten konstruksi, properti, aneka industri, serta industri dasar dan kimia. Meski demikian, sektor yang kinerjanya cemerlang itu ada yang justru banyak saham emitennya mengalami anomali, seperti BUMN sektor konstruksi dan properti yang harganya sudah turun dalam.

Namun, kondisi pasar modal kita akan segera membaik, didukung prospek ekonomi Indonesia maupun kinerja keuangan emiten yang lebih bagus tahun depan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bisa tumbuh double digit pada 2019.

Artinya, sekarang inilah momentum time to buy saham-saham unggulan yang harganya sudah sangat murah. Inilah saat masuk pasar, memborong saham bagus yang harganya telah banyak terdiskon, seperti dari sektor konstruksi, properti, dan semen.