2019 Lebih Baik

Investor Daily Rabu, 2 Januari 2019 | 11:00 WIB

Setiap memasuki pergantian tahun, kebanyakan orang membuat sebuah resolusi, menyandarkan bertumpuk harapan dan sebuah mimpi bahwa tahun baru akan lebih baik untuk segalanya. Untuk pribadinya, keluarganya, kerabat dan teman-temannya, juga untuk negerinya tentu saja. Sebuah harapan dan mimpi yang harus digenggam oleh setiap orang, karena di situlah tertanam bara semangat kehidupan.

Jika kita berbicara tentang harapan negeri ini di tahun 2019, tak berlebihan jika semua memiliki harapan yang lebih menjanjikan dari tahun sebelumnya. Apakah harapan itu realistis atau kelewat melambung, kita bisa berkaca pada pencapaian-pencapaian yang baru saja dilewati.

Tahun 2018 memang tak mudah bagi setiap negara karena diselimuti ketidakpastian tinggi dan anomali. Titik episentrumnya bersumber dari normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat lewat kenaikan suku bunga acuan (Fed funds rate/FFR). Sumber ketidakpastian kedua adalah sengketa dagang dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) melawan Tiongkok.

Dua isu utama itu membuat pasar finansial global terguncang turbulensi, utamanya negara-negara pasar berkembang (emerging markets). Tapi untunglah, menyudahi tahun 2018, bursa Indonesia berperforma paling berkilau di Asia Tenggara dan nomor dua di Asia Pasifik, meskipun sepanjang tahun berjalan, indeks harga saham gabungan (IHSG) harus terkoreksi 2,54%. Namun bursa negara lain terjerembab lebih dalam. Sedangkan nilai tukar rupiah terdepresiasi sekitar 7% selama 2018.

Bank Indonesia memprediksi laju inflasi 2018 diprediksi hanya sedikit di atas 3%, jauh di bawah target dalam APBN 2018 sebesar 3,5%. Kondisi fiskal hingga akhir Desember juga solid, dengan realisasi defisit yang diyakini bakal di bawah target, bahkan yang terendah sejak 2012. Itu terwujud karena realisasi penerimaan yang melampaui sasaran, diuntungkan oleh tingginya penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pembangunan infrastruktur besar-besaran akan menjadi daya dorong ekonomi dan menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan baru.

Pengaruh global tak semencekam tahun lalu. Bank Sentral AS diduga kuat hanya akan menaikkan dua kali suku bunga acuan, sementara tensi perdagangan AS-Tiongkok diramalkan bakal mereda.

Jika pun masih ada luka dalam perekonomian kita, itu adalah defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), akibat tekornya neraca perdagangan. Dari data bulanan selama 11 bulan 2018, kita hanya mengenyam surplus perdagangan pada Maret dan September. Neraca perdagangan Januari-November 2018 menderita defisit US$ 7,51 miliar, kontras dengan periode sama 2017 yang menorehkan surplus sebesar US$ 12,08 miliar.

Namun, tren CAD kian membaik, selaras dengan berbagai kebijakan pengetatan impor, penaikan tarif pajak 1.147 barang konsumsi, mandatori percampuran minyak sawit ke dalam bahan bakar minyak (BBM), kewajiban menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di perbankan nasional, serta membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya investor asing lewat relaksasi Daftar Negatif Investasi.

Atas dasar berbagai pancapaian itu, selayaknya kita melangkah ke 2019 dengan penuh optimisme. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, tak ada satu pun lembaga dan ekonom, baik domestik maupun asing, yang meragukan bahwa pada 2019 akan lebih baik dari 2018. Konsumsi masyarakat masih akan menjadi penghela utama, dengan kontribusi minimal 55% dari produk domestik bruto (PDB).

Konsumsi akan digairahkan oleh pesta demokrasi pemilu serentak, yakni pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) pada April. Pendongkrak sektor konsumsi lainnya adalah kenaikan upah minimum provinsi (UMP) setidaknya 8% dan laju inflasi yang diperkirakan tetap rendah sehingga menjaga daya beli masyarakat.

Pemerintah harus lebih fokus pada perbaikan CAD, terutama membenahi neraca perdagangan. Kreatif mencari pasar ekspor nontradisional, menjalin perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa kawasan penting, membenahi sektor industri hulu hingga hilir, mengekspor barang-barang bernilai tambah tinggi, mengerem impor migas, serta berbagai kebijakan strategis lain tak bisa ditunda untuk menyembuhkan dua penyakit kronis ekonomi nasional tersebut.

Penyelenggaraan pilpres dan pileg yang aman, lancar, dan damai akan menjadi gerbang pembuka investasi secara besar-besaran, baik domestik maupun asing. Pesta demokrasi yang aman akan mencairkan kecemasan pengusaha yang biasanya bersikap wait and see. Kesuksesan pemilu sekaligus menjadi barometer untuk menumbuhkan kepercayaan asing. Berdasarkan rekam jejak, kita memang sudah terbiasa sukses dalam menggelar pemilu.

Pemerintah juga masih punya agenda tersisa yang selama ini menjadi duri penghambat majunya ekonomi bangsa, seperti korupsi yang masif, perizinan yang berbelit, pelayanan birokrasi yang masih buruk, ekonomi biaya tinggi, lemahnya infrastruktur, mahalnya biaya logistik, rapuhnya struktur industri nasional, serta kelemahan dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) dan minimnya riset.

Kita tidak menutup mata bahwa petahana cenderung ingin melanjutkan kekuasaan. Segala strategi dicurahkan untuk memoles indikator-indikator kinerja. Itu sah-sah saja dan wajar, sepanjang fakta yang dipublikasikan adalah cerminan kondisi riil, bukan rekayasa. Justru itu, kita berharap para petinggi negeri ini tiada henti membenahi kelemahan yang ada. Jangan sampai tahun politik ini membuat mereka lupa tugas utamanya dan hanya fokus pada nafsu pemenangan.

Jalan menuju perbaikan ekonomi terbentang lebar. Negeri ini menyimpan banyak kekuatan dan keunggulan untuk mewujudkan perekonomian yang sesuai kapasitas riilnya. Kita berharap pemerintah, politikus, beserta lembaga terkait memiliki kesungguhan dan kemauan politik menuju jalan itu.

Selamat Tahun Baru 2019.