Bertabur Sentimen Positif

Investor Daily Jumat, 30 November 2018 | 11:00 WIB

Atmosfer global selama ini selalu disebut-sebut berada dalam situasi ketidakpastian. Kondisi itu kerap dijadikan kambing hitam gejolak pasar finansial yang melanda negara-negara kawasan emerging markets. Pembalikan modal alias gelombang kaburnya dolar dari emerging markets merupakan buah dari ketidakpastian itu.

Ada dua faktor utama global yang menjadi pemicu ketidakpastian di pasar. Pertama adalah normalisasi moneter yang direfleksikan pada kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) ke level 2,0-2,25% saat ini. Desember, The Fed kemungkinan menaikkan sekali lagi suku bunga dan tahun depan diramalkan kembali naik tiga kali masing-masing sebesar 25 basis poin.

Kedua, adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang terus tereskalasi. Saling balas terhadap kenaikan tarif impor kedua negara membuat pelaku pasar sangat khawatir hal itu akan merusak tata perdagangan global.

Namun kemarin dua faktor pemicu instabilitas global tersebut untuk sementara mereda. Dalam konteks kenaikan suku bunga, Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan kabar menyejukkan. Powell menyebut bahwa suku bunga acuan sudah sangat dekat dengan posisi netral. Pernyataan Powell tersebut dipersepsikan pasar sebagai sinyal bahwa The Fed mungkin akan mengurangi kadar kenaikan suku bunga acuan dan mengakhiri siklus pengetatan moneter. Komentar Powell sangat berbeda dibandingkan Oktober lalu ketika dia mengisyaratkan kenaikan suku bunga yang agresif.

Sedangkan dalam konteks perselisihan dagang, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menyatakan bahwa ada kemungkinan Washington dan Beijing akan mencapai kesepakatan yang signifikan ketika Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping bertemu di sela-sela KTT G-20 pada akhir bulan ini di Buenos Aires. Komentar Kudlow kontan menumbuhkan optimisme bahwa peluang tercapainya kesepakatan dagang sangat terbuka.

Dua kabar baik itu disambut positif kalangan pelaku pasar saham global. Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia ditutup menguat, Kamis (29/11). Indeks Nikkei naik 0,39%, indeks Strait Times naik 0,48%, dan indeks Kospi naik 0,28%.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bahkan melejit tak tanggung-tanggung, sebesar 1,93% ke posisi 6.107. Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat ke level Rp 14.369 per dolar AS.

Investor asing mulai kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Pada perdagangan kemarin, asing mencatat net buying sebesar Rp 691 miliar. Sejak awal tahun (year to date/ytd), net selling asing menyusut ke posisi Rp 44,9 triliun, turun dibanding puncak net selling asing senilai Rp 57 triliun (ytd) beberapa waktu lalu.

Di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN), asing bahkan memborong hingga Rp 31,8 triliun selama November 2018 atau total Rp 63 triliun sejak Januari (ytd). Masuknya asing ke portofolio itulah yang membuat rupiah mulai bertaji, terapresiasi sekitar 1.000 poin.

Kembalinya asing menandakan mereka sudah semakin percaya terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan. Arus masuk dana asing dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-7 Day Reverse Repo Rate) ke level 6%. Capital inflow tersebut juga didukung oleh kebijakan fiskal yang baru diumumkan pemerintah, yakni perluasan tax holiday, sehingga diharapkan mampu mengatasi defisit transaksi berjalan.

Sentimen positif lain yang menguntungkan Indonesia adalah terus merosotnya harga minyak mentah dunia, yang sudah menyentuh US$ 50 per barel. Kondisi ini tentu akan mengurangi tekanan terhadap defisit neraca perdagangan migas Indonesia, karena separuh kebutuhan minyak nasional masih harus diimpor. Hal itu tentu akan memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Dengan berkurangnya pemicu ketidakpastian yang bersumber dari faktor global, pemerintah kini tinggal fokus untuk membenahi kondisi domestik, khususnya bagaimana membenahi iklim investasi. Yang utama adalah berbelitnya perizinan mesti disimplifikasi. Kemudian tumpang tindih dan tidak sinkronnya regulasi baik antara pusat dan daerah maupun antardaerah. Reformasi dan deregulasi pusat ternyata tumpul dalam implementasi di daerah.

Pemerintah juga harus membenahi rendahnya produktivitas tenaga kerja, memangkas biaya logistik, membenahi infrastruktur, memberantas korupsi, dan memperbaiki kualitas birokrasi.

Jika semua kendala tersebut dibenahi dan atmosfer global kian kondusif, kita optimistis bahwa arus modal masuk ke Indonesia kian deras, baik ke portofolio maupun investasi asing langsung (foreign direct investment). Kini Indonesia ditaburi sentimen positif dan kita sepakat dengan pandangan Gubernur Bank Indonesia bahwa ke depan pertumbuhan ekonomi bakal semakin baik dengan stabilitas yang kian terjaga.

CLOSE