Lembaran Baru BTP

Suara Pembaruan Kamis, 24 Januari 2019 | 17:00 WIB

Mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama hari ini resmi bebas dari penjara. Setelah mendekam selama satu tahun delapan bulan dan 15 hari di Rutan Mako Brimob Kelapadua, Basuki keluar bui dengan citra baru.

Melalui surat yang ditulis dari balik jeruji besi, ia menyatakan ingin disapa dengan sebutan baru: BTP, singkatan dari nama resminya di akta kelahiran, Basuki Tjahaja Purnama. Sosok kontroversial itu seolah ingin memberi pesan telah dilahirkan kembali. Ia menanggalkan Ahok, sapaan akrab Basuki yang telanjur kondang sebelumnya.

Tak bisa dimungkiri, sampai saat ini sebutan Ahok membawa memori pada sebuah sosok yang bagi banyak orang dianggap bersih dan tegas, namun bagi sebagian lain dinilai keras, kasar, dan bahkan arogan. Penanggalan sapaan Ahok bisa dimaknai orang bermacam-macam. Salah satunya, BTP bisa jadi ingin menanggalkan kesan negatif dari sosok Ahok sebelumnya. Ia telah lahir kembali sebagai sosok yang sudah diperbarui dan perjalanan BTP layak menjadi bagian cerita sejarah.

BTP adalah sosok yang dikenal bersih sejak menjadi bupati Belitung dan kemudian menjadi anggota DPR pun dikenal sebagai pribadi yang bersih dan teguh dalam pendirian, sehingga dianggap keras dan terkesan arogan bagi kalangan yang punya sikap berseberangan. Hal itu sangat kentara saat ia menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.

Sikap tidak pandang bulu dan keras demi kepentingan warga membuat BTP berbenturan dengan DPRD soal APBD DKI Jakarta. Upaya-upaya curang melalui permainan anggaran secara terang-terangan dibuka melalui media massa. BTP membuat sistem agar birokrasi DKI Jakarta transparan dan akuntabel. Saking transparannya, rapat-rapat di Balaikota pun diunggah ke media sosial.

Sikap BTP yang ingin apa adanya menjadi bumerang. Kata-kata kasarnya di rapat dan ketika menegur warga yang melanggar aturan, dicap sebagai sebuah sikap arogan. Poin ini menjadi celah bagi lawan-lawan untuk menjatuhkannya.

Unggahan video BTP di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menyinggung soal Surat Al-Maidah 51 membawanya ke meja hijau. Video kunjungan kerja Ahok di ibu kota Kabupaten Kepulauan Seribu itu pun menjadi viral dan ramai setelah diunggah dan mengalami pemotongan dari rekaman keseluruhan oleh Buni Yani. Potongan video yang disebarluaskan melalui media sosial itu memicu massa berunjuk rasa.

Inilah awal kejatuhan BTP yang ketika itu tengah mencalonkan diri sebagai gubernur. Bersama cawagub Djarot Saiful Hidayat ia kalah bersaing dalam Pilkada 2017, dikalahkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Pada proses hukum terkait kasus penodaan agama, BTP divonis 2 tahun penjara. Putusan itu lebih berat dari tuntutan jaksa, yakni hukuman penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun. Menjadi catatan tersendiri di mana BTP begitu tegar dalam menghadapi proses hukum. Ia tidak mengajukan banding atas vonis tersebut.

Namun demikian, eks kader Gerindra ini mencoba melakukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung saat PN Bandung menjatuhkan vonis kepada Buni Yani atas pengunggahan potongan video pidato BTP. MA menolak permohonan PK-nya.

Selama menjalani hukumannya, BTP mendapatkan 3 kali remisi. Ia juga sempat mendapat tawaran bebas bersyarat pada Agustus 2018 setelah menjalani dua pertiga masa tahanan, namun kesempatan itu tak diambilnya. Ia memilih menjalani hukumannya sampai tuntas.

Melalui surat yang dikirim dari balik penjara, BTP mengungkapkan bagaimana ia dengan besar hati melalui proses hukuman. Apa yang telah dialaminya di penjara menjadi bagian pelajaran dalam kehidupan untuk melangkah lebih baik menyongsong masa depan. Apa yang dianggap tidak baik menurut norma dan aturan hukum ditanggalkan.