Bank Kian Solid

Investor Daily Rabu, 26 Desember 2018 | 10:15 WIB

Kenaikan suku bunga di Tanah Air yang dipicu normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat tidak membuat kinerja perbankan nasional goyah. Bahkan semakin mendekati pengujung tahun, kinerja perbankan kian berkilau. Baik menyangkut kinerja keuangan, performa dari sisi intermediasi, juga indikator-indikator tingkat kesehatan lainnya.

Hal itu terbukti dari data terbaru kinerja perbankan selama periode Januari-Oktober 2018. Selama periode tersebut, industri perbankan mampu mencetak laba bersih Rp 123,32 triliun, tumbuh 11,03% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 111,07 triliun. Laba bersih tersebut terutama ditopang pendapatan bunga bersih yang naik 5,12% dari Rp 296,08 triliun menjadi Rp 311,24 triliun. Pendapatan operasional selain bunga juga melonjak 15,48% menjadi Rp 221,84 triliun per Oktober.

Jika dibedah per kelompok bank, terlihat bahwa bank umum swasta nasional (BUSN) nondevisa mencetak pertumbuhan laba fantastis sebesar 122% dibandingkan Oktober tahun lalu (year on year/yoy). Kelompok bank persero menempati peringkat kedua dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 14,17%, dari Rp 52,63 triliun menjadi Rp 60,09 triliun. Kelompok BUSN devisa menempati posisi ketiga dengan laba bersih tumbuh 10,12%, sedangkan kelompok bank pembangunan daerah (BPD) tumbuh 6%. Yang kurang beruntung adalah kelompok bank asing dan bank campuran yang labanya masing-masing justru turun 2,84% dan 6,78%.

Penyaluran kredit pun cukup mengesankan, meningkat 13,34% hingga Oktober 2018 menjadi Rp 5.168 triliun. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,60%, sedangkan total aset mencapai Rp 7.877,8 triliun, naik 9,66% (yoy). Bank-bank masih menikmati net interest margin (NIM) rata-rata sebesar 5,13%.

Kinerja perbankan yang kian solid tersebut diiringi tingkat kesehatan yang bagus. Kondisi tersebut tercermin pada rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan yang mencapai 23,32%. Demikian pula rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross dan net perbankan masing-masing hanya sebesar 2,67% dan 1,14%. Return on asset (ROA) naik dari 2,49% menjadi 2,52%.

Data dan fakta tersebut merefleksikan bahwa sektor perbankan menunjukkan kondisi yang solid, stabil, serta menunjukkan kinerja intermediasi yang bagus. Berjalannya fungsi intermediasi juga merupakan sinyal bahwa sektor riil tetap bergairah. Pertumbuhan kredit dua digit dengan tingkat kredit bermasalah yang kecil merupakan bukti bahwa dunia usaha berjalan dengan baik.

Solidnya kinerja perbankan ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang masih terjaga, fundamental kinerja emiten yang relatif stabil, serta didukung berbagai kebijakan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) yang memberikan iklim kondusif bagi sektor keuangan secara umum, termasuk sektor perbankan.

Kinerja perbankan tersebut juga layak diapresiasi, jika melihat tekanan yang melanda pasar saat ini. Tekanan antara lain bersumber dari pelemahan nilai tukar rupiah, ketatnya likuiditas seiring tren kenaikan suku bunga, ketidakpastian global yang dipicu normalisasi kebijakan moneter The Federal Reserve Amerika Serikat, serta sengketa dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Outstanding kredit perbankan yang mencapai Rp 5.168 triliun juga menunjukkan peran vitalnya dalam pembiayaan pembangunan. Upaya pemerintah dan otoritas terkait agar pasar modal sedikit demi sedikit mampu menggeser peran perbankan dalam pembiayaan pembangunan ternyata belum menunjukkan hasil. Terbukti, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal selama Januari-Oktober 2018 hanya sebesar Rp 178,9 triliun, yang berasal dari penawaran umum perdana saham (IPO), penerbitan saham baru, serta penerbitan obligasi korporasi, medium term notes (MTN), dan negotiable certificate of deposit (NCD).

Meski demikian, kontribusi pasar modal dalam mobilisasi dana harus didorong habis-habisan, dengan memperkaya berbagai instrumen yang dapat dipakai untuk pembiayaan jangka panjang. Sebab kita tahu, karakteristik bank yang dana pihak ketiganya umumnya bertenor pendek, sangat tidak cocok apabila dipakai untuk pembiayaan jangka panjang, seperti infrastruktur. Sebab, hal itu berpotensi memicu terjadinya mismatch.

Dengan semakin berkembangnya sumber-sumber pembiayaan non-bank serta upaya pendalaman pasar keuangan yang lebih agresif, kita optimistis industri jasa keuangan di Indonesia akan kian solid dan maju. Bersamaan dengan itu, sektor perbankan pun akan semakin matang dengan pengelolaan yang kian prudent, tingkat kesehatan yang semakin terjaga, kian efisien, dan memiliki performa yang semakin cemerlang ke depan. Kondisi ini diyakini menjadi fondasi yang kuat untuk meraih performa yang lebih baik pada 2019.

CLOSE