Pemilu Adalah Harapan

Investor Daily Rabu, 6 Februari 2019 | 11:00 WIB

Di beberapa belahan dunia lain, pemilihan umum (pemilu) mungkin dianggap momok. Di Indonesia, pemilu adalah harapan. Harapan terhadap membaiknya perekonomian nasional, harapan terhadap meningkatnya kesejahteraan rakyat. Pemilu bukan perhelatan yang menakutkan.

Meski pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) baru akan digelar serentak pada 17 April mendatang, gelembung-gelembung harapan yang diletupkannya sudah merebak di mana-mana, termasuk di lantai bursa. Sejak awal tahun hingga Senin (4/2) lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 4,63%.

Penguatan IHSG secara konsisten menumbuhkan ekspektasi kuat bahwa pasar saham domestik tahun ini akan mengalami musim semi yang panjang, tidak layu dan meranggas seperti tahun silam. Pada 2018, saham-saham di BEI sempat rally pada awal tahun, namun akhirnya terkikis dan berguguran. Pada pengujung tahun lalu, IHSG menipis 2,54%.

Aura positif pemilu juga menjalar ke pasar valuta asing (valas). Nilai tukar rupiah selama tahun berjalan (year to date/ytd) menguat 3,6% ke level Rp 13.978 per dolar AS. Tahun lalu, mata uang NKRI melemah 6,4% di posisi Rp 14.481 per dolar AS. Bila tahun lalu rupiah melenceng jauh dari asumsi APBN sebesar Rp 13.400 maka tahun ini rupiah justru diperkirakan lebih perkasa dari asumsi APBN yang dipatok Rp 15.000.

Wajar bila para investor asing ramai-ramai masuk kembali ke pasar saham domestik dan membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 13,99 triliun selama tahun berjalan. Sepanjang tahun lalu, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 50,75 triliun. Para investor asing diyakini bakal bertahan di bursa saham dalam negeri setidaknya sampai akhir tahun.

Tak hanya melantai di bursa saham, para investor asing juga masuk secara masif ke pasar surat berharga negara (SBN). Sejak awal Januari hingga 1 Februari lalu, posisi kepemilikan asing mencapai Rp 912,84 triliun dibanding Rp 893,25 triliun per 31 Desember 2018. Selain memborong surat utang negara (SUN), asing juga membeli surat berharga syariah negara (SBSN).

Penguatan rupiah, laju positif IHSG, aksi beli saham, dan meningkatnya kepemilikan investor asing di SBN mencerminkan banyak hal, salah satunya bahwa para pemodal –baik asing maupun lokal-- percaya terhadap prospek perekonomian Indonesia. Mereka yakin instrumen investasinya menjanjikan keuntungan sejalan dengan membaiknya perekonomian di negeri ini. Itu artinya, para investor optimistis pemilu bakal berlangsung aman, tertib, dan demokratis.

Optimisme para investor bukan tanpa alasan. Bangsa Indonesia sudah berpengalaman menggelar pesta demokrasi secara terbuka sejak 2004. Pemilu langsung yang diselenggarakan sejak 15 tahun silam berlangsung aman dan damai. Tak ada konflik, baik vertikal maupun horizontal, selama pilpres dan pileg digelar di Tanah Air. Berkat keberhasilannya menyelenggarakan pemilu langsung, Indonesia kerap disebut etalase demokrasi dunia.

Sukses bangsa Indonesia menggelar pemilu selalu direspons pasar. Pada Pemilu 1999, IHSG melonjak 70,06%, kemudian pada musim Pemilu 2004 melejit 44,56%, pada Pemilu 2009 melesat 86,98%, dan pada Pemilu 2014 melompat 22,29%. Data-data empiris menunjukkan para investor di lantai bursa selalu mengapresiasi pemilu yang aman dan damai. Para pemodal yakin siapa pun yang terpilih pasti punya kapabilitas dan terlegitimasi (legitimate).

Tentu bisa dipahami bila aura positif juga menyelimuti Pemilu 2019. Dua bulan menjelang pesta demokrasi, seperti pemilu-pemilu sebelumnya, para pelaku pasar punya ekspektasi tinggi bahwa pilpres dan pileg serentak bakal berlangsung aman dan damai. Maka bila tidak berinvestasi sekarang, mereka bakal ‘ketinggalan kereta’.

Kecuali dipompa ekspektasi pemilu yang aman dan damai, pasar saham sedang diterpa sentimen positif dari pasar global. The Fed awalnya digadang-gadang bakal menaikkan suku bunga acuan (fed funds rate/FFR) dua kali tahun ini dibanding empat kali pada 2018. Belakangan muncul asumsi bahwa FFR akan naik lebih dari dua kali. Namun, pekan lalu, The Fed memberikan sinyal bahwa FFR hanya akan naik dua kali pada 2019 sesuai rencana awal.

Kenaikan FFR yang landai (dovish) dari level 2,25-2,50% saat ini memberikan keuntungan bagi negara-negara emerging markets, seperti Indonesia. Dengan kenaikan suku bunga yang konservatif, para pengelola hedge fund akan menganggap instrumen investasi di AS tak seatraktif dulu. Itu artinya, mereka akan mencari negara yang menawarkan keuntungan investasi (return) lebih tinggi.

Situasi ekonomi global makin berpihak kepada negara-negara dunia ketiga setelah tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok mereda, apalagi muncul prediksi bahwa kedua negara akan mengakhiri perang dagang di meja perundingan pada Maret mendatang. Meredanya perang dagang akan memutus ketidakpastian global. Perang dagang, selain isu kenaikan FFR, turut memicu gejolak pasar finansial global selama ini. Itulah yang menyebabkan rupiah dan pasar saham gonjang-ganjing dalam setahun terakhir.

Di luar itu nyaris tidak ada isu negatif yang bisa menyebabkan pasar finansial global bergolak lagi. Isu Brexit, perlambatan ekonomi Tiongkok, kenaikan harga minyak mentah, dan terhentinya operasional (shutdown) pemerintahan AS, juga meredup. Bila kondisi ekonomi global ke depan kian kondusif, pasar saham bisa terus rally.

Tantangan ke depan justru ada di dalam negeri, dengan asumsi tak ada perkembangan yang mengejutkan dari pasar global. Kondusifnya perekonomian dunia akan menjadi pembuktian apakah pemerintah mampu memanfaatkan momentum untuk mendongkrak perekonomian nasional yang sejatinya masih bisa tumbuh 6-7% per tahun, bukan cuma 5%. Pemerintahlah yang akan memastikan musim semi itu berlangsung lebih singkat atau lebih panjang.

Jika memang tahun ini pemerintah menjadikan investasi langsung (direct investment) dan ekspor nonmigas sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, sekaranglah saatnya menyervis, menyetel, dan memodifikasi mesin tersebut. Ke depan, siapa pun presiden terpilih, mesin pertumbuhan ekonomi kita harus lebih andal, lebih akseleratif, dan lebih responsif agar angka kemiskinan dan pengangguran turun signifikan, agar bangsa ini maju dan sejahtera.