Euforia Pasar Finansial

Investor Daily Selasa, 22 Januari 2019 | 11:00 WIB

Negara-negara pasar berkembang (emerging markets) benar-benar tengah menikmati masa ‘bulan madu’ dengan para investor asing. Setelah tahun lalu harga saham di kawasan ini longsor sehingga indeks saham terpuruk setelah ditinggal kabur para investor asing, kini justru sebaliknya. Rally indeks saham seolah tak terbendung, dana asing pun deras membanjir masuk.

Tak terkecuali Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menampilkan performa yang meyakinkan. Pada penutupan perdagangan Senin (21/1), IHSG bertengger di posisi 6.480,83. Sejak awal tahun (year to date/ytd), IHSG mencetak gain 4,14%,melampaui beberapa indeks saham di Asean, seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Memang laju IHSG tidak sefantastis indeks saham di Argentina yang melejit hingga 15,87% atau Brasil yang melonjak 9,34% (ytd).

Animo asing masuk ke pasar portofolio ke emerging markets juga luar biasa. Di BEI, sejak pasar dibuka pada 2 Januari, tak ada satu hari pun asing mencatatkan net selling. Mereka terus memburu saham-saham bluechips, sehingga setiap hari terjadi net buying, bahkan pekan lalu selama tiga hari berturut-turut mencapai di atas Rp 1,5 triliun. Dengan perkembangan itu, asing telah mencatat net buying sebesar Rp 10,88 triliun (ytd). Kondisi ini amat kontras dengan suasana tahun lalu, ketika asing membukukan net selling senilai Rp 50,7 triliun.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), asing pun tak kalah agresif. Selama 14 hari perdagangan sejak awal tahun (ytd), asing telah memborong (bersih) SBN senilai Rp 11,16 triliun. Hingga kini asing masih memegang SBN senilai Rp 904,4 triliun, atau 37,5% dari total SBN yang dapat diperdagangkan.

Momentum positif di pasar modal tersebut harus benar-benar dijaga. Derasnya aliran modal asing masuk bukan hanya dipicu oleh melunaknya sikap Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang hanya akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini atau meredanya tensi perang dagang AS versus Tiongkok. Tapi mereka juga tertarik oleh potensi gain dari aset-aset finansial di emerging markets, termasuk Indonesia. Emiten-emiten yang tercatat di BEI memiliki fundamental yang kuat.

Namun, pemerintah dan otoritas terkait juga mesti mendorong diciptakannya instrumen keuangan lain di luar saham, SBN, obligasi korporasi, MTN, dan produk konvensional lainnya. Perlu diversifikasi produk yang lebih canggih. Di sinilah program pendalaman pasar keuangan perlu diakselerasi. Sebab, negara yang pasar keuangannya lebih dalam dengan produk derivatif yang kian beragam akan lebih resilien atau tahan terhadap setiap guncangan yang dipicu faktor eksternal.

Penegasan berulang-ulang Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk selalu ahead the curve dan mengkalibrasi suku bunga, memberikan sinyal bahwa bank sentral akan senantiasa menjaga daya saing instrumen keuangan di Indonesia.

Suasana kondusif di pasar keuangan tersebut perlu didukung oleh penguatan fundamental makro ekonomi dan kebijakan-kebijakan yang kondusif di sektor riil. Yang paling krusial adalah bagaimana pemerintah secara serius dan konsisten menekan defisir transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Berbagai kebijakan untuk menekan CAD yang sudah diluncurkan harus dikawal agar terimplementasi dengan baik.

Pemerintah juga harus fokus membenahi kondisi domestik, terutama memperbaiki iklim investasi. Paket-paket kebijakan ekonomi harus dijalankan. Kemudian berbagai kendala yang menghambat investasi dan menurunkan daya saing mesti segera diatasi. Di antaranya adalah berbelitnya perizinan mesti disimplifikasi, juga persoalan tumpang tindih dan tidak sinkronnya regulasi baik antara pusat dan daerah maupun antardaerah, tingginya biaya logistik, kurang memadainya dukungan infrastruktur, rendahnya produktivitas tenaga kerja, akutnya korupsi, dan buruknya kualitas birokrasi.

Kita optimistis, dengan berbagai sentimen positif yang menyelimuti saat ini, ditambah atmosfer global yang kian kondusif karena berkurangnya ketidakpastian, capital inflow ke negeri ini bakal kian deras. Pemerintah dan otoritas terkait harus menjaga kepercayaan investor asing dan menciptakan kebijakan yang prudent guna memperkokoh fundamental perekonomian. Euforia yang melanda investor asing dan diikuti investor domestik jangan sampai ternoda oleh hal-hal yang dapat merusak kepercayaan mereka.