Angin Segar dari Pertemuan G-20

Investor Daily Senin, 3 Desember 2018 | 12:00 WIB

Selalu saja ada titik temu untuk mewujudkan tata ekonomi dunia yang lebih adil. Globalisasi tak lagi memungkinkan sebuah negara terisolasi atau hebat sendirian tanpa mengindahkan negara lain. AS-RRT akhirnya bersepakat untuk "gencatan senjata" dalam perang dagang di pertemuan G-20 yang dilangsungkan di Buenos Aires, Argentina, Sabtu, 1 Desember 2018.

Dunia menyambut gembira. Perang dagang kedua negara adidaya tidak saja merugikan AS dan RRT, melainkan dunia, terutama negara pasar berkembang, termasuk Indonesia. Jika produk Tiongkok dipersulit masuk pasar Amerika, Indonesia dan negara emerging market lainnya akan jadi sasaran ekspor negeri Tirai Bambu.

Pekan lalu boleh dibilang pekan penuh keberuntungan bagi ekonomi global. Beberapa hari sebelum pertemuan G-20, Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell menyampaikan pidato menyejukkan. Dia mengatakan, kenaikan fed fund rate (FFR) atau suku bunga acuan bank sentral AS sudah mendekati normal.

Indikator ekonomi makro AS sudah berada di level yang dikehendaki. Laju pertumbuhan ekonomi September 2018, yoy, 3,5%. Angka pengangguran 3,7% dan inflasi 2,5%. Dengan data yang tersaji dan pernyataan Powell, pasar memperkirakan, kenaikan FFR tahun depan kemungkinan besar tidak sampai tiga kali. Jika Desember ini ada kenaikan 25 basis poin, tahun depan kemungkinan hanya dua kali, sehingga FFR akan bertengger di level 3% tahun depan.

Kenaikan FFR yang terus-menerus tidak saja menggusarkan pelaku ekonomi dunia, melainkan juga AS. Presiden Donald Trump sudah beberapa kali menyindir The Fed yang agresif menaikkan bunga acuan. Suku bunga yang terlalu tinggi akan membuat korporasi dan dunia usaha AS sulit bersaing. Pada akhirnya, laju pertumbuhan ekonomi akan menurun dan angka pengangguran bakal kembali membengkak.

Kesepakatan Trump dan XI Jinping menambah angin segar bagi kebugaran ekonomi dunia. Kedua pemimpin dengan PDB terbesar itu menandatangani kesepakatan untuk menunda penerapan tarif tambahan setelah 1 Januari 2019 guna memberikan kesempatan bagi negosiasi selanjutnya. Trump menyetujui untuk tetap mengenakan tarif 10% terhadap produk impor dari RRT dengan nilai total US$ 200 miliar. Sebelumnya, Trump berkeras untuk menaikkan tarif impor produk RRT hingga 25%.

Sudah lama, para pemimpin moneter dan fiskal negara berkembang mengharapkan AS tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri. Para pemimpin fiskal dan moneter negara itu mestinya menyadari bahwa kebijakan kenaikan suku bunga dan kenaikan bea masuk produk impor hanya berdampak negatif bagi perekonomian dunia, terutama negara pasar berkembang.

Dari dalam negeri, sejumlah kebijakan pemerintah juga memberikan angin segar. Pemerintah membatalkan untuk sementara pungutan terhadap ekspor CPO. Dengan kebijakan ini, ekspor CPO diharapkan lebih kinclong. Kedua, pemerintah mengeluarkan UKM dari relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI). Paling tidak, kebijakan ini menunjukkan sikap pemerintah yang positif terhadap keluhan dunia usaha.

Pemerintah juga tengah menggodok insentif untuk mendongkrak ekspor. Setidaknya ada 18 insentif fiskal yang sedang disiapkan. Namun, belajar dari berbagai kebijakan sebelumnya, pemerintah hendaknya menginventarisasi masalah di setiap sektor. Pemerintah berdialoig dan mendengar langsung masalah dan usulan dari para pelaku usaha. Kebijakan yang dibuat setelah mendengar pandangan para pelaku bisnis akan lebih kredibel.

Bank Indonesia yang sudah menaikkan suku bunga acuan, BI-7 day reverse repo rate, dinilai para pengamat lebih oke dibanding pemimpin fiskal. BI sudah bertindak ahead the curve, antara lain, lewat penetapan suku bunga acuan yang sudah di level 6%. Sedang penguasa fiskal dinilai lamban dan kurang cermat dalam membuat kebijakan. Paket kebijakan ekonomi yang sudah mencapai 16 dinilai kurang "nendang" .

Angin segar kini sudah datang dari luar dan dari dalam. Kurs yang akhir Oktober 2018 sempat di level Rp 15.200, akhir pekan lalu sudah turun ke level Rp 14.300 per dolar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sudah kembali di atas 6.000. Sentimen positif kini melanda pasar valuta dan pasar modal.

CLOSE