Pergantian Ketum PSSI

Suara Pembaruan Sabtu, 1 Desember 2018 | 14:00 WIB

Suara-suara yang menginginkan pergantian pucuk pimpinan PSSI kian kencang terdengar. Awal pemicunya adalah kegagalan tim nasional (timnas) sepak bola Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF 2018.

Andik Vermansyah dan kawan-kawan “babak belur” di Grup B kejuaraan sepak bola internasional antarnegara-negara di kawasan Asia Tenggara tersebut. Tim Merah Putih hanya mampu nangkring di urutan keempat. Mereka kalah bersaing dengan Thailand, Filipina, dan Singapura.

Gelombang keinginan menggebu mengganti Ketua PSSI saat ini Letjen (Purn) Edy Rahmayadi belakangan ini tampaknya bukan semata karena kegagalan timnas. Beberapa kejadian, sebelum dan sesudah Piala AFF, juga menjadi latar belakang hingga mendorong sejumlah pihak menyuarakan pergantian.

Pertama, publik bola tidak akan lupa oleh kematian Haringga Sirilla, suporter Persija alias Jakmania. Pemuda berumur 23 tahun itu tewas dikeroyok massa pendukung Persib pada 23 September lalu. Meninggalnya seorang suporter yang ingin menonton tim kesayangannya adalah aib sebuah penyelenggaraan laga sepak bola yang menjunjung sportivitas. Selama kepemimpinan Edy yang menjadi ketum PSSI menggantikan La Nyalla Mattalitti pada 2016, setidaknya ada sembilan suporter sepak bola tewas baik di dalam maupun luar stadion. Kematian suporter ini dikaitkan dengan kepemimpinan Edy di PSSI.

Kedua, pernyataan-pernyataan Edy kepada pers maupun tanggapannya terhadap berbagai persoalan di tubuh PSSI, dinilai arogan. Puncaknya ketika mantan pangkostrad ini mengakhiri sepihak sesi wawancara di sebuah stasiun televisi dengan alasan punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan wartawan. Potongan tayangan wawancara tersebut menyebar begitu cepat melalui media sosial. Awam akan dengan mudah menilai sosok Edy.

Ketiga, Edy merangkap jabatan sebagai gubernur Sumatera Utara, ketua umum PSSI, dan ketua dewan pembina PSMS Medan. Pertanyaan soal rangkap jabatan ini pula yang membuat Edy mengakhiri sesi wawancara di sebuah stasiun televisi. Ia menyatakan bahwa wartawan tidak berhak menanyakan hal tersebut.

Pertanyaannya, apakah tiga alasan tersebut layak menjadi alasan mendorong Edy mundur dari jabatan?
Edy terpilih menjadi ketua umum PSSI periode 2016-2020 secara demokratis. Ia mengalahkan calon lainnya, yakni Moeldoko dan Eddy Rumpoko. Artinya masih ada dua tahun lagi masa jabatannya. Dengan ketiga poin pertimbangan tadi kita bisa lebih bijak dan objektif membedah satu per satu alasan mengapa Edy harus mundur.

Kekalahan timnas Indonesia bukan tanggung jawab Edy semata wayang. Pihak paling dekat dengan dengan kegagalan Indonesia di Piala AFF 2018 adalah para pemain dan pelatih. Merekalah aktor utama kegagalan maupun kemenangan. Pelatih bisa salah menerapkan strategi, tidak tepat memilih dan memasang pemain, gagal memotivasi pemain, atau memang tidak cakap menjadi pelatih. Sedangkan para pemain ada kemungkinan sedang bermain di bawah kemampuan ideal, melakukan kesalahan, atau tidak mampu menjalankan taktik pelatih.

Pejabat teras PSSI, bahkan ketua umumnya pun, tidak berhak dan tidak bisa mengintervensi taktik pelatih atau pergantian pemain. Yang bisa dilakukan PSSI adalah menentukan pelatih. Hegkangnya pelatih PSSI asal Spanyol Luis Milla dan kemudian digantikan oleh Bima Sakti sangat disayangkan. Polesan Milla pada timnas membuat pencinta bola Tanah Air kembali membuka harapan akan prestasi di masa datang. Sayang ketika diasuh Bima Sakti, sentuhan Milla seolah hilang.

Sama halnya dengan kegagalan timnas, soal kematian suporter juga bukan tanggung jawab langsung pengurus PSSI. Sudah ada aturan bahkan prosedur tetap penyelenggaraan pertandingan, khususnya pertemuan sejumlah klub yang dianggap musuh bebuyutan. Kedua klub yang didukung suporter, pihak penyelenggara, serta aparat keamananlah yang menjadi penanggung jawab.

Kegagalan timnas dan kematian suporter perlu menjadi cermin pembenahan persepakbolaan nasional. Namun lebih penting lagi adalah bagaimana menata kelola kompetisi di setiap jenjang umur dan merata di seluruh daerah sehingga muncul banyak bibit pemain mumpuni serta tim yang berprestasi.

Pasang-surut timnas pasti dialami oleh siapa pun ketua umum PSSI. Timnas sekelas Jerman pun tidak selamanya ada di puncak. Prestasi tim Panser itu kini terseok-seok, baik di Piala Dunia maupun di kancah Eropa.
Demikian pula soal suporter tewas bisa terjadi kapan saja terjadi. Karena itu tidak berlebihan bila kita sebaiknya mengukur sebuah kepemimpinan bukan dengan hal-hal insidental melainkan berjalan-tidaknya program. Bila program tidak berjalan dan pembinaan semakin porak-poranda maka sah saja bila kita menginginkan pergantian.

Perlu juga dievaluasi sejauh mana rangkap jabatan sang ketua umum memengaruhi kendali PSSI. Bila pelaksanaan program-program PSSI terganggu dengan posisi rangkap jabatan maka Edy bukan dilengserkan, tetapi sebaiknya yang bersangkutanlah yang mengundurkan diri. Masih banyak sosok berkompeten di dunia sepak bola yang mampu menangani PSSI.

Harus diingat pula tampuk pimpinan PSSI ini sejak dahulu menjadi rebutan banyak pihak. Pertarungan perebutan ketua umum selalu menjadi berita. Bukan karena sosok-sosok yang bertarung atau visi misi yang ditawarkan, melainkan silang sengketa mendulang suara atau tata cara pemilihan yang lebih mengemuka.

Tampak sekali syahwat untuk menguasai PSSI ini sangat kuat. Melihat kondisi itu, bukan tidak mungkin meski Edy sudah terpilih secara demokratis, masih saja ada pihak yang menginginkan ia tumbang di tengah jalan.

CLOSE