Mengendalikan Inflasi

Investor Daily Kamis, 3 Januari 2019 | 12:00 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Desember 2018 sebesar 0,62%. Dengan angka inflasi tersebut, maka inflasi tahun kalender 2018 dan secara year on year (yoy) tercatat 3,13%. Inflasi sepanjang 2018 tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya yang sebesar 3,61% dan juga dari target APBN 2018 sebesar 3,5%.

Rendahnya angka inflasi pada tahun lalu tak lepas dari upaya pemerintah mengendalikan harga-harga bergejolak atau volatile foods dengan menjaga ketersediaan bahan pangan. Pengendalian harga pangan sangat penting. Hal ini karena harga pangan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap garis kemiskinan.Terkendalinya laju inflasi tahun lalu juga karena kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga-harga yang diatur atau administered price seperti bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik. Tidak naiknya harga BBM dan tarif listrik memberi andil besar terhadap pengendalian laju inflasi, meski harus dibayar mahal dengan membengkaknya anggaran subsidi energi dalam APBN. Kebijakan tidak menaikkan harga BBM jenis premium berdampak berkurangnya laba yang diraih PT Pertamina (Persero) karena harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi dari harga jual.

Sepanjang tahun lalu, pemerintah tidak menaikkan harga BBM jenis premium. Justru pemerintah mengambil kebijakan membuka kembali penyediaan pasokan BBM premium di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali) yang sebelumnya hanya diperuntukkan di luar Jamali. Karena menanggung beban yang diakibatkan tidak adanya kenaikan harga BBM premium, Pertamina hanya membukukan laba bersih sebesar Rp 5 triliun hingga kuartal III-2018. Padahal sepanjang 2017, BUMN migas tersebut berhasil membukukan laba bersih hingga mencapai Rp 35 triliun.

Sedangkan demi menjaga harga solar, pemerintah tidak bisa menerapkan kebijakan yang sama seperti dilakukan untuk BBM premium. Akhirnya, pemerintah memutuskan untuk menaikkan alokasi subsidi solar menjadi Rp 2.000 per liter pada pertengahan tahun ini dari semula Rp 500 per liter. Tambahan subsidi sebesar Rp 1.500 per liter itu bersumber dari APBN.

Tidak hanya menahan harga BBM, pemerintah pun menetapkan tarif listrik di sepanjang tahun 2018 sama dengan tarif di tahun 2017, baik untuk pelanggan non-subsidi maupun bersubsidi. Karena tarif listrik tidak dinaikkan, sementara di sisi lain nilai tukar rupiah terus melemah dan terjadi kenaikan harga bahan bakar untuk pembangkit listrik, PT PLN (Persero) membukukan kerugian sebesar Rp 18,48 triliun pada kinerja kuartal III-2018. Padahal, sepanjang 2017 perseroan mampu mencetak laba bersih Rp 3,05 triliun.

Apapun upaya yang dilakukan untuk mengendalikan inflasi, kita mengapresiasi kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang berhasil menjaga laju inflasi di kisaran 3% selama empat tahun berturut-turut sejak 2015. Padahal pada 2014 laju inflasi mencapai 8,36%. Keberhasilan ini menjadi modal kuat bagi Joko Widodo yang kembali maju dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun ini.

Kinerja pemerintah yang berhasil menekan laju inflasi diyakini dapat berlanjut pada tahun ini. Optimisme tersebut tidaklah berlebihan sepanjang pemerintah dapat mengendalikan harga-harga pangan. Inflasi 2018 sebagian besar disumbang oleh bahan makanan sebesar 0,68%. Salah satu yang membutuhkan perhatian khusus adalah komoditas beras karena bobotnya yang tinggi terhadap inflasi. Kenaikan harga beras sekecil apapun akan memengaruhi laju inflasi. Pada tahun lalu, andil/sumbangan komoditas beras terhadap inflasi mencapai 0,13%.

Selain beras, pemerintah juga perlu mengendalikan harga telur ayam. Meski andilnya kecil, jika komoditas itu mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi maka akan memberi dampak cukup signifikan terhadap inflasi. Bobot telur ayam tehadap inflasi hanya 0,7%, tapi jika kenaikan harganya mencapai 15% maka akan berpengaruh besar terhadap inflasi secara keseluruhan.

Terjaganya harga pangan tahun lalu tak lepas dari koordinasi tim pengendalian inflasi di daerah maupun pusat. Koordinasi sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara sisi permintaan dan sisi penawaran komoditas pangan. Koordinasi yang baik akan membuat pergerakan inflasi yang disebabkan gejolak harga pangan bisa lebih terkendali. Di sisi lain, pengendalian harga pangan dapat terlaksana jika terjadi perbaikan jalur distribusi dan upaya memberantas penimbunan barang.

Selain menjaga harga pangan, pengendalian inflasi tahun ini dapat terjadi sepanjang harga yang diatur pemerintah tidak dinaikkan. Dari sisi komoditas, kenaikan harga bensin memberi andil terbesar yaitu 0,26% pada tahun lalu atau yang tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Pada 2017, andil bensin terhadap inflasi hanya 0,18%, sedangkan tarif listrik memberi andil tertinggi sebesar 0,81%.

Kita menaruh harapan kepada pemerintah dapat bekerja dengan baik untuk mengendalikan inflasi tahun ini yang ditargetkan sebesar 3,5% dalam APBN 2019. Terkendalinya inflasi akan meningkatkan daya beli dan selanjutnya dapat mendorong konsumsi masyarakat yang hingga kini masih menjadi kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) nasional.