Jangan Biarkan Teroris Berkembang

Suara Pembaruan Kamis, 3 Januari 2019 | 17:00 WIB

Kelompok teroris kembali berulah di Tanah Air. Meski aksi mereka tidak berskala besar, namun itu menunjukkan bahwa kelompok teroris di Indonesia masih eksis. Jika dibiarkan, sel-sel teroris baru akan muncul dan bisa menjadi duri dalam daging di Bumi Pertiwi.

Tanpa ada tindakan tegas, terorisme di Indonesia akan kembali subur. Untuk itu, aparat keamanan, khususnya Polri, harus terus memburu para anggota kelompok teroris itu di mana saja mereka berada. Polri perlu juga meningkatkan koordinasi dengan institusi lain, terutama Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI.

Setelah sempat mati suri, kelompok teroris kembali membuat ulah. Mereka menebar teror di pengujung 2018. Seorang warga di Poso, Sulawesi Tengah, ditemukan terbunuh dengan tubuh dimutilasi. Diduga kuat pelaku adalah kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, yang kini dipimpin Ali Kalora.

Aksi mereka tidak berhenti pada pembunuhan terhadap warga. Ketika aparat kepolisian hendak melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi pembunuhan, para teroris melakukan serangan. Dua polisi terluka, yakni Bripka Andrew Maha Putra (anggota Resmob Satgas 3 Tinombala) dan Bripda Baso (anggota Satuan Intelijen dan Keamanan Polres Parimo).

Ali Kalora disebut-sebut sebagai orang nomor tiga di jaringan teroris Poso. Setelah dua pemimpin kelompok itu, Santoso dan Basri, berhasil ditaklukkan aparat, Ali kini menjadi orang nomor satu di sana. Santoso tewas ditembak aparat pada Juli 2016. Sementara, Basri yang merupakan tangan kanan Santoso, ditangkap polisi pada September tahun yang sama.

Meskipun diperkirakan tidak berkekuatan besar, namun aksi teror kelompok Ali Kalora ini cukup meresahkan warga. Mereka disinyalir masih bisa eksis lantaran memiliki akses ke sumber logistik ke warga, baik yang bersimpati maupun yang terpaksa bersimpati karena diteror. Aksi mutilasi seorang warga yang dilakukan kelompok itu diduga sebagai bentuk pernyataan eksistensi jaringan ini.

Mantan Komandan Negara Islam Indonesia (NII) sekaligus pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan mengatakan, Ali selama ini memang diketahui berafiliasi dengan jaringan MIT yang beroperasi di wilayah Poso dan Parigi Moutong, Sulteng. Semula, kata Ken, Ali adalah penunjuk jalan bagi Santoso dan kelompoknya. Meski bukan seorang yang ahli dalam ibadah, namun Ali dikenal sebagai sosok pemberani dan nekad.

Jaringan Ali ini memang tidak besar, tetapi mereka memiliki kemampuan dan keberanian yang cukup tinggi. Hal itu yang membuat kelompok Ali bisa melakukan aksi kapan saja dan di mana saja mereka mau. Artinya, meski kecil, aksi nekad kelompok ini harus diwaspadai.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, sepanjang November hingga Desember 2018 sebanyak 21 orang terduga teroris ditangkap. Penangkapan itu dilakukan untuk mengantisipasi masalah keamanan perayaan Natal dan tahun baru. Sepanjang 2018, kata Kapolri, sebanyak 396 terduga anggota kelompok teroris yang ditangkap aparat.

Kapolri juga menjelaskan, aksi teror sepanjang 2018 naik 42% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, jumlah anggota Polri yang menjadi korban sepanjang 2018 juga meningkat sebanyak 72% dibandingkan 2017. Sedangkan, jumlah aksi teror sepanjang 2018 sebanyak 176 kejadian.

Dari 396 pelaku teror yang ditangkap Polri, sebanyak 141 orang sudah masuk dalam proses persidangan. Sebanyak 204 orang dalam proses penyidikan, 25 orang ditembak mati, 13 orang bunuh diri, 12 orang telah divonis, dan 1 orang meninggal dunia karena sakit.

Berdasarkan data-data itu yang dibeberkan Kapolri itu, eksistensi kelompok teroris di Tanah Air memang patut terus diwaspadai. Kita patut mencegah agar kelompok ini tidak menjadi besar dan menyebar ke pelosok Tanah Air. Jangan sampai di kemudian hari mereka menjadi ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, koordinasi di antara aparat keamanan, terutama TNI, Polri, BIN, dan kementerian terkait lain, sangat diperlukan. Kita mendorong agar mereka benar-benar melepaskan ego sektoral dalam upaya memberantas dan mencegah kembalinya kelompok teroris di Tanah Air.

Peraturan perundang-undangan yang menyangkut upaya pemberantasan terorisme harus diperkuat lagi. Jangan sampai kelompok-kelompok radikal kecil bermetamorfosis menjadi kelompok teroris besar hanya karena aparat keamanan yang tidak bisa bertindak akibat terkendala peraturan perundang-undangan itu. Dalam hal ini, perlu ada pemahaman yang sama terhadap ancaman teroris di seluruh lapisan masyarakat, khususnya para elite politik di parlemen.

Langkah deradikalisasi juga harus terus ditingkatkan dan dibenahi. Kita jangan lengah. Ketiadaan aksi teror berskala besar bukan berarti kelompok teroris sudah lenyap di negara ini. Mereka hanya tidur sebentar sambil menunggu momentum yang tepat untuk melakukan aksi teror. Ini harus diantisipasi.

Peran serta masyarakat juga perlu ditingkatkan untuk mencegah sel-sel teroris berkembang. Bila ada warga yang mencurigakan, masyarakat perlu proaktif dan tak perlu takut untuk melapor ke aparat kepolisian terdekat. Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masing-masing akan membuat kelompok ini sulit berkembang.

Masyarakat juga jangan permisif terhadap kelompok teroris. Sikap seperti itu justru akan membuat kelompok teroris secara perlahan tetapi pasti membesar. Ibarat kanker, perlahan-lahan mereka menggerogoti organ-organ tubuh. Kita baru sadar ketika kanker itu sudah berada pada stadium yang mengancam jiwa.

CLOSE