Magnet Megawati

Suara Pembaruan Rabu, 23 Januari 2019 | 17:00 WIB

Hari ini, 23 Januari 2019, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri, genap berusia 72 tahun. Di usianya yang tergolong senja, Megawati tetap menjadi magnet politik di Tanah Air. Hal itu ditopang oleh konsistensi sikap dan perjuangannya selama 26 tahun tampil di panggung politik Tanah Air.

Sosok Megawati mulai diperhitungkan di kancah perpolitikan, saat terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam kongres di Surabaya, pada 1993. Kehadirannya sebagai pucuk pimpinan partai politik ternyata membuat gerah rezim Orde Baru. Akhirnya, dalam kongres di Medan pada 1996, Megawati diturunkan secara paksa, dan kepemimpinan PDI beralih ke tangan Soerjadi .

Namun, Mega melawan. Puncaknya adalah tragedi berdarah 27 Juli 1996, yakni perebutan secara paksa kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang dikuasai kubu Megawati, oleh kubu Soerjadi yang didukung pemerintah.

Peristiwa itu tidak menyurutkan sikap dan perjuangan politik Megawati, hingga pada 1999 dia mendirikan PDI-P. Sebagai partai baru, PDI-P langsung mendapat tempat di hati rakyat, terbukti, PDI-P memenangi Pemilu 1999 dengan meraih 33% suara.

Kemenangan PDI-P tersebut mengantarkan Megawati menjadi wakil presiden mendampingi Presiden KH Abdurrahman Wahid pada Sidang Umum MPR 1999. Dua tahun kemudian, dia diangkat menjadi presiden kelima hingga 2004.

Perjalanan politik Megawati tentu tak bisa lepas dari nama besar presiden pertama, Soekarno. Sebagai putri sulung Soekarno, Megawati mampu menjelma tidak hanya sebagai anak biologis, tetapi juga anak ideologis sang proklamator itu. Di tangan Megawati, nilai-nilai kebangsaan yang digali dan dicetuskan oleh Soekarno, dijadikan sebagai ideologi perjuangan partai yang dipimpinnya. Nilai-nilai itu tetap dipertahankan dan terus diperjuangkan agar tak lekang oleh zaman.

Megawati telah merasakan pahit getir perpolitikan di Tanah Air. Dia pernah merasakan sebagai penguasa. Di masa yang lain, Megawati bersama partainya memilih menjadi oposisi. Selama satu dekade, dia konsisten pada sikapnya dan tidak lantas menjadi pragmatis, sebagaimana lazimnya partai lain yang kerap tergiur oleh kekuasaan.

Konsistensi sikap tersebut atas kesadaran bahwa bahwa kehadirannya sebagai kekuatan politik adalah untuk mewujudkan ideologinya. Hal itu hanya bisa terwujud jika mampu menjadi penguasa dengan memenangi pemilu.

Setelah sepuluh tahun berada di luar pemerintahan, Pemilu 2014 menjadi momentum bagi Megawati dan PDI-P untuk kembali berkuasa. Naluri politiknya yang terasah membuatnya legowo menyerahkan kesempatan untuk kembali menjadi orang nomor satu kepada salah satu kader terbaiknya, Joko Widodo (Jokowi). Terbukti, Jokowi memenangi Pilpres 2014, dan PDI-P kembali menjadi kekuatan politik terbesar.

Pilpres 2014 boleh dikata menjadi salah satu tonggak sikap kenegarawanan Megawati. Sebagai ketua umum parpol besar dan masih memiliki pengaruh kuat di masyarakat, Mega masih berpeluang untuk maju sebagai capres, sebagaimana sejumlah ketua umum partai lainnya. Namun, kesempatan itu tidak digunakannya. Dia legowo dengan memberi mandat kepada Jokowi untuk maju sebagai calon presiden ketujuh RI. Keputusan mahapenting tersebut tentu tidak datang begitu saja, tentu melalui proses permenungan dan pemikiran yang sangat matang.

Pencapresan Jokowi oleh PDI-P, juga menunjukkan kebesaran jiwa keluarga besar Soekarno. Sebagai representasi anak biologis dan anak ideologis sang proklamator, Megawati tidak terpengaruh dengan “provokasi” sejumlah kalangan, bahwa dipilihnya Jokowi sebagai capres, akan menenggelamkan dinasti politik Soekarno.
Keputusan tersebut tentu didasari pilihan yang terbaik bagi partai dan tentunya bagi bangsa Indonesia. Dia tidak terpenjara oleh ego pribadi dan tradisi politik di Tanah Air bahwa seorang ketua umum partai adalah mutlak calon presiden.

Terbukti, nama Megawati tidak tenggelam. Sebaliknya, dia akan tetap disegani sebagai tokoh politik yang memberi warna dan pengaruh secara arif dan bijaksana pada perjalanan bangsa ini ke depan. Megawati tampil menjadi magnet dan patron politik di Tanah Air.

Demikian pula menghadapi Pilpres 2019, Megawati kembali memberi kesempatan kepada Jokowi. Dengan tidak menjadi capres, bukan berarti Megawati kehilangan peran dalam politik pemerintahan. Sebagai ketua umum partai, dia akan tetap menentukan sikap politik PDI-P di parlemen. Apalagi jika PDI-P kembali meraih kejayaan pada Pemilu 2019, sebagaimana diprediksi banyak lembaga survei. Peran Megawati sebagai nakhoda partai turut menentukan arah kebijakan pemerintah dan masa depan bangsa ini ke depan, sekaligus memastikan nilai-nilai kebangsaan yang digali oleh para pendiri Republik ini terjaga.