Asing Kembali Masuk Bursa

Investor Daily Selasa, 4 Desember 2018 | 11:00 WIB

Bursa saham di Tanah Air kembali bergairah dalam satu bulan terakhir. Salah satu motornya adalah mulai masuknya kembali investor asing ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sepanjang bulan lalu, investor asing membukukan net buy (beli bersih) saham sekitar Rp 7,82 triliun. Dalam sepekan terakhir November 2018, rupiah juga menguat sekitar 0,56% ke level Rp 14.281 per dolar AS, yang membuat mata uang garuda relatif masih kuat dibandingkan mata uang yang lain. Hal itu mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) melaju di zona hijau dengan mencatatkan kenaikan 3,77%, dibanding penutupan perdagangan bulan Oktober lalu di level 5.831,65. Alhasil, akumulasi net sell (penjualan bersih) oleh asing berkurang menjadi Rp 45,58 triliun year to date, sementara itu koreksi IHSG menipis menjadi 4,71% sepanjang tahun berjalan.

Membuka perdagangan pada Desember ini, indeks kemarin bahkan mampu melaju 1,03% menjadi 6.118,32. Transaksi perdagangan saham menembus Rp 12,48 triliun lebih, melonjak 48,57% dibanding rata-rata harian Rp 8,40 triliun.

Sentimen positif yang berdatangan dari berbagai arah membuat pasar saham kita bergairah. Dari global, energi positif berasal dari Gubernur The Fed Amerika Serikat Jerome Powell, yang menyampaikan bahwa kenaikan Fed Funds Rate (FFR) atau suku bunga acuan bank sentral AS sudah mendekati normal. FFR yang kini sudah dinaikkan tiga kali menjadi 2-2,25%, kemungkinan hingga tahun depan hanya dinaikkan lagi tiga kali menjadi 3%, dibanding proyeksi semula empat kali.

Angin segar juga berembus kencang dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat menghadiri KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, Sabtu (1/12). Kedua pemimpin perekonomian terbesar dunia tersebut meneken kesepakatan gencatan perang dagang. Trump setuju mulai 1 Januari 2019, tarif terhadap produk impor dari Tiongkok senilai US$ 200 miliar akan tetap 10% dan tidak naik jadi 25% untuk sementara waktu, seiring dibukanya negosiasi lebih lanjut selama 90 hari ke depan.

Selama tiga bulan ke depan, perwakilan Tiongkok dan AS akan terus melakukan negosiasi terkait isu transfer teknologi, kekayaan intelektual, dan agrikultur. Sebaliknya, RRT setuju untuk membeli produk agrikultur, energi, industri, dan produk-produk lain dari AS dalam jumlah besar, guna mengurangi defisit neraca perdagangan AS. Negeri Tirai Bambu itu juga setuju membeli langsung produk-produk pertanian AS.

Di dalam negeri, nilai tukar rupiah yang kembali menguat tentu saja disambut dengan suka cita. Selain itu, rilis terbaru data inflasi per November lalu juga dianggap cukup baik. Dengan didukung membaiknya rupiah dan terjaganya inflasi, maka Bank Indonesia berpeluang untuk tidak menaikkan lagi suku bunga acuannya sebesar rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS, guna menjaga momentum pertumbuhan nasional kita di atas 5%. BI 7-day Reverse Repo Rate saat ini sudah dinaikkan BI ke level 6%.

Kembali ke BEI, di tengah rebound harga-harga saham, sejumlah saham sektor unggulan justru belum banyak beranjak. Kenaikan harga-harga saham ternyata masih tidak merata. Jika harga saham-saham sektor pertambangan banyak yang sudah naik tinggi atau sudah jenuh, tidak demikian dengan sektor lain seperti industri barang konsumsi dan infrastruktur serta sektor terkait, seperti konstruksi bangunan dan properti. Saham-saham sektor yang terakhir ini sudah terpangkas hingga 40% lebih sepanjang 2018.

Saham BUMN karya, Waskita Karya (WSKT), misalnya, pada perdagangan kemarin harganya hanya Rp 1.750 per unit, atau sudah terpangkas 43,73% dibanding harga tertinggi sepanjang 2018 di level Rp 3.110 pada Februari lalu. Harga saham yang sudah murah ini juga diindikasikan dari price to earnings ratio (PER) yang tinggal 4,73 kali, jauh di bawah PER rata-rata tertimbang saham-saham di BEI 19,1 kali.

Saham BUMN Pembangunan Perumahan (PTPP) juga sudah turun 39,63% dari level tertingginya tahun ini Rp 3.210 pada Februari lalu, menjadi Rp 1.980. Sedangkan PER-nya sekitar 9,18 kali. Demikian pula saham emiten infrastruktur tol, Jasa Marga (JSMR), yang turun 47,42% dari Rp 6.575 Januari lalu ke Rp 4.460 kemarin.

Padahal, kinerja BUMN-BUMN tersebut masih cemerlang. WSKT misalnya, hingga September 2018, laba bersih melonjak 44,9% year on year (yoy) menjadi Rp 3,7 triliun, dibanding periode sama 2017. Perolehan dalam sembilan bulan pertama itu mencapai 86,9% dari prediksi para analis dalam setahun penuh 2018, atau lebih tinggi dari konsensus. Perseroan yang menggarap sekitar 1.315 km ruas jalan tol yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera ini -baik sebagai kontraktor maupun investor-, sebagian proyeknya sudah rampung dan beroperasi mulai tahun ini dan sisanya tahun depan.

Kinerja emiten infrastruktur, konstruksi, dan sektor terkait itu diproyeksikan tetap kinclong ke depan, ditopang tingginya kebutuhan pembangunan infrastruktur di Tanah Air yang masih minim, plus proyeksi membaiknya ekonomi. Ditambah adanya tren kembali masuknya investor asing ke bursa kita, tentunya harga-harga saham emiten yang sudah murah itu dipastikan segera terkerek naik.

CLOSE